Tuesday, October 2, 2007

PLASTIK BEKAS, DIAPAKAN?

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 3 Oktober 2007
Foto: Sobirin 2007, Butir-Butir Pelet Plastik

Oleh: Sobirin

Plastik bekas sampah rumah tangga diapakan? Tergantung jenis-jenisnya. Ada plastik kantong keresek, gelas plastik air minum kemasan, botol plastik minuman ringan, bekas bungkus sabun deterjen, sikat gigi bekas, sisir bekas, dan lain-lain.




Semuanya dikumpulkan, dicuci bersih, dan dijemur. Diseleksi masing-masing dikumpulkan sesuai jenisnya. Mengapa harus dicuci bersih dan dijemur. Sebab kalau tidak dicuci, masih ada sisa makanan atau bumbu-bumbu makanan, bisa membusuk bau dan mengundang lalat, menjadi penyakit!


Botol plastik, gelas plastik, dan sejenisnya dikumpulkan dan setelah banyak bisa dijual atau disumbangkan kepada tukang pemulung barang rongsokan. Kantong-kantong kresek yang masih bagus bisa dipakai ulang.

Kantong-kantong plastik bekas deterjen biasanya berwarna-warni. Banyak yang memanfaatkan sebagai bahan untuk pekerjaan tangan atau kerajinan, dijahit dengan sentuhan seni sesuai warna-warni bahannya menjadi barang-barang berguna, seperti kantong, tas, tempat sampah, payung, sandal dan lain-lainnya. Banyak kelompok masyarakat yang telah mencoba terjun di dunia kegiatan kerajinan ini, dan mampu menghasilkan uang.

Coba saja kalau kita mengikuti seminar-seminar, sering diberi tas seminar yang konvensional. Mengapa tidak dibuatkan saja tas-tas seminar dari bahan-bahan plastik bekas ini? Asal desainnya menarik dengan komposisi warna sesuai pasti banyak yang tertarik, sekaligus untuk melaksanakan konsep 3R (reduce, reuse, recycle).

Lalu sisa-sisa plastik yang tidak laku dijual, diapakan? Dibuang? Jangan! Dibakar? Apa lagi, jangan! Bisa-bisa kita kena racun dioksin! Baiknya kita upayakan sebagai barang yang bermanfaat. Kalau dipabrik-pabrik plastik, bahan-bahan plastik bekas seperti kantong keresek bisa diproses menjadi butir-butir pelet plastik, untuk selanjutnya bisa dijual ke pabrik plastik.

Kalau diproses di rumah tangga bisa? Nah ini yang agak sulit, karena butuh kreativitas alat yang agak perlu uang. Prinsipnya plastik-plastik semacam kantong keresek yang jelek-jelek ini bisa “dilelehkan” menjadi butir-butir “gravel” (seukuran kerikil) dengan “pemanasan” sampai temperatur 150-200 derajat. Saya mencobanya dengan peralatan sangat sederhana, dan hasilnya seperti dapat dilihat di gambar potret. Untuk apa? Belum tahu untuk apa, bisa untuk “kerikil bahan-bahan bangunan” yang nantinya diaduk dengan semen, bisa juga untuk kreasi kerajinan atau seni yang lain. Yang terpenting, konsep “zero waste” dapat direalisasikan, sampah rumah jangan dibuang keluar rumah.

Read More..

Saturday, September 22, 2007

KANGKUNG DIPANEN TAMBAH SUBUR

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 23 September 2007
Foto: Sobirin 2007, Kangkung Organik Super

Oleh: Sobirin
Kangkung yang saya tanam dalam pot setengah drum terus semakin subur. Hampir tiap minggu dipanen, cukup untuk sayur tumis sekeluarga. Sehabis dipanen, tanah digaruk-garuk, di-kompos, disiram MOL (mikro organisme lokal) buatan sendiri yang telah diencerkan.


Dalam tempo beberapa hari, daun-daun muda kangkung muncul, warnanya hijau segar. Tiap hari disiram air, tiap 3 hari disiram MOL encer. Ukuran daun-daun kangkung ini lebih besar dan keberadaannya lebih segar dibanding dengan kangkung yang biasa dibeli di pasar atau tukang sayur. Lihatlah ukuran kangkung yang saya tanam dibandingkan dengan uang logam recehan. Jadinya saya sebut saja kangkung saya ini "kangkung organik super". Memang pilihan benih awalnya juga bagus. Saya memperoleh benih ini dari Bapak Sajiboen, "inohong" Cirebon, yang juga senang pada tanaman-tanaman organik.

Menjadi petani rumahan sebenarnya tidak sulit. Juga membuat kompos serta MOL sendiri juga sangat mudah, murah tapi hasilnya meriah. Bahkan rumah kita tidak membuang sampah ke luar rumah, semua diproses dan hasilnya "zero waste". Yang diperlukan adalah ketekunan. Begitu kita sibuk dengan kegiatan lain, dan melupakan kegiatan perkomposan serta tanaman-tanaman kita, maka hasilnya tidak ada.

Bila kesibukan kita di luar sangat banyak, tetapi ingin juga memiliki perkomposan rumah tangga, pertanian rumah tangga, dan rumah tanpa sampah, maka perlu ada asisten yang membantu kita. Bisa saudara, bisa pembantu rumah tangga, tapi harus tetap kita kontrol.

Read More..

Saturday, September 15, 2007

MENDAPAT UANG DARI KERTAS BEKAS

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 15 September 2007
Foto: Sobirin 2007, Kertas Daur Ulang Buatan Saya

Oleh: SOBIRIN
Bagi mereka orang-orang golongan kaya mungkin menganggap remeh kertas bekas, koran bekas, kardus bekas. Di jaman modern ini, setiap keluarga terutama dari kelas golongan berada, rata-rata membuang kertas bekas antara 0,25 kg hingga 0,50 kg per hari.




Bermacam jenis kertas yang dibuang, termasuk koran bekas, majalah bekas, kardus bungkus makanan, dan lain-lain. Malah-malah banyak keluarga yang membakar kertas-kertas bekasnya.


Kalau kita cermati pula, ternyata kantor-kantor, terutama kantor pemerintah, banyak sekali membuang kertas-kertas bekas tulis-tulis, bekas print komputer, surat-surat tidak terpakai. Rata-rata dari jenis kertas HVS. Saya melihat bahwa kantor-kantor pemerintah masih sangat boros kertas.


Padahal kertas-kertas ini masih ada harganya, bahkan sangat menolong masyarakat kurang mampu tetapi ulet. Para pengumpul kertas ini mencari kertas-kertas bekas yang gratis, syukur-syukur bila ada keluarga mampu yang beramal menyumbangkan koran-koran bekasnya untuk mereka.

Namun demikian, para pengumpul inipun bersedia membeli kertas bekas dari keluarga mampu tapi masih tetap ingin duwit.
Harga beli oleh pengumpul cukup lumayan untuk kertas bekas yang kualitasnya masih bagus, kertas koran Rp. 750,-/kg, kardus Rp. 600,-/kg, yang mahal yaitu kertas HVS mencapai Rp 1.000,-/kg. Pengumpul ini menjual lagi kepada bandar dengan mengambil untung rata-rata Rp 250,-/kg.

Bila seorang pengumpul menggunakan gerobak dorong dan secara ulet mampu mengumpulkan kertas 100 kg, maka dalam sehari mendapat penghasilan Rp 25.000,-, sebulan Rp 750.000,-, setara dengan UMR, upah minimum regional. Kalau bandar-bandar besar kertas bekas ini sudah mempunyai pasar tetap ke pabrik-pabrik kertas baik di Surabaya,Tangerang, dan lain-lainnya. Harganya cukup menggiurkan, buktinya usaha mereka terus hidup.


Andaikan kita tidak bermaksud menjualnya, dan ingin memproses menjadi kertas daur ulang, alangkah baiknya! Cara membuat kertas daur ulang, sudah banyak yang bisa. Kertas dihancurkan menjadi bubur kertas, dicetak dengan saringan sablon, dan jadilah.

Di internet bisa dicari cara-cara membuat kertas daur ulang, misalnya dapat dipelajari di situs web: www.idepfoundation.org yang menjelaskan secara detail. Saya-pun mengikuti penjelasan dari situs web ini, tidak sulit.


Kreativitas yang terus digali, dapat menghasilkan kreasi-kreasi yang meningkatkan nilai tambah dari kertas bekas dan meningkatkan pendapatan. Bisa dibuat menjadi kap lampu, cover album, softboard, dan lain-lainnya. Warna-warni juga dibuat dari bahan-bahan alami, misal kuning dari kunyit, merah dari daun jati, hijau dari daun pandan, dan lain-lainnya. Ditambah lagi, rumah kita tetap “zero waste”, tidak menghasilkan sampah. Sekali lagi kepada yang ingin mencoba, mampir di www.idepfoundation.org selamat mencoba.

Read More..

Saturday, September 8, 2007

STARTER KOMPOS MIKRO ORGANIK GRATISAN

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 8 September 2007
Foto: Sobirin 2007, MOL Gratisan dari Bonggol Pisang, dll.


Oleh: Sobirin
Sampai sekarang masih banyak yang menanyakan kepada saya tentang cara-cara membuat kompos, terutama starter mikro organik-nya.



Di toko memang banyak di jual mikro organik dalam kemasan misalnya EM4 dan lain sejenisnya. Saya memang tidak senang membeli sebangsa EM4 dan lain-lainnya, karena tidak punya uang berlebih. Saya mencoba membuat mikro organik sendiri. Banyak yang mencemooh, mengetawai, terutama para ahli mikro organik dari jurusan bologi dan pertanian.

“Anda memang bisa membuat mikro organik, tetapi tidak tahu jenis apa yang anda hasilkan. Bagaimana kalau yang anda hasilkan berupa mikro organik penyakit atau yang malah membunuh tanaman?”, kata mereka.

Saya tidak peduli, karena konsep saya adalah tidak mau keluar uang dan bahan-bahan untuk membuat mikro organik harus dari bahan-bahan sampah dari rumah saya.

Saya memang fanatik membuat mikro organik dari sampah organik rumah tangga yang saya masukkan dalam tong plastik, diberi air secukupnya, dibiarkan selama 1 minggu, maka mikro organik telah tumbuh. Apa isinya? Saya tidak tahu jenisnya, bakteri apa, cendawan apa. Tetapi setelah disemprotkan ke bahan-bahan kompos, maka kompospun cukup berhasil dalam tempo 3 minggu.

Mikro organik gratisan ini di kalangan rakyat dan penghobby kompos dinamai MOL, singakatan dari Mikro Organisme Lokal. Kata “lokal” karena dibuat sendiri secara gratisan.

Di kalangan penghobby kompos organik, telah banyak “trial and error” dalam membuat starter MOL gratisan ini. Sebagai contoh antara lain:

MOL rebung: dibuat dari rebung (tunas bambu) yang di hancurkan, kemudian dicampur air kelapa. Dibiarkan dalam wadah plastik selama 1 minggu.

MOL bonggol pisang: dibuat dari bonggol pisang yang ditumbuk, kemudian dicampur air kelapa. Dibiarkan dalam wadah plastik selama 1 minggu.

MOL keong: dibuat keong atau bekicot yang di hancurkan (di”bebek”), kemudian dicampur dengan air kelapa. Dibiarkan dalam wadah plastik selama 1 minggu.

MOL berenuk: dibuat dari berenuk (buah maja). Isi berenuk (daging buahnya) dikerok dan dicampur dengan air kelapa. Dibiarkan selama 1 minggu.

MOL nasi basi: dibuat dari nasi yang tidak termakan. Nasi dikepal-kepal sebesar bola pingpong. Letakkan bola-bola nasi tersebut di doos bekas wadah air kemasan, lalu tutupi dengan dedaunan yang membusuk. Dalam tempo 3 hari akan tumbuh jamur2 berwarna kuning, jingga, merah. Ambil bola-bola nasi yang telah ditumbuhi jamur, masukkan dalam wadah plastik, lalu dicampur dengan air gula pasir secukupnya. Biarkan sampai 1 minggu, maka cairan berbau seperti tapai (peuyeum), dan bisa dipakai sebagai starter untuk membuat kompos.

Demikian yang saya ketahui. Namun saya tetap fanatik dengan MOL sampah dapur, sebab saya menganut faham “sampah rumah tidak dibuang keluar rumah”. Diproses sendiri, jadi MOL, kompos, kertas daur ulang, plastik daur ulang, dan lain-lainya.

Read More..

Saturday, August 25, 2007

PAPAYA KUNING WANGI KARENA KOMPOS

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 26 Agustus 2007
Foto: Sobirin 2007, Papaya Kuning Wangi

Oleh: Sobirin
Saya lebih senang makan papaya kuning dari pada papaya merah jingga. Rasanya lebih lembut, manis dan lebih wangi. Jaman saya kecil dulu tahun 1950-an, jenis papaya yang banyak dijual di pasar adalah papaya kuning.


Kemudian baru tahun 1962-an populer papaya merah jingga. Itu di kampung saya dulu, di kota Magelang. Papaya merah jingga ini kalau di kampung saya dulu dikenalnya sebagai “gandhul jinggo”, karena warnanya yang merah ke-jingga-jingga-an.

Sekarang papaya merah jingga yang ukurannya besar sering disebut papaya Bangkok. Pokoknya yang besar-besar dan bagus-bagus sering diberi label Bangkok.

Karena saya lebih senang papaya kuning, saya sering ke pasar mencari buah ini. “Eta mah papaya kanggo manuk pa.., cobi taroskeun ka tukang manuk”, itu kata penjual buah-buahan di pasar. Katanya papaya kuning adalah papaya burung, karena lebih banyak dikonsumsi burung piaraan. Tapi di tukang burung juga tidak mudah mendapatkannya. “Harus pesan dulu pa…!”, kata tukang burung.

Begitu saya mendapatkan buah papaya kuning, maka bijinya saya selamatkan untuk disemai dan ditanam.

Sewaktu saya tanam di halaman rumah samping, bibit pohon papaya ini berkembang kurang baik, mungkin kualitas bijinya jelek, mungkin tanahnya yang kurang baik. Tetapi setelah saya kompos dan saya siram dengan MOL yang telah dicairkan, pokoknya tiap hari dirawat, akhirnya pohon papaya ini tumbuh gagah dan subur. Lihatlah buahnya, banyak sekali. Buahnya selalu menjadi rebutan antara saya dan kelelawar. Terlambat sedikit saja dipetik, maka buah yang menguning akan disantap oleh “juragan” kelelawar di malam hari.

Read More..

ASYIKNYA PANEN KOMPOS

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 25 Agustus 2007
Foto: Sobirin 2007, Panen Kompos dari Komposter Bata Terawang
Oleh: Sobirin


Sudah agak lama saya tidak panen kompos. Karena saya akan mencoba menanam tanaman jenis baru lagi, maka kompos yang saya buat di komposter bata terawang saya panen.




Asyiik!
Kompos ini cukup bagus, warnanya coklat kehitaman, keberadaannya seperti tanah biasa, teksturnya halus.
Saya hanya mengambil kira-kira 5 pengki (alat untuk menyerok sampah), beratnya kira-kira setara dengan 5 kg.

Cara panennya sangat mudah. Komposter bata terawang yang saya buat memang memudahkan segalanya. Bahan-bahan kompos dimasukkan dari atas, yang kemudian ditutup dengan plastik, kemudian kalau panen lewat lubang dibagian bawah. Lubang bagian bawah ini ditutup dengan lembaran beton tipis yang mudah dibuka untuk lubang pemanenan (lihat foto)

Kompos hasil panenan saya aduk dengan tanah dengan jumlah yang sama dengan kompos tadi. Kemudian saya tuangkan di dalam pot drum.
Diaduk dengan air dan ditambahkan MOL (mikro organisme lokal) buatan sendiri. Maka siaplah untuk ditanami dengan tanaman yang kita kehendaki. Saya memilih tanaman sausin dan bawang. Semoga tumbuh subur.

Sebenarnya tiap hari kita bisa panen kompos, asal tiap hari pula kita membuat kompos. Proses pengomposan dengan bahan organik pekarangan dan MOL sampah dapur sebagai starter, kurang lebih memerlukan waktu 3 minggu.


Mau panen kompos? Silahkan membuat komposnya dulu. Menebar organik, memuai kompos!

Read More..

Wednesday, August 22, 2007

KREASI YANG BELUM SEMPURNA

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 22 Agustus 2007
Foto: Sobirin 2007, Alat Pencacag Daun
Oleh: Sobirin
Untuk memperoleh kompos yang baik dan prosesnya bisa 3 minggu-an, maka salah satu syarat adalah ukuran bahan kompos sebaiknya kecil-kecil, kurang dari 3 cm. Kebanyakan para peng-hobby pembuat kompos menggunakan bedog (golok) untuk mencacag bahan kompos berupa daun-daun coklat dan hijau.

Kalau tidak hati-hati, bisa-bisa bedog tadi mampir ke jari-jari kita. Padahal bedognya cukup tajam. Saya pernah mengalami kejadian itu, kuku telunjuk kiri saya kena bedog. Untung (masih untung), bedognya agak tumpul. Jadi ujung telunjuk menjadi bengkak, dan selama 1 bulan warna kuku menjadi hitam.


Bagaimana mencari akal? Kalau ada alat pemotong rumput, jenis yang didorong, dan sudah tidak terpakai, mungkin bisa dimodifikasi untuk alat pencacag daun. Dulu saya punya pemotong rumput yang sudah rusak, tapi sayangnya sudah saya jual ke tukang loak.


Kemudian saya mencoba mendisain rencana alat pemotong daun. Prinsipnya seperti alat pemotong rumput, yaitu dengan besi tipis yang di-las melengkung pada dua roda (kiri dan kanan), dan berfungsi sebagai gunting. Bagian tengah roda dipasang as, yang disambungkan dengan alat pemutar. Unit gunting ini kemudian dimasukkan dalam kotak dari plat besi.


Semua tadi dari barang-barang rongsokan. Ongkos yang keluar hanya untuk tukang las saja Rp. 50.000,-. Kalau kita bisa menge-las sendiri, ya tidak keluar biaya. Hasilnya lihat di-foto.

Daun-daun bisa dicacag sampai ukuran kurang dari 3 cm.
Namun demikian, saya masih belum puas dengan alat ini. Kreasi yang belum sempurna. Memang hasilnya bagus, tidak bakal kena golok. Tapi alat ini suka macet.

Silahkan teman-teman, bapak-bapak, ibu-ibu lihat dengan seksama foto alat ini, dan silahkan disempurnakan. Syukur kalau alat ini dapat dibuat otomatis yang disambung dengan dinamo. Jadi tidak capai memutar engkol.

Read More..