Thursday, November 1, 2007

KEBUN LOBAK 1 METER PERSEGI

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 01 November 2007
Foto: Sobirin 2007, Kebun Mini Lobak Putih

Oleh: SOBIRIN
Tentunya ada yang senang lobak, dan tentunya banyak pula yang tidak senang lobak. Kebetulan saya mendapat benih lobak putih dari sobat saya pak Sajiboen, yang punya hobby utak-utik kompos.


Saya mempunyai bak bunga ukuran 1 x 1 meter persegi. Pertama bak bunga ini saya isi tanah dan kompos, dengan perbandingan tanah : kompos kira-kira 1 : 2. Diaduk-aduk sampai rata. Ditambah MOL yang telah diencerkan. Jenis MOL yang saya pakai adalah MOL “nasi basi” (lihat artikel blog 8 September 2007: Starter Kompos Mikro Organik Gratisan).

Sementara itu benih lobak disemai ditempat persemaian. Lobak ini dikenal dengan nama lobak putih (Chinese Radish Long), ukuran benihnya berdiameter kurang lebih 3 milimeter sampai 5 milimeter, berwarna coklat muda. Saya memanfatkan sebagian bak bunga tadi untuk tempat persemaian. Tanah tempat persemaian ini lalu diberi tutup pelindung daun-daunan supaya benih tumbuh dengan sempurna.

Kecambah mulai tumbuh pada hari ke 7, dan pada saat berumur 15 sampai 20 hari tanaman-tanaman lobak muda ini ditanam satu-satu dengan jarak 20 centimeter-an. Jadi dalam bak bunga seukuran 1 meter persegi ditanami lobak muda sebanyak 20 tanaman.


Tanaman disiram setiap hari, dan diberi MOL encer setiap 3 hari sekali. Rumput dan tanaman liar segera dicabut bila kelihatan tumbuh di antara lobak-lobak ini.

Tampak foto ketika lobak ini berumur 1 bulan, lobak-lobak ini tumbuh subur. Lobak bisa dipanen setelah 50 hari sejak ditanam. Saat tulisan ini dibuat, belum panen. Nanti kalau panen, hasilnya difoto dan disajikan dalam blog ini. Untuk apa lobak? Bisa dilalab (kalau suka), bisa untuk bahan soto Bandung.

Read More..

Wednesday, October 10, 2007

BERKUNJUNG KE PABRIK PUPUK ORGANIK

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 11 Oktober 2007
Foto: Sobirin 2007, Proses Pengomposan di Pabrik Agro Duta

Oleh: SOBIRIN
Ternyata di Kota Bandung ada beberapa tempat pembuatan kompos skala pabrik, salah satunya adalah Pabrik Pupuk Organik atau Pabrik Kompos Agro Duta di Jl. Paralon I No. 12 Bandung 40212. Tiga kali saya sempat berkunjung ke tempat ini.



Pabrik ini terletak di antara pabrik-pabrik lain di daerah Holis, yaitu daerah yang terkenal karena ada pabrik bakso dan restoran bakso Holis. Luas lahan pabrik kurang lebih 6.000 m2, terdiri dari ruang kantor, hanggar perajangan bahan kompos, hanggar penghampar bahan kompos, hanggar mikro organisme, dan halaman parkir truck.

Bahan kompos diambil dari sampah pasar Caringin, yaitu pasar tradisionil skala besar di Kota Bandung. Setiap hari sampah pasar diangkut dari pasar Caringin ke pabrik ini menggunakan truck kecil (truck engkel), mondar-mandir sebanyak 8 rit per hari. Komposisi sampah pasar Caringin kurang lebih 80 persen bahan organik dan 20 persen bahan non organik.

Sampah dirajang (dicacag) dengan mesin perajang kapasitas 5 ton/hari. Sampah yang telah dirajang ini dihamparkan di hanggar penghampar dan disemprot dengam mikro organisme buatan pabrik ini juga. Dibolak-balik setiap hari, dan kurang lebih 1 bulan proses pengomposan ini selesai. Kemudian diayak untuk mendapatkan butir-butir kompos siap pakai.

Dalam proses pengomposan di hanggar ini, kadang terbentuk air lindi yang mengalir di lantai hanggar, yang kemudian dikumpulkan untuk kemudian diproses menjadi mikro organisme. Perihal air lindi ini, justru banyak keluar dari tempat penumpukan sampah yang diturunkan dari truck di hanggar perajangan. Sampah yang belum dirajang banyak mengeluarkan air lindi, yang ditampung dan dialirkan ke tempat khusus pemrosesan air lindi menjadi pupuk organik cair.

Jadi pabrik ini memproduksi dua macam pupuk organik. Produk pertama adalah pupuk organik padat (kompos) dan yang kedua adalah pupuk organik cair. Pupuk orbanik padat (kompos) setelah diayak ini, sebanyak 5 ton/hari, tidak diberi label atau merk, dan langsung dimasukkan ke dalam karung-karung dibawa ke tempat pertanian organik milik pabrik ini di daerah Lembang, Bandung Utara.

Mengenai pupuk cair, karena prosesnya melalui beberapa tahap, adalah merupakan produk andalan, dan diberi label atau merk STON-F. Nama ini adalah singkatan dari Sehat Tanah – Orang Nyaman – Friendly. Dalam leaflet iklannya disebutkan bahwa STONE-F ini merupakan bioactivator yang dapat menyuburkan tanah dan tanaman, dan selain itu dapat pula dimanfaatkan untuk pakan udang dan ikan ditambak-tambak tepi pantai. Selain menawarkan produk-produk kompos, pabrik ini juga melayani penjualan pearalatan perajang sampah dan lain-lainnya.

Bisa membayangkan andaikan di setiap kota memiliki pabrik kompos, di setiap pasar juga ada pabrik kompos, di setiap rumah tangga ada proses reduce, reuse, recycle dan pembuatan kompos skala rumah tangga? Tentunya kota akan bersih dari sampah!

Ingin menghubungi pabrik ini? Silahkan hubungi pak Teguh, pak Yeremia Tokan, atau pak Aries Yanimartono di alamat pabrik:
Agro Duta, Jl. Paralon I No. 92 Bandung 40212
Telp: (022) 6033813, 6033814
HP: 08122346785, 081320642366, 0818200901
Fax: (022) 6027998
e-mail: dwarna@bdg.centrin.net.id.

Read More..

Saturday, October 6, 2007

KRIPIK BAYAM RENYAH RASA TERIGU

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 6 Oktober 2007
Foto: Sobirin 2007, Bayam Tumbuh Subur Disiram MOL Nasi


Oleh: Sobirin

Saya meminta benih-benih tanaman dari pak Sajiboen, teman saya inohong dari Cirebon. Saya diberi beberapa bungkus, salah satunya berukuran butir-butir lembut berwarna hitam. Benih tanaman apakah itu? Saya tidak tahu!


Saya akan coba menanam benih-benih berukuran lembut tersebut. Kebetulan saya masih mempunyai pot besar dari drum yang dipotong separoh. Saya isi dengan tanah dicampur kompos buatan sendiri. Ukurannya 1 bagian tanah dicampur 2 bagian kompos. Diaduk rata dalam pot besar tadi, kemudian saya siram dengan mikro organisme lokal (MOL) buatan sendiri.

MOL ini telah saya siapkan jauh hari sebelumnya. MOL ini khusus saya buat dari nasi sisa yang tidak termakan. Nasi dikepel-kepel (dibuat bulat dengan tangan seperti onde-onde). Onde-onde nasi ini saya simpan didalam doos yang berisi kompos jadi. Beberapa hari kemudian, onde-onde nasi ini berjamur, ada yang berwarna kuning, biru, jingga kemerahan.

Onde-onde nasi yang berjamur ini saya masukkan dalam jeriken plastik, kemudian saya isi air gula, dan dibiarkan sampai beberapa hari. Jeriken jangan ditutup, supaya ada udara ikut berproses. Setelah beberapa hari, cairan dalam jeriken tersebut berbau khas seperti bau tape (tapai, peuyeum). Cairan inilah yang saya anggap telah mengandung mikro organisme (lokal).

Kita kembali ke tong setengah drum yang telah berisi tanah dicampur kompos. Lalu butir2 benih lembut berwarna hitam dari pak Sajiboen saya tebarkan dipermukaan pot. Tiap hari disiram air, dan 2 hari sekali di siram MOL nasi yang telah diencerkan. Kira-kira satu minggu kemudian tumbuh kecambah kecil-kecil, dan setelah besar ternyata tanaman ini adalah tanaman bayam.

Tanaman bayam semakin subur dengan penyiraman air dan sesekali disiram MOL nasi. Daun bayam tumbuh berukuran besar dan semakin subur pada umur 3 minggu. Ini jelas karena kompos dan MOL yang tepat.

Saya bertanya kepada mang Endut pembantu saya, apakah bayam ini bisa dimakan. Bisa pak, bisa dikulub (digodog sebentar) terus dibumbu pecel. Tetapi kemudian istri saya menginginkan daun bayam tadi digoreng dengan tepung terigu. Jadilah “kripik bayam”. Ukuran kripik ini selebar telapak tangan orang dewasa, pokoknya lebar benar. Renyah, tapi lebih terasa terigunya dari pada daun bayamnya. Lain kali akan saya coba untuk dikulub saja, dibuat pecel daun bayem.

Read More..

Tuesday, October 2, 2007

PLASTIK BEKAS, DIAPAKAN?

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 3 Oktober 2007
Foto: Sobirin 2007, Butir-Butir Pelet Plastik

Oleh: Sobirin

Plastik bekas sampah rumah tangga diapakan? Tergantung jenis-jenisnya. Ada plastik kantong keresek, gelas plastik air minum kemasan, botol plastik minuman ringan, bekas bungkus sabun deterjen, sikat gigi bekas, sisir bekas, dan lain-lain.




Semuanya dikumpulkan, dicuci bersih, dan dijemur. Diseleksi masing-masing dikumpulkan sesuai jenisnya. Mengapa harus dicuci bersih dan dijemur. Sebab kalau tidak dicuci, masih ada sisa makanan atau bumbu-bumbu makanan, bisa membusuk bau dan mengundang lalat, menjadi penyakit!


Botol plastik, gelas plastik, dan sejenisnya dikumpulkan dan setelah banyak bisa dijual atau disumbangkan kepada tukang pemulung barang rongsokan. Kantong-kantong kresek yang masih bagus bisa dipakai ulang.

Kantong-kantong plastik bekas deterjen biasanya berwarna-warni. Banyak yang memanfaatkan sebagai bahan untuk pekerjaan tangan atau kerajinan, dijahit dengan sentuhan seni sesuai warna-warni bahannya menjadi barang-barang berguna, seperti kantong, tas, tempat sampah, payung, sandal dan lain-lainnya. Banyak kelompok masyarakat yang telah mencoba terjun di dunia kegiatan kerajinan ini, dan mampu menghasilkan uang.

Coba saja kalau kita mengikuti seminar-seminar, sering diberi tas seminar yang konvensional. Mengapa tidak dibuatkan saja tas-tas seminar dari bahan-bahan plastik bekas ini? Asal desainnya menarik dengan komposisi warna sesuai pasti banyak yang tertarik, sekaligus untuk melaksanakan konsep 3R (reduce, reuse, recycle).

Lalu sisa-sisa plastik yang tidak laku dijual, diapakan? Dibuang? Jangan! Dibakar? Apa lagi, jangan! Bisa-bisa kita kena racun dioksin! Baiknya kita upayakan sebagai barang yang bermanfaat. Kalau dipabrik-pabrik plastik, bahan-bahan plastik bekas seperti kantong keresek bisa diproses menjadi butir-butir pelet plastik, untuk selanjutnya bisa dijual ke pabrik plastik.

Kalau diproses di rumah tangga bisa? Nah ini yang agak sulit, karena butuh kreativitas alat yang agak perlu uang. Prinsipnya plastik-plastik semacam kantong keresek yang jelek-jelek ini bisa “dilelehkan” menjadi butir-butir “gravel” (seukuran kerikil) dengan “pemanasan” sampai temperatur 150-200 derajat. Saya mencobanya dengan peralatan sangat sederhana, dan hasilnya seperti dapat dilihat di gambar potret. Untuk apa? Belum tahu untuk apa, bisa untuk “kerikil bahan-bahan bangunan” yang nantinya diaduk dengan semen, bisa juga untuk kreasi kerajinan atau seni yang lain. Yang terpenting, konsep “zero waste” dapat direalisasikan, sampah rumah jangan dibuang keluar rumah.

Read More..

Saturday, September 22, 2007

KANGKUNG DIPANEN TAMBAH SUBUR

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 23 September 2007
Foto: Sobirin 2007, Kangkung Organik Super

Oleh: Sobirin
Kangkung yang saya tanam dalam pot setengah drum terus semakin subur. Hampir tiap minggu dipanen, cukup untuk sayur tumis sekeluarga. Sehabis dipanen, tanah digaruk-garuk, di-kompos, disiram MOL (mikro organisme lokal) buatan sendiri yang telah diencerkan.


Dalam tempo beberapa hari, daun-daun muda kangkung muncul, warnanya hijau segar. Tiap hari disiram air, tiap 3 hari disiram MOL encer. Ukuran daun-daun kangkung ini lebih besar dan keberadaannya lebih segar dibanding dengan kangkung yang biasa dibeli di pasar atau tukang sayur. Lihatlah ukuran kangkung yang saya tanam dibandingkan dengan uang logam recehan. Jadinya saya sebut saja kangkung saya ini "kangkung organik super". Memang pilihan benih awalnya juga bagus. Saya memperoleh benih ini dari Bapak Sajiboen, "inohong" Cirebon, yang juga senang pada tanaman-tanaman organik.

Menjadi petani rumahan sebenarnya tidak sulit. Juga membuat kompos serta MOL sendiri juga sangat mudah, murah tapi hasilnya meriah. Bahkan rumah kita tidak membuang sampah ke luar rumah, semua diproses dan hasilnya "zero waste". Yang diperlukan adalah ketekunan. Begitu kita sibuk dengan kegiatan lain, dan melupakan kegiatan perkomposan serta tanaman-tanaman kita, maka hasilnya tidak ada.

Bila kesibukan kita di luar sangat banyak, tetapi ingin juga memiliki perkomposan rumah tangga, pertanian rumah tangga, dan rumah tanpa sampah, maka perlu ada asisten yang membantu kita. Bisa saudara, bisa pembantu rumah tangga, tapi harus tetap kita kontrol.

Read More..

Saturday, September 15, 2007

MENDAPAT UANG DARI KERTAS BEKAS

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 15 September 2007
Foto: Sobirin 2007, Kertas Daur Ulang Buatan Saya

Oleh: SOBIRIN
Bagi mereka orang-orang golongan kaya mungkin menganggap remeh kertas bekas, koran bekas, kardus bekas. Di jaman modern ini, setiap keluarga terutama dari kelas golongan berada, rata-rata membuang kertas bekas antara 0,25 kg hingga 0,50 kg per hari.




Bermacam jenis kertas yang dibuang, termasuk koran bekas, majalah bekas, kardus bungkus makanan, dan lain-lain. Malah-malah banyak keluarga yang membakar kertas-kertas bekasnya.


Kalau kita cermati pula, ternyata kantor-kantor, terutama kantor pemerintah, banyak sekali membuang kertas-kertas bekas tulis-tulis, bekas print komputer, surat-surat tidak terpakai. Rata-rata dari jenis kertas HVS. Saya melihat bahwa kantor-kantor pemerintah masih sangat boros kertas.


Padahal kertas-kertas ini masih ada harganya, bahkan sangat menolong masyarakat kurang mampu tetapi ulet. Para pengumpul kertas ini mencari kertas-kertas bekas yang gratis, syukur-syukur bila ada keluarga mampu yang beramal menyumbangkan koran-koran bekasnya untuk mereka.

Namun demikian, para pengumpul inipun bersedia membeli kertas bekas dari keluarga mampu tapi masih tetap ingin duwit.
Harga beli oleh pengumpul cukup lumayan untuk kertas bekas yang kualitasnya masih bagus, kertas koran Rp. 750,-/kg, kardus Rp. 600,-/kg, yang mahal yaitu kertas HVS mencapai Rp 1.000,-/kg. Pengumpul ini menjual lagi kepada bandar dengan mengambil untung rata-rata Rp 250,-/kg.

Bila seorang pengumpul menggunakan gerobak dorong dan secara ulet mampu mengumpulkan kertas 100 kg, maka dalam sehari mendapat penghasilan Rp 25.000,-, sebulan Rp 750.000,-, setara dengan UMR, upah minimum regional. Kalau bandar-bandar besar kertas bekas ini sudah mempunyai pasar tetap ke pabrik-pabrik kertas baik di Surabaya,Tangerang, dan lain-lainnya. Harganya cukup menggiurkan, buktinya usaha mereka terus hidup.


Andaikan kita tidak bermaksud menjualnya, dan ingin memproses menjadi kertas daur ulang, alangkah baiknya! Cara membuat kertas daur ulang, sudah banyak yang bisa. Kertas dihancurkan menjadi bubur kertas, dicetak dengan saringan sablon, dan jadilah.

Di internet bisa dicari cara-cara membuat kertas daur ulang, misalnya dapat dipelajari di situs web: www.idepfoundation.org yang menjelaskan secara detail. Saya-pun mengikuti penjelasan dari situs web ini, tidak sulit.


Kreativitas yang terus digali, dapat menghasilkan kreasi-kreasi yang meningkatkan nilai tambah dari kertas bekas dan meningkatkan pendapatan. Bisa dibuat menjadi kap lampu, cover album, softboard, dan lain-lainnya. Warna-warni juga dibuat dari bahan-bahan alami, misal kuning dari kunyit, merah dari daun jati, hijau dari daun pandan, dan lain-lainnya. Ditambah lagi, rumah kita tetap “zero waste”, tidak menghasilkan sampah. Sekali lagi kepada yang ingin mencoba, mampir di www.idepfoundation.org selamat mencoba.

Read More..

Saturday, September 8, 2007

STARTER KOMPOS MIKRO ORGANIK GRATISAN

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 8 September 2007
Foto: Sobirin 2007, MOL Gratisan dari Bonggol Pisang, dll.


Oleh: Sobirin
Sampai sekarang masih banyak yang menanyakan kepada saya tentang cara-cara membuat kompos, terutama starter mikro organik-nya.



Di toko memang banyak di jual mikro organik dalam kemasan misalnya EM4 dan lain sejenisnya. Saya memang tidak senang membeli sebangsa EM4 dan lain-lainnya, karena tidak punya uang berlebih. Saya mencoba membuat mikro organik sendiri. Banyak yang mencemooh, mengetawai, terutama para ahli mikro organik dari jurusan bologi dan pertanian.

“Anda memang bisa membuat mikro organik, tetapi tidak tahu jenis apa yang anda hasilkan. Bagaimana kalau yang anda hasilkan berupa mikro organik penyakit atau yang malah membunuh tanaman?”, kata mereka.

Saya tidak peduli, karena konsep saya adalah tidak mau keluar uang dan bahan-bahan untuk membuat mikro organik harus dari bahan-bahan sampah dari rumah saya.

Saya memang fanatik membuat mikro organik dari sampah organik rumah tangga yang saya masukkan dalam tong plastik, diberi air secukupnya, dibiarkan selama 1 minggu, maka mikro organik telah tumbuh. Apa isinya? Saya tidak tahu jenisnya, bakteri apa, cendawan apa. Tetapi setelah disemprotkan ke bahan-bahan kompos, maka kompospun cukup berhasil dalam tempo 3 minggu.

Mikro organik gratisan ini di kalangan rakyat dan penghobby kompos dinamai MOL, singakatan dari Mikro Organisme Lokal. Kata “lokal” karena dibuat sendiri secara gratisan.

Di kalangan penghobby kompos organik, telah banyak “trial and error” dalam membuat starter MOL gratisan ini. Sebagai contoh antara lain:

MOL rebung: dibuat dari rebung (tunas bambu) yang di hancurkan, kemudian dicampur air kelapa. Dibiarkan dalam wadah plastik selama 1 minggu.

MOL bonggol pisang: dibuat dari bonggol pisang yang ditumbuk, kemudian dicampur air kelapa. Dibiarkan dalam wadah plastik selama 1 minggu.

MOL keong: dibuat keong atau bekicot yang di hancurkan (di”bebek”), kemudian dicampur dengan air kelapa. Dibiarkan dalam wadah plastik selama 1 minggu.

MOL berenuk: dibuat dari berenuk (buah maja). Isi berenuk (daging buahnya) dikerok dan dicampur dengan air kelapa. Dibiarkan selama 1 minggu.

MOL nasi basi: dibuat dari nasi yang tidak termakan. Nasi dikepal-kepal sebesar bola pingpong. Letakkan bola-bola nasi tersebut di doos bekas wadah air kemasan, lalu tutupi dengan dedaunan yang membusuk. Dalam tempo 3 hari akan tumbuh jamur2 berwarna kuning, jingga, merah. Ambil bola-bola nasi yang telah ditumbuhi jamur, masukkan dalam wadah plastik, lalu dicampur dengan air gula pasir secukupnya. Biarkan sampai 1 minggu, maka cairan berbau seperti tapai (peuyeum), dan bisa dipakai sebagai starter untuk membuat kompos.

Demikian yang saya ketahui. Namun saya tetap fanatik dengan MOL sampah dapur, sebab saya menganut faham “sampah rumah tidak dibuang keluar rumah”. Diproses sendiri, jadi MOL, kompos, kertas daur ulang, plastik daur ulang, dan lain-lainya.

Read More..