Thursday, June 23, 2011

KELINCI MENIKMATI KEBEBASAN

Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 24 Juni 2011
Foto: Sobirin, 2011, Kelinci Sedang Menikmati Kebebasan

Oleh: Sobirin

Kelinci yang saya pelihara, awalnya hanya sepasang, jantan dan betina, sekarang sudah menjadi puluhan banyaknya. Kandang yang tadinya berukuran kecil, sekarang ukurannya lebih besar, berbentuk memanjang. Sekali-sekali kelinci-kelinci ini dikeluarkan dari kandang. Menikmati kebebasan.





Memelihara kelinci, dikatakan mudah, memang mudah; tetapi dikatakan susah, juga ada susahnya. Perlu perhatian, antara lain:
pertama, membersihkan kandang dari kotoran

kedua, menampung air kencing kelinci

ketiga, mencari rumput atau sayuran mentah sisa dapur.

Tetapi banyak keuntungannya:
pertama, kelinci menjadi semakin banyak dalam tempo tidak lama
kedua, kotoran dan air kencing kelinci untuk percepatan pembuatan kompos
ketiga, kelinci bisa dijual atau dibagikan kepada saudara.


Sekali-sekali kelinci-kelinci ini dilepas dari kandangnya, rupanya senang sekali, berlompatan kian kemari, sambil makan rumput segar. Tetapi harus hati-hati, kalau semua dilepas, tidak teramati, bisa kabur ke luar rumah.

Read More..

Saturday, May 7, 2011

INVESTASI HIJAU TIGA PULUH MENIT

Media Indonesia dan Bataviase.co.id, http://bataviase.co.id/node/458057
Foto: Komposter Aerob, Sobirin 2010
Kini Sobirin punya tujuh komposter di rumahnya. Di halaman depan terdapat empat lubang komposter anaerob dan satu komposter aerob. Sisanya, dua komposter anaerob ada di halaman belakang. Mulut lubang anaerob sengaja dibeton, agar tidak longsor, namun didalamnya tetap tanah telanjang.






INVESTASI HIJAU TIGA PULUH MENIT
14 Nov 2010, Lingkungan - Media Indonesia

Mereduksi sampah rumah tangga tak membutuhkan waktu sepanjang durasi film di bioskop per hari. Hasilnya, kompos dan bahan kerajinan daur ulang. Sica Harum

Rumah berhalaman luas di kawasan Cigadung, Bandung, Jawa Barat, itu tampak senyap-segar. Beberapa pohon besar memayungi tanah yang berumput itu. Sejumlah pot tanaman diletakkan berjejer, dekat ke beranda. Salah satunya memuat tomat cherry kuning. Di belakang rumah, pot tanaman bertambah banyak. Mulai cabai sampai sosin. Pernah juga, ditanam padi di dalam pot. Hasilnya bagus.

"Semua ini ya pakai kompos sendiri. Komposisi dengan tanah, setengah-setengah," kata Sobirin Supardiyono, pemilik rumah.
Ia mengaku bukan pecinta tanaman. "Ada tanaman itu, ya sebetulnya karena memanfaatkan kompos saja," katanya. Pria berusia 66 tahun itu mulai mengolah sampah rumah tangga sejak Bandung dilanda tsunami sampah pada 2005. "Waktu itu Bandung sampai disebut kota terkotor. Nah, saya pikir kenapa enggak coba mengolah sampah rumah tangga," ujarnya.

Rata-rata keluarga menghasilkan sampah rumah tangga mulai dari 0,5 -2 kilogram per hari. Sebanyak 65% sampah tersebut merupakansampah basah, mulai dari daun kering sampai sisa makanan.
Lantaran itu, Sobirin fokus mengolah sampah organik. "Karena enggak tau ilmunya, setahun pertama saya gagal," ujar mantan Kepala Pusat Litbang Sumber Daya Air Bandung ini.

Kini Sobirin punya tujuh tempat pembuat kompos di rumahnya. Di halaman depan terdapat empat lubang pembuat kompos metode anaerob dan satu komposter metode aerob yang terbuat dari batu bata. Sisanya, dua komposter anaerob ada di halaman belakang. Mulut lubang itu sengaja dibeton, agar tidak longsor. Namun bagian dalam lubang tetap berdindingkan tanah telanjang.


Sobirin melangkah mendekati salah satu lubang lalu meminta asistennya - ia panggil Ndut - membuka tutup lubang yang terbuat dari beton tipis, berbentuk bujur sangkar dengan panjang sisi 60 cm. Terlihat tumpukan sampah daun, hampir mendekati mulut lubang berkedalaman 1 meter itu. "Nah, ada cecunguknya (kecoa). Bagus, bagus," ujar Sobirin, lalu memerintahkan Ndut untuk mengambil cairan MOL (mikro-organisme lokal).
[catatan: cucunguk dan binatang kecil lainnya akan pergi/menghilang/mati oleh proses panas termofilik pengomposan].

Resep manjur

MOL buatan Sobirin disimpan di dalam tong plastik berkapasitas 25 liter, juga diletakkan di halaman depan. Ia membuat MOL sendiri dari campuran 2 kilogram tapai singkong, 1 kilogram gula, dan 5 gelas air kelapa muda yang dilarutkan dalam 25 liter air. "Bisa juga tanpa air kelapa. Tapi lebih bagus menggunakan air kelapa, atau bisa diganti dengan air nira." Cairan itu dibiarkan empat hari. Tutup tong plastik dilubangi kecil-kecil untuk jalur udara. Lalu di atasnya ditutupi lagi agar rapi [dan agar tidak kemasukan air hujan, asal udara tetap mengalir].

Ketika tong itu dibuka, tercium bau khas alkohol.
Ndut tangkas mengambil penyendok besar, menciduk MOL dan menumpahkan ke dalam lubang perlahan. "MOL ini berfungsi menguraikan bahan kompos. Tinggal dicampur saja saat kita mengaduk bahan kompos tiga hari sekali. Hasil-nya, satu bulan saja kompos sudah bisa dipanen.

Tanpa MOL, sampah organik tetap bisa jadi kompos, tapi lama," jelas pria yang kini aktif di Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) ini.
Sobirin mendapat ilmu MOL dari seorang petani di Tasikmalaya, Jawa Barat. Menurutnya, MOL bisa juga dibuat dari sampah sisa makanan. "Campurannya ya jijiklah. Sekarang saya pakai peuyeum (tapai singkong) saja. Saya juga ada urine kelinci, tapi ya baunya menyengat sekali," ujarnya sembari mendekat ke komposter aerob.

Komposter aerob milik Sobirin dibangun dari batu bata yang disemen. Sengaja, celah udara dibuat di dinding komposter setinggi satu meter. Pada bagian bawah, dibuat semacam gua untuk memanen kompos. Di atas, Sobirin menggunakan asbes sebagai penutup.
Saat asbes disingkap Ndut, tak tercium bau busuk, sama halnya dengan komposter anaerob.

Sobirin meminta Ndut menambahkan bahan kompos. "Kalau yang aerob seperti ini, bahan kompos harus dicacah lebih dulu. Makanya saya sebetulnya enggak terlalu suka dengan metode ini (aerob). Kalau yang itu kan langsung dimasukkan saja," kata Sobirin yang asli Magelang, Jawa Tengah, ini seraya menengok ke komposter anaerob.


Tak lama mencacah, Ndut lantas memasukkan irisan daun-daun kering berwarna cokelat, juga daun hijau. Perbandingannya, kira-kira 1:1. Daun yang telah cokelat memiliki unsur karbon dan daun hijau mengandung banyak nitrogen, bagus untuk kompos. Dia juga menambahkan MOL, lalu mengaduk bahan kompos yang baru agar bercampur sempurna dengan tumpukan lama. Seekor cacing terlihat di lapisan bawah, menggeliat [artinya kompos sudah jadi, memungkinkan cacing tanah hidup]. Ndut mengambil saringan, mengayak kompos agar tersisa yang halus saja untuk media tanam.

Zero waste

Berhasil dengan kompos, Sobirin seperti keranjingan menihilkan buangan limbah rumah tangga. Sampah plastik ia cuci bersih sebelum diserahkan kepada pemulung.
Adapun sampah kertas, dihancurkan menjadi bubur dan disimpan di dalam tong plastik. Kelak, bisa dicampur dengan lem putih dan dikeringkan menjadi bahan dasar kerajinan tangan. Sifatnya seperti “clay” (tanah lempung).

Ia bilang, cuma butuh 30 menit sehari untuk memilah sampah. Hasilnya, sampah yang benar-benar menjadi urusan dinas kebersihan kota hanyalah sampah elektronika, misalnya batu baterai bekas. "Waktu yang dibutuhkan enggak lama, milih sampah juga enggak susah. Tapi yang penting, ada satu anggota keluarga yang diserahi tanggung jawab," saran Sobirin.

Bukan cuma sampah yang digarap Sobirin. Begitu juga dengan air hujan. Di halaman belakang rumah Sobirin, toren (water storage) berkapasitas 1.000 liter (1 m3) siap memanen air hujan dari talang, diletakkan tak jauh dari kandang kelinci dan dua lubang komposter anaerob. "Sebetulnya sederhana saja kan, enggak ada yang aneh," kata ahli geologi lingkungan ini.


Pengalaman mengelola sampah sendiri dituliskan Sobirin di blognya, www.clearwaste.blogspot.com yang kini jarang diperbarui lagi. "Sekarang lebih aktif di facebook," ujar kakek lima cucu, yang juga menulis di www.sobirin-xyz.blosgpot.com dan ini. Berkat internet, semakin banyak orang yang terinspirasi. (M-l)miweekend® mediaindonesia.com

Read More..

Saturday, April 30, 2011

MODIFIKASI PENJERNIH AIR LIMBAH CUCIAN

Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 30 April 2011
Foto: Sobirin, 2011, Modifikasi Kolam Penjernih Limbah

Oleh: Sobirin
“Kolam penjernih air limbah” yang selama ini saya pakai, dapat dibaca dalam blog ini. Saya merasa kolam tipe tersebut kurang berhasil. Saya mencoba memodifikasinya. Saya membongkar kolam-kolam penyaring bagian atas, diganti dengan kotak plastik bersusun yang diberi lubang-lubang di bawahnya.




Selama ini memang saya melihat kegagalan dari tipe yang lama. Air limbah cucian yang keluar masih banyak mengandung lemak minyak dan busa deterjen. Tanaman air kurang subur, ikan-ikanpun tidak kuat hidup.

Selama ini saya tidak menggunakan saringan ijuk atau pasir, dan juga tidak menambahkan tawas atau kaporit.


Lalu saya membongkar kolam-kolam penyaring yang ada di bagian atas sistem kolam ini. Kemudian menggantinya dengan kotak boks plastik susun. Kotak ini bisa dibeli di toko kelontong alat-alat rumah tangga, dengan harga Rp 30.000,0. Ukuran 30 cm x 20 cm x 10 cm, 3 susun, seperti kotak laci kecil.

Bagian bawah tiap kotak diberi lubang-lubang kecil. Kemudian tiap kotak diisi dengan busa dan pasir. Semoga ada perubahan.

Read More..

Sunday, March 27, 2011

KANDANG KELINCI MENEMPEL TEMBOK

Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 28 Maret 2011
Foto: Sobirin, 2011, Kandang Kelinci Menempel Tembok

Oleh: Sobirin

Kelinci yang saya pelihara bertambah banyak. Kandang yang lama mulai penuh. Harus membuat kandang baru, tetapi kalau terus membuat kandang baru maka halaman rumah jadi penuh kandang kelinci. Akhirnya diakali dengan membuat kandang yang memanjang yang menempel di dinding tembok.






K
andang ini bentuknya memanjang, ukurannya 40 cm x 40 cm x 400 cm, terbagi menjadi 7 kandang. Benar-benar menempel, dipaku kuat, tanpa penyangga ke tanah. Jadi di bawah kandang kosong, dan diberi plastik untuk tampungan kencing kelinci yang mengalir ke ember.

Tinggi kandang dari atas tanah sekitar 75 cm, supaya mudah dalam membersihkan dan merawatnya.
Masing-masing kandang diberi pintu dengan engsel untuk membuka dan menutup bila memberi rumput makanan kelinci.

Air kencing dan kotoran kelinci sangat berguna sebagai bahan MOL atau pupuk cair.

Read More..

Wednesday, February 2, 2011

PERTANIAN RUMAH TANGGA DIBIKIN RADA BERSENI

Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 3 Pebruari 2011
Foto: Sobirin, 2011, Slada Bokor Dalam Pot

Oleh: Sobirin

Setelah berhasil membuat kompos dari sampah rumah tangga yang diproses dengan MOL buatan sendiri, lalu komposnya buat apa? Dijual? Ah tidak! Untuk pertanian rumah tangga saja. Bercocok tanaman bumbu dapur saja. Supaya agak berseni ditanamnya dalam pot tanah, ditaruh di atas tumpukan bata.




P
otnya terbuat dari tanah, dibeli dari tukang pot, katanya buatan Plered Purwakarta. Lalu medianya adalah kompos dan tanah yang dicampur merata, perbandingan kompos:tanah = 1:1.


Jenis tanaman dipilih slada bokor, biar 1 bulan atau 2 bulan sudah bisa dipanen. Benih slada bokor ukurannya kecil-kecil, lebih kecil dari butir-butir wijen. Disemai dulu di tempat persemaian.

Setelah bertunas dan ukurannya sekitar 5 cm, dipindahkan dalam pot.
Ada 5 pot besar dan 5 pot kecil berisi slada bokor tumbuh dengan subur, karena disiram dengan air MOL yang encer sekali. Disiramnya tidak di tanamannya, tetapi di media tanah dan kompos.

Memang kelihatannya nyeni juga, bagaikan “agricu
ltural-art”.

Read More..

Friday, January 28, 2011

TERNAK KELINCI BERANAK-PINAK

Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 28 Januari 2011
Foto: Sobirin, 2011, Kelinci Beranak-Pinak
Oleh: Sobirin
Hampir satu tahun blog “clearwaste” tidak diperbarui, salah satu alasannya “sibuk” di “facebook”. Selama satu tahun kelinci yang dulu masih kecil-kecil, sekarang sudah beranak-pinak, jumlahnya menjadi banyak sekali. Kalau dihitung, lebih dari 20 ekor. Warnanya ada yang coklat, belang putih hitam.


K
andangnya terpaksa dibuatkan lagi. Agak repot sedikit, karena harus mencari rumput untuk makanannya. Kelinci-kelinci ini makannya rakus. Setiap diberi rumput, terus saja di makan. Jadi memberi makannya pagi dan sore.
Yang menguntungkan adalah air kencing dan kotorannya, bisa dicampurkan dalam proses pembuatan kompos. Komposnya pun menjadi lebih berkualitas. Banyak yang menyarankan, supaya daging kelinci ini dikonsumsi, menambah protein hewani. Terus terang saya tidak tega.

Read More..

Thursday, April 29, 2010

MOL HITAM

Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 29 April 2010
Foto: Sobirin, 2010, MOL Kencing Kelinci
Oleh: Sobirin

Mikro Organisme Lokal (MOL) sebagai agen percepatan dalam pembuatan kompos dapat dibuat dengan bermacam cara mudah, murah, tapi bermanfaat. Dalam tulisan-tulisan sebelumnya telah disampaikan ada MOL nasi, MOL tapai, dan lain-lainnya lagi. Kali ini ada MOL hitam dari kencing kelinci.





MOL hitam ini adalah MOL seperti biasanya, misalnya MOL tapai, dengan bahan-bahan tapai atau peuyeum (bisa tapai ketan atau tapai ubi) kira-kira 1 Kg, ditambah gula pasir (atau gula merah) kira-kira setengah Kg, air kelapa kira-kira 4 gelas, dicampurkan dalam tong plastik yang diisi air kira-kira 40 Liter. Maka yang terjadi adalah MOL tapai biasanya.

Kebetulan saya mempunyai kelinci yang dipelihara dalam kandang, dan dasar kandang bagian luar diberi lembaran plastik, sehingga air kecing kelinci ini tertampung. Lalu air kencing kelinci ini saya tambahkan ke dalam MOL tapai, jadilah MOL kencing kelinci yang warnanya hitam.


Ternyata MOL kencing kelinci ini relatif lebih cepat dalam membantu proses pengomposan. Proses kompos yang biasanya berlangsung selama 1 bulan, ternyata hanya berlangsung selama 3 minggu.

MOL kencing kelinci ini juga saya coba untuk menyiram tanaman, tetapi harus diencerkan terlebih dahulu, yaitu 1 kaleng MOL diencerkan dengan 15 kaleng air, hasilnya juga cukup efektif menyuburkan tanaman.

Read More..