Showing posts with label Komposter Anaerob. Show all posts
Showing posts with label Komposter Anaerob. Show all posts

Tuesday, April 14, 2009

ANAEROB 3 LUBANG ABC DALAM 1 SERI

Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 15 April 2009
Foto: Sobirin, 2009, Seri Komposter Anaerob

Oleh: Sobirin

Komposter anaerob lubang tanah memang serba guna. Ukurannya 60cm x 60cm dan kedalaman 100cm. Semua bahan organik, segar dan busuk, boleh masuk ke dalamnya. Saya membuat seri 3 lubang, untuk sampah segar (A), setengah matang (B), dan kompos matang (C).




Komposter anaerob dibuat dengan menggali lubang di tanah, ukurannya sedang-sedang saja. Galian tidak disemen, kecuali sekitar 1 bata atau 10 cm di bagian permukaan, yaitu untuk menjaga supaya tidak runtuh. Lubang tanah ini kemudian ditutup dengan beton tipis.

Oleh sebab saya sangat senang dengan komposter anaerob jenis ini, kemudian saya membuat 1 seri komposter yang terdiri dari 3 lubang, ukuran masing-masing lubang sama, dengan jarak antara tiap lubang sekitar 50 cm.
Lubang A untuk sampah baru, baik daun segar, sayur busuk, kotoran hewan, bahkan bangkai tikus. Lubang B untuk kompos setengah matang (berasal dari lubang A bagian lapisan bawah yang telah mulai terurai). Lubang C untuk kompos hampir jadi (berasal dari lubang B bagian lubang bawah yang sudah banyak mengalami penguraian).

Pemberian MOL sebagai starter harus intensif, terutama pada lubang A, yaitu agar proses penguraian lebih cepat berlangsung. Pemberian MOL secukupnya 3 hari sekali di lubang B. Pemberian MOL seminggu sekali di lubang C. Lubang-lubang tadi kemudian ditutup dengan beton tipis, agar proses anaerob berlangsung.


Kelebihan komposter anaerob ini antara lain sampah tidak perlu dipotong-potong kecil-kecil, jadi apa adanya saja. Tidak ada bau keluar, karena ditutup beton tipis. Semua jenis sampah organik bisa masuk, sehingga rumah kita bebas sampah organik, pekarangan rumah juga bersih. Kompos di lubang C siap dipanen setiap saat diperlukan.


Adapun kelemahannya yaitu tidak bisa dipraktekkan pada daerah atau pekarangan yang air tanahnya dangkal, sebab air lindi akan langsung masuk ke air tanah.

Read More..

Tuesday, October 7, 2008

SEKALI LAGI KOMPOSTER ANAEROB SERBA GUNA

Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 7 Oktober 2008
Foto: Sobirin 2008, Komposter Anaerob Serba Guna

Oleh: Sobirin

Saya memang sangat happy dengan komposter anaerob. Komposter ini berupa lubang yang digali di tanah, ukuran 60 cm x 60 cm, kedalaman 1 m. Tidak disemen, telanjang langsung tanah, kecuali bagian atasnya setebal 1 (satu) bata agar tidak longsor dan untuk ganjal tutup beton.




Ke dalam komposter ini dimasukkan bahan-bahan organik apa saja. Ada sampah dapur, ada sampah halaman rumah, ada sayur bekas, ada sisa air kopi. Segala macam masuk. Bahkan bangkai tikus pun tidak apa-apa, masukkan saja.

Sebelum plat beton ditutupkan, lubang di siram MOL, boleh pekat, boleh rada encer, kemudian di bagian atasnya ditaburi tanah setebal 5 cm. Baru kemudian plat beton ditutupkan.


Apakah berbau? Tidak ada bau. Pertama, lapisan atas bahan kompos sudah dilapisi tanah 5 cm, kemudian ditutup plat beton. Jadi tidak ada bau.

Sampah dalam komposter anaerob lubang tanah ini selalu menyusut, sehingga memungkinkan memasukkan lagi bahan-bahan kompos yang baru, demikan seterusnya.

Dalam tempo 1 (satu) bulan, bisa saja komposter anaerob ini dipanen. Kita gali semua bahan-bahan yang ada di dalam lubang. Kenampakannya sangat menarik. Lapisan teratas boleh dikata masih “segar”, lapisan di tengah telah menjadi setengah matang, dan lapisan paling bawah telah menjadi kompos matang.

Kompos yang matang bisa diayak untuk mendapatkan kompos halus super. Kompos setengah matang, yang relatif sudah sangat lunak bila diremas dengan tangan, kita masukkan ke dalam komposter aerob bata terawang, untuk diproses lebih lanjut dengan cara aerob. Dengan cara memanfaatkan kompos setengah matang ini, kita tidak perlu lagi merajang atau mencacag bahan dedaunan dengan golok.

Kemudian kompos lapisan teratas yang masih “segar” kita masukkan kembali ke dalam lubang tanah, ditambah bahan kompos baru, agar diproses secara anaerob. Demikian seterusnya.


Saya memiliki 4 (empat) komposter anaerob lubang tanah. Jadi panennya bisa bergantian. Memang saya happy dengan komposter anaerob serba guna cara ini.

Read More..

Thursday, July 31, 2008

KOMPOSTER ANAEROB SERBA GUNA

Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 1 Agustus 2008
Foto: Sobirin 2008, Meremas Kompos Setengah Matang
Oleh: Sobirin
Pekerjaan yang kurang menyenangkan ketika membuat kompos adalah ketika harus mencacag daun-daun bahan kompos menjadi ukuran kecil-kecil. Saya menyiasati dengan memanfaatkan komposter anaerob lubang tanah. Kompos 1/2 matang saya ambil, daun-daun telah lunak dan mudah hancur diremas.



Beberapa kali saya mencoba dengan siasat seperti itu, ternyata lebih mudah dari pada mencacag dengan bedog/bendo/parang. Bila kurang hati-hati, bisa-bisa jari tangan kena bedog. Saya memang merasa puas dengan komposter anaerob lubang tanah ini. Boleh dikata serba guna.

Semua sampah bahan organik dimasukkan saja ke dalam komposter anaerob lubang tanah. Tidak perlu dipotong-potong. Selanjutnya dibasahi dengan MOL, lalu tutup dengan tutup plat beton tipis. Proses memasukkan sampah organik ini terus dlakukan hingga lubang tanah penuh. Saya melakukannya tidak diaduk, tapi terus ditambahkan saja bahan-bahan yang segar di lapisan atasnya.
Bila perlu dipadatkan dengan cara diinjak-injak.

Memang perlu waktu sampai 1 bulan untuk menjadi bahan kompos ini bisa disebut 1/2 matang. Bila dipanen, lapisan paling atas masih segar, lapisan di tengah 1/2 matang, tetapi di lapisan paling bawah benar-benar sudah mengurai menjadi butir-butir kompos matang seukuran butiran tanah.

Bahan kompos yang 1/2 matang ini warnanya kecoklatan agak hitam. Bila diremas mudah hancur menjadi kecil-kecil. Hancuran kompos 1/2 matang ini lalu diproses lanjut dimasukkan ke dalam komposter aerob bata terawang untuk lebih disempurnakan menjadi kompos matang. Diaduk dan diberi MOL tiap 3 hari. Untuk menjadi kompos yang baik perlu waktu sekitar 2 minggu. Selamat mencoba.

Read More..

Saturday, March 1, 2008

CHRISTINE INGIN KOMPOSTER ANAEROB GENTONG

Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 1 Maret 2008
Foto: Sobirin 2008, Komposter Anaerob Model Jl Alfa Bandung
Oleh: Sobirin
Christine pemilik blog http://myblog-christine-christine.blogspot.com/ di Semarang ingin mencoba komposter anaerob gentong. Kreativitas kompos-mengompos memang harus terus dikembangkan agar rumah kita zero waste. Model milik saya memang lain, tapi analogi-nya sama dengan keinginan Christine. Tanya jawab lewat email dan blog begini.....


Pak, saya sudah niat mau bikin kompos anaerob agar saya tidak lagi membuang sampah organik. Sekarang ini saya masih mencari kuali/ gentong tanah liat yang akan digunakan sebagai wadah.

Bagus, pakai drum plastik model Adhi, atau pakai kuali atau gentong seperti keinginan Christine semuanya bisa. Tanpa kuali atau gentong atau drum plastik juga bisa, yaitu seperti model punya saya. Tanah digali 60 cm x 60 cm x 100 cm, seluruh galian langsung tanah, hanya bagian atasnya 1 bata di semen agar tidak runtuh. Tutupnya dengan plat beton tipis. Keterangan mengenai komposter model saya ini ada tertulis dalam artikel di blog ini beberapa waktu yang lalu. Tetapi kalau Christine ingin mencoba dengan gentong, bagus sekali. Analoginya sama dengan model saya.


Sementara belum ketemu wadahnya, saya ingin tahu lebih jauh tentang kompos anaerob ini. Sehingga jika nanti wadahnya sudah ada saya bisa langsung mempraktekkannya. Apa sebenarnya arti anaerob?

Kalau mau pakai gentong, cari gentong yang ukuran paling tidak 1/2 meter kubik dengan dinding gentong agak tebal, agar tidak mudah pecah bila tersenggol orang. Jangan lupa, cari tutup gentong yang pas dan rapat, bisa memakai cowet tanah (yang untuk membuat sambel) yang ukurannya pas mulut gentong.
Proses pengomposan anaerob adalah proses pengomposan tanpa menggunakan oksigen (O2), hasilnya adalah kompos yang mengeluarkan gas metana, CO2 dan senyawa seperti asam organik, berbau, dan sering muncul belatung. Sedangkan proses pengomposan aerob adalah proses pengomposan dengan menggunakan oksigen (O2), hasilnya adalah kompos yang mengeluarkan CO2, uap air, dan panas. Baik aerob maupun anaerob, hasil komposnya sama saja, kualitasnya juga sama saja.

Saat akan memulai kompos anaerob, apa yang pertama kali harus saya masukkan ke dalam kuali atau gentong? Tanah? Pasir? Kompos? Dan seberapa banyak?

Pertama, masukkan tanah kedalam gentong, kira-kira 1/5 isi gentong. Untuk apa tanah ini? Tanah berfungsi menyerap lindi yang mungkin keluar selama proses berlangsung.

Ketika saya memasukkan bahan kompos, apa perlu diaduk? Apakah unsur C/N juga diperhatikan dalam pengomposan ini?

Bahan kompos organik apapun dimasukkan saja semuanya. Bisa sayur busuk, bisa nasi basi, bisa sisa kopi atau teh bekas tamu, sisa telur, daging, kulit udang, apapun. Memang sebaiknya ada pengadukan untuk membolak-balik bahan kompos, tidak sesering aduk-mengaduk seperti dalam proses aerob. Bau pasti muncul, hanya sebentar, oleh sebab itu proses aduk mengaduk dilakukan secepatnya, lalu gentong segera ditutup kembali. Jangan lupa tambahkan MOL boleh pekat secukupnya, jangan basah kuyup. Aduk lagi, dan terakhir lapisi dengan tanah setebal 2 cm, untuk menahan bau agar tidak keluar, lalu terakhir tutupkan cowet dimulut gentong. Alat pengaduknya agak lain. Bisa seperti ujung garpu yang agak dibengkokkan, tetapi pegangannya panjang, karena untuk menyesuaikan dengan lebar mulut gentong dan kedalaman gentong. Perkara C/N tidak perlu diperhatikan.


Apakah tulang dan duri/ sisik ikan mentah juga bisa dimasukkan?

Duri ikan mudah mengurai, tetapi tulang ayam atau tulang sapi sulit mengurai. Tidak apa-apa, masukkan saja, agar sisa-sisa daging yang menempel berproses. Soal tulang yang tidak mengurai biarkan saja, nanti kalau kompos jadi bisa disingkirkan.


Kalau sayur basi harus ditiriskan dulu atau tidak? Perlu dipotong kecil-kecil juga?
Masukkan saja dengan kuahnya, tidak perlu dipotong-potong, karena sayur basi sudah lunak. Kecuali kalau ada bahan yang ukurannya besar atau lebar, misalnya wortel atau waluh yang tidak terpakai atau daun pisang, perlu juga dipotong kecil-kecil.


Untuk sisa nasi, roti, sayur yang tidak mengandung protein sebaiknya dikomposkan dengan cara apa. Aerob atau anaerob?

Sisa nasi, roti, sayur yang tidak mengandung protein bisa dikomposkan dengan cara aerob atau anaerob. Bisa cara dua-duanya.


Kalau bagian bawah kuali atau gentong tidak berlubang, bagaimana dengan air lindi yg keluar? Apakah bisa menjadikan komposnya ‘becek’?
Kalau gentong diberi lubang-lubang kecil di pantatnya, risikonya ada air lindi yang menetes keluar, nanti bisa menjijikkan. Ada dua solusi. Pertama tidak perlu dilubangi, tetapi pada awal sebelum bahan kompos pertama masuk, maka gentong perlu di isi tanah dulu, barang 1/5 isi gentong, seperti dijelaskan di atas. Kedua, bila gentong ingin dilubangi di bagian pantatnya, maka sebaiknya pantat gentong di tanam dalam tanah, hanya pantatnya saja, supaya air lindi yang keluar mengalir keluar berproses langsung dengan tanah. Model yang berlubang ini seperti modelnya Adhi, atau juga dalam skala alam seperti model kepunyaan saya yang langsung berhubungan dengan tanah.
Bisa saja proses kompos ini menjadi ‘becek’, tergantung dari bahan yang masuk banyak kandungan cairan atau tidak. Tidak apa-apa. Solusinya bisa dicampurkan dedak beras yang halus (bukan sekam), diaduk saja sampai tidak becek.

Pengomposan ini pasti menimbulkan bau kan… terus sebaiknya wadah diletakkan dimana agar tidak mengganggu tetangga sekitar?

Kalau gentong tertutup baik dan tidak retak, maka bau tidak akan keluar. Bau akan keluar saat tutup dibuka. Bisa terjadi dinding luar gentong menjadi lembab, tetapi tetap tidak akan bau. Wadah diletakkan di mana saja, taruh dihalaman atau di pojok luar rumah. Gentong bisa dicat warna-warni, ditulisi apa saja, bisa sebagai bagian hiasan di luar rumah. Tetangga sama sekali tidak akan terganggu. Saya memiliki 4 (empat) komposter anaerob dan 1 (satu) komposter aerob tidak ada bau keluar, dan tetangga happy-happy saja.


Apakah wadah juga tidak boleh terkena hujan dan sinar matahari langsung?

Boleh saja kena hujan, atau kena matahari langsung, tetapi sebaiknya di bawah pohon agar teduh.


Sampai wadahnya penuh, butuh berapa lama agar bisa jadi kompos?
Wah ini tergantung dari bahan yang dipakai. Tetapi agak lebih lama sedikit dibanding aerob. Ada hal menarik yang perlu disimak. Anehnya gentong anaerob ini akan lama penuhnya, walaupun setiap kali diisi. Kalau penuh, jangan dipaksa, nanti gentong bisa pecah. Tetapi dalam waktu seminggu setelah penuh, bahan kompos menyusut, dan gentong bisa diisi lagi. Demikian seterusnya. Gentong ukuran 1/2 meter kubik ini bisa-bisa baru penuh dalam waktu 6 bulan bahkan 1 tahun. Nah, silahkan setelah itu dipanen.


He..he… banyak ya pak pertanyaannya…. Saya kan mesti siap mental dulu sebelum maju perang…. Kalau soal muncul belatung saya sadah biasa…. Tapi kalau timbul bau saya harus belajar mengatasinya dulu, salah-salah nanti saya diprotes orang se-RT….
Selamat mencoba, saya percaya tetangga tidak akan terganggu, asal proses pengerjaannya benar. Kecuali..........gentongnya ketabrak orang lewat, pecah.......dan kompos tumpah ruah.....waaaah baunya bisa layaknya seperti "bom nuklir", terutama kalau komposnya belum jadi karena sedang berproses, baunya menyebar kemana-mana, dan lama hilangnya. Siap-siap saja rumah Christine di-demo tetangga.


Sekarang saya mau Tanya soal berkebun ya pak, boleh kan…

Boleh!


Saya sedang mencoba tanam kangkung dalam pot. Sudah tinggi, 10 cm-an tapi sebagian timbul bintik-bintik putih. Bagaimana cara mengatasinya? Apa bapak juga punya pestisida organik buatan sendiri?
Kangkung saya juga pernah mengalami hal serupa. Buru-buru saya bersihkan dengan air pelan-pelan (di-lap pelan-pelan), lalu disemprot dengan air menggunakan alat penyemprot air kecil (yang biasa untuk menyemprot air ke baju yang akan disetrika). Cukup air biasa saja. Tetapi ada juga saya mencontoh teman-teman penghobby tanam-tanaman organik. Yang saya contoh adalah dengan air tembakau (tembakau di tukang rokok yang murahan), airnya disemprotkan. Bisa juga dengan daun sirsak (nangka belanda). Daunnya ditumbuk, campur air, disaring, semprotkan ke daun yang ada hamanya. Banyak kreativitas pestisida organik, ada yang menggunakan daun mimba, daun suren, gadung. Tetapi cari saja yang mudah dan banyak disekitar kita.


Udah, cukup segini dulu pak, sebelumnya, terimakasih banyak (Christine).

Sama-sama, terimakasih kembali. Jangan takut mencoba-coba, semoga sukses. Saya happy dengan hasil kompos anaerob saya (Sobirin).

Read More..

Monday, February 25, 2008

KOMPOSTER ANAEROB DI RUMAH NUGROHO ADHI

http://alonrider.wordpress.com, 25 Februari 2008
Foto: Nugroho Adhi 2008, Komposter Anaerob Rumah Nugroho Adhi

Teman saya Nugroho Adhi menyampaikan pengalamannya dalam berkompos anaerob. Untuk tukar pengalaman silahkan baca KOMPOSTER ANAEROB, Oleh: NUGROHO ADHI berikut ini, atau bisa langsung di http://alonrider.wordpress.com



KOMPOSTER ANAEROB
Oleh NUGROHO ADHI

sopogondrong@yahoo.com


Keselamatan diri sendiri tentu akan lebih afdol bila menyertakan keselamatan lingkungan di sekitarnya. Lebih dari setahun lalu, saya berusaha keras membiasakan diri (dan keluarga) memisahkan sampah organik dan organik.

Kebetulan pada akhir 2006 saya bertemu dengan staff Unilever yang menangani persoalan lingkungan, di kantornya, Gatot Subroto, Jakarta Selatan.


Dari situ saya mendapat ilmu pengkomposan melalui komposter aerob dan an-aerob. Komposter aerob ala Unilever Peduli (UPI) saya kurang tertarik, karena proses pembuatannya agak rumit, dan cenderung mahal. Belum lagi biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan dasarnya lumayan mahal, gak cocok untuk orang kampung seperti saya ini...hehehe..


Saya pilih model komposter anaerob, karena gak terlalu rumit, dan ringan di ongkos. Lagi pula komposter jenis ini PEMAKAN SEGALA sampah organik. Dari nasi basi, roti, bekas sayur, kulit telur (diremuk dulu), sisa ikan, dan lain-lain. Pokoknya sampah organik yang mengandung protein, dan bakal menimbulkan bau busuk dalam proses penguraiannya.


Sebenarnya bisa saja langsung digali di tanah (seperti cara Pak Sobirin yang baru belakangan saya nemu situsnya di http//:clearwaste.blogspot.com. Karena halaman saya kecil, saya pilih pakai tong plastik yang mudah dipindah bila diperlukan. Tong juga praktis, karena ada tutupnya.


Untuk komposter Aerob (sampah organik segar), saya pakai model karung ala Pak Sobirin. Karena murah meriah. Apalagi MOL-nya bikinan sendiri, dari bahan dasar tapai singkong (peuyeum, gula pasir/gula merah, dan air).

Ini cara membuat tong komposter Anaerob :

Pertama: Pipa PVC diameter 1,5 inchi, ukuran 1 meter, dibagi 4 @ 25 cm. Pipa ini fungsinya sebagai "pernafasan" melalui tanah, karena proses kompsonya tak perlu udara (an-aerob). Pipa dibolongin pakai bor atau solder. Lalu salah satu ujungnya ditutup dop. Pipa dibungkus kawat nyamuk (plastik) dan di lem.

Kedua: Tong plastik ukuran sedang (sesuai keinginan). Harganya (di tempat saya, Cibinong) sekitar Rp 30 ribu. badan tong dan pantat (dasar) dilobangi pakai bor ukuran 10. Lebih banyak semakin bagus.


Ketiga: Setelah dirakit, tong ditimbun ditanah. Sebelumnya masukan dulu kerikil secukupnya, diikuti pasir, dan ijuk.


Keempat: Timbun sampai penuh, hanya bagian tutupnya yang nampak. Ratakan dan tanami rumput di sekitarnya. Komposter siap digunakan.


Di rumah saya ada 3 komposter semacam ini, 2 tong ukuran sama, dan 1 tong lebih besar. Dua tong itu sudah penuh dalam waktu setahun, dan sekarang sedang dalam proses kompos. Kenapa penuh? Karena dulu semua sampah organik saya masukan ke tong-tong itu. Lagi pula saya malas mencacahnya kecil-kecil.

Setelah dapat ilmu baru dari Pak Sobirin, kini sampah organiknya saya pilah-pilah lagi. Yang segar saya masukin komposter karung dan MOL, yang sisa makanan saya masukin komposter an-aerob.


Kembali ke komposter anaerob

Tong kecil pertama, pernah saya panen akhir 2007 lalu. Dari awal kira-kira butuh waktu 10 bulanan untuk bisa dipanen. Setelah dipanen, dijemur dulu, agar tidak terlalu basah. Panenan pertama itu belum saya pakai sendiri, tapi saya berikan tetangga yang mau memupuk tanamannya.


Sebelum lupa, bila berniat menggunakan komposter jenis ini, Anda harus siap lahir batin.

Pertama,
ada ratusan belatung di dalamnya selama proses pembusukan. Ukurannya cukup membuat Anda geli. Tapi karena saya sudah berniat dan terbiasa, hal itu bukan hal yang menjijikan lagi. Bahkan ada warga kampung sekitar kompleks yang memintanya untuk dijadikan umpan memancing. Dia bisa cari belatung di tumpukan sampah. Ini belatung saya lebih "bersih", hihihihi....


Kedua, bau? Tentu saja, karena prosesnya khan mirip dengan septic tank rumah kita. Coba kalau septic tank dibuka bagaimana baunya? jangan khawatir baunya masih "normal" kok, tidak sebusuk septic tank. Ya agak-agak mirip comberan gitulah.

Lagi pula membukanya hanya sebentar, ketika Anda memasukkan sampah organik basi ke dalamnya. Habis itu tutup lagi. Beres.
Untuk jenis sampah organik basi, seperti yang saya sebutkan di awal tulisan, komposter jenis ini sangat berguna.

Saya suka jenis ini karena POWERFULL mengolah sampah organik basi yang sangat mengganggu lingkungan sekitar kita bila dibiarkan ngendon di tempat sampah konvensional.
Bagaimana? Tertarik?

NUGROHO ADHI
sopogondrong@yahoo.com
Blog : http://alonrider.wordpress.com

Read More..

Monday, January 21, 2008

PENGOMPOSAN ANAEROB BERBAU BUSUK?

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 21 Januari 2008
Foto: Sobirin 2008, Ketika Panen Kompos Anaerob, Tidak Bau


Oleh: SOBIRIN
Ibu Djamaludin pengelola Taman Karinda mengirim email kepada saya tentang pengomposan cara ”anaerob” yang membuat ”kapok” banyak orang karena bau. Saya memiliki 4 komposter ”anaerob” (tadinya 5) dan 1 komposter ”aerob”, memang proses berbeda, masing-masing ada plus ada minus-nya. Berikut email-email-nya.




Email dari Ibu Djamaludin untuk Mr. Sob:

Assalamu'alaikum wr.wb.

Bagaimana dengan proses pengomposan anaerob? Menurut pengalaman praktisi yang melakukan dengan komposter yang diberi kran untuk menampung air lindi, hasilnya berbau busuk, sehingga "kapok" dan berhenti. Komposter ini juga bergantung dengan penambahan mikroorganisme (cair atau padat) yang harus beli. Belum lagi gas yang keluar waktu membuka komposter untuk memasukkan sampah baru, H2S dan Metan kan termasuk gas beracun. Maka Kebun Karinda tidak menganjurkan menggunakan komposter anaerob.
Kalau saya baca di beberapa textbook, hasil dekomposisi aerob adalah kompos, gas CO2 dan H2O. Kalau anaerob hasilnya sludge, CO2 dan gas metan. Maaf, kita sharing ilmu dan pengalaman praktek.
Ada lagi alat Biopori, sistem juga anaerob tetapi tidak dibongkar hanya ditambah lapisan-lapisan sampah ditutup tanah.
Wassalam, Ibu Djamaludin



Email dari Mr. Sob untuk Ibu Djamaludin:

Yth. Ibu dan Bapak Djamaludin,
Wa’alaikum salam wr wb,

Terimakasih atas sharing-nya. Pada komposter anaerob yang saya lakukan, lubang di tanah ukuran 60cmx60cm dan dalam 100cm. Tidak ditembok. Syarat: jangan gunakan metode ini bila air tanah-nya dangkal. Mikroorganisme saya buat sendiri dari sampah dapur yang mudah membusuk. Tidak menggunakan kran air lindi, lubang ini ditutup dengan plat beton tipis. Bahan kompos dimasukkan setiap hari, bahkan yang mengandung protein juga. Saya punya 4 lubang anaerob di rumah (tadinya 5 lubang), saya happy dengan anaerob saya dan hasilnya rumah saya "zero waste".

Tentang biopori, saya juga mencoba. Namun untuk lapisan tanah yang "impervious" atau “impermeable” atau kedap air, hasilnya separoh-separoh, yaitu bagus untuk pengomposan, tetapi kurang berhasil untuk resapan air atau mengatasi banjir. Dari pengamatan saya, biopori akan sangat sukses di daerah volkanik, yang lapisan tanahnya "pervious" atau "permiable" atau lulus air.

Sekali lagi terimakasih atas sharing-nya, pengalaman yang satu dengan yang lain memang harus diperbandingkan. Bagaimanapun kita harus terus mencari terobosan-terobosan untuk menanggulangi sampah perkotaan. Ditunggu info selanjutnya.
Salam: Sobirin



Email Ibu Djamaludin untuk Mr. Sob:

Yth. Bp. Sobirin,

Masih jadi pertanyaan, waktu buka-tutup lubang untuk memasukkan sampah baru, ada bau busuk atau tidak? karena bau ini sangat berpengaruh apakah orang mau pakai metode ini atau tidak.
Terima kasih, Ibu Djamaludin.



Email Mr. Sob untuk Ibu Djamaludin:

Yth. Ibu dan Bapak Djamaludin,
Untuk menghindari bau sewaktu-waktu saya buka, maka setelah mengisi bahan kompos, ditambah MOL, diaduk. Lalu sebelum plat beton ditutupkan, bagian atasnya saya lapisi tanah 5 cm (lihat artikel Komposter Anaerob tgl 6 Juni 2007 di blog ini). Sewaktu buka tutup, tidak bau, karena ada lapisan tanah. Tetapi sewaktu diaduk memang bau. Hanya sebentar, lalu ditutup kembali setelah ada tambahan-tambahan bahan kompos dan lapisan tanah.

Setelah sekian lama, waktu dipanen tidak bau. Baunya adalah bau khas kompos biasa (lihat foto, diambil tanggal 21 Januari 2008).

Ini memang konsep pengomposan alternatif, terutama bagi rumah tangga yang banyak memproduk sampah protein, daging busuk, kulit udang, dll.

Saya memanfaatkan komposter model anaerob ini (selain aerob), karena saya memang tidak mau membuang sampah apa-pun ke luar rumah.

Terimakasih dan ditunggu berita selanjutnya Bu.
Salam: Sobirin

Read More..

Thursday, December 27, 2007

KOMPOS ANAEROB LEBIH HALUS

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 27 Desember 2007
Foto: Sobirin 2007, Pohon Jambu dan Kompos Anaerob

Oleh: SOBIRIN
Membuat kompos bisa dengan cara macam-macam. Ada cara AEROB ada cara ANAEROB. Dua macam cara ini dapat dibaca pada artikel-artikel yang lalu di Blog ini. Ketika kompos ANAEROB ini saya panen, ternyata komposnya lebih halus, berwarna coklat kehitaman. Saya manfaatkan antara lain untuk mengompos pohon jambu muda (lihat foto).


Cara ANAEROB yaitu dengan mewadahi bahan kompos kedalam lubang yang digali di halaman rumah. Ukuran lubang: panjang 60 cm, lebar 60 cm, dalam 100 cm. Biarkan lubang telanjang langsung tanah, jangan disemen. Kalau mau di semen atau dipasang bata hanya dekat permukaan tanah saja, supaya tidak longsor.

ANAEROB artinya tertutup, tidak ada udara dari luar yang masuk. Oleh karena itu kompester model lubang ini ditutup di atasnya dengan plat beton tipis. Kalau ditutup dengan kayu, maka kayunya mudah lapuk, dimakan mikro organisme dalam MOL.

Bahan kompos yang terdiri dari daun hijau dan daun coklat dipotong kecil-kecil. Dedaunan kering yang berukuran kecil-kecil yang berserakan di pekarangan dimasukkan saja ke dalam lubang ini. Setelah itu tuangkan MOL ke dalamnya. Ampas MOL juga boleh dimasukkan. Bahkan kalau ada bangkai tikus, bangkai ayam, bangkai bekicot, masukkan saja ke dalam lubang komposter ANAEROB ini. Setelah itu taburkan tanah dari selokan setebal sekitar 5 cm di atasnya. Barulah kemudian lubang ditutup dengan tutup plat beton.

Dalam beberapa hari volume bahan kompos menyusut. Tambahkan lagi bahan serupa, tuangkan MOL, taburkan tanah selokan, tutup kembali dengan plat beton. Demikian seterusnya berulang kali. Lubang ukuran 60 cm x 60 cm x 100 cm ternyata tidak penuh-penuh dalam selang waktu lama, bahkan pengalaman saya sampai 2 tahun baru padat, tidak bisa diisi lagi.

Suatu hari komposter ANAEROB yang penuh ini saya gali, komposnya dipanen, hasilnya sungguh menakjubkan. Komposnya lebih halus, lebih lembut, berwarna seperti tanah kehitaman. Kompos yang saya panen tersebut saya manfaatkan untuk mengompos tanaman-tanaman yang ada di pekarangan saya, antara lain pohon jambu muda, dan lain-lainnya.

Lubang yang telah kosong dimanfaatkan lagi untuk membuat kompos cara ANAEROB.

Read More..

Wednesday, June 6, 2007

LUBANG KOMPOSTER "ANAEROB"

Bandung, Jl. Alfa 92 Cigadung II, 6 Juni 2007
Foto: Sobirin 2007, Lubang Komposter Anaerob

Oleh: Sobirin

Komposter yang selalu saya ceritakan adalah jenis komposter AEROB, yaitu komposter murah meriah yang berlubang-lubang sehingga memungkinan oksigen masuk dalam proses kompos-mengompos.

Contoh komposter AEROB yang saya buat antara lain dengan pasangan bata spasi lubang (lihat foto blog ini edisi 13 Mei 2007, judul “Menanggulangi sampah”). Membuat kompos dengan karung yang dilubangi kecil-kecil juga termasuk AEROB (lihat foto blog ini edisi 28 Mei 2007, judul “Membuat Kompos Dalam Karung”).

Ada cara lain membuat kompos dengan cara ANAEROB, tertutup rapat dan tidak memerlukan oksigen dari luar. Caranya yaitu dengan membuat lubang dalam tanah, ukurannya 60 cm x 60 cm x 100 cm. Bagian yang diperkuat dengan bata dan semen hanya 10 cm di bagian atas saja, untuk perkuatan agar tidak longsor, dan terlihat lebih estetis. Lubang bagian bawah telanjang tidak disemen atau dibeton. Lubang ini kemudian diisi dengan bahan-bahan organik yang bisa dikomposkan, misalnya potongan rumput, daun-daun yang jatuh dari pohon, sampah organik rumah tangga, sisa sayur kemarin, dll. Semua bahan tersebut sebaiknya dipotong-potong kecil-kecil seukuran 3 cm. Kalau ada “kohe” (kotoran hewan sapi, ayam, atau kambing) lebih bagus. Bahkan pengalaman saya, bangkai binatang semacam tikus, bekicot, atau yang lain, saya masukkan saja ke dalam lubang ANAEROB ini. Bangkai tidak saya potong-potong, karena saya juga merasa jijik! Masukkan saja ke dalam lubang! Kemudian disiram mikro organisme lokal (MOL) buatan sendiri (cara membuatnya lihat blog ini edisi 18 Mei 2007, “Membuat Kompos Murah Meriah dan Sarter-nya).

Setelah bahan kompos selesai semua dimasukkan dalam lubang dan disiram MOL (tentunya pada hari-hari pertama tidak penuh terisi, tidak apa-apa), lalu bagian atasnya dihampari tanah setebal kurang lebih 5 cm, agar bila ada bau-bau menjadi terhambat. Kemudian terakhir, tutup beton ditutupkan di atas lubang ini. Dulu pertama kali saya membuat tutupnya dari papan kayu, ternyata mudah sekali lapuk, mungkin dimakan mikroba yang tercecer.

Begitulah tiap hari bila ada bahan kompos seperti tersebut di atas, tambahkan saja, dan ulangi prosedur seperti yang telah diuraikan. Kalau dalam proses kompos AEROB saya menghindari bahan-bahan berupa daging bekas atau ikan mentah bekas, karena sering menjadi incaran tikus hidup yang mencoba menerobos lubang-lubang komposter, maka dalam proses ANAEROB semua bahan organik apa saja bisa dimanfaatkan, termasuk daging dan ikan bekas. Usahakan tiap 3 hari sekali di aduk, tambah MOL, dan tutupi kembali dengan lapisan tanah setebal 5 cm.

Setelah 3 minggu atau paling lama 1 bulan bahan telah menjadi kompos dan siap dipanen (terutama lapisan yang di bawah). Tetapi saya jarang melakukan panen dari kompos proses ANAEROB ini, karena saya lebih senang dengan proses AEROB. Anehnya, walaupun tidak pernah dipanen, tetapi lubang tidak pernah penuh, karena volumenya menyusut terus. Pengalaman saya, sejak lubang dibuat 2 tahun yang lalu, terus saja bisa terus siap diisi.

Saya tidak menyarankan cara ini dibuat pada lokasi yang air tanahnya dangkal (misal permukaan air tanahnya – 1 m sampai -5 m, kalau lebih dari -5 m tidak apa-apa. Hal ini karena dikhawatirkan air tanahnya akan tercemari oleh lindi yang mungkin terjadi, apalagi bila prosedurnya tidak benar.

Dalam gambar dapat dilihat lubang kompos ANAEROB dan tutup beton yang sedang dipegang oleh Mang Endut, asisten kompos saya. Di rumah saya ada 5 lubang kompos ANAEROB semacam ini. Jadi, rumah saya mempunyai komposter bata berlubang AEROB untuk bahan-bahan organik yang “bersih”, dan komposter lubang ANAEROB untuk bahan-bahan kompos organik yang “sedikit disebut menjijikkan”, misal daging busuk, ikan busuk dan sejenisnya. Karena ditutup lapisan tanah 5 cm dan ditutup lagi dengan tutup beton, maka aman dan sama sekali tidak ada bau-bau, dan yang terpenting tidak membuang sampah rumah ke luar rumah!

Read More..