Friday, July 20, 2007

KOMPOSTER KERANJANG TAKAKURA

Dikembangkan oleh Bapak dan Ibu Djamaludin, Taman Karinda
Bandung, Jl. Alfa 92 Cigadung, 20 Juli 2007

Foto: Sobirin, 2007, Keranjang Takakura

Oleh: Sobirin


Pengomposan cara ini sangat bermanfaat untuk para mahasiswa, bujangan, keluarga kecil, karena bisa ditempatkan di dalam kamar, apartemen, atau di dalam rumah biasa.


Dalam kunjungan saya ke rumah Bapak dan Ibu Djamaludin, pemilik taman kompos Karinda, di Lebak Bulus, Jakarta, saya mendapat ilmu baru, yaitu membuat kompos murah dengan wadah keranjang plastik.

Pengomposan cara ini sangat bermanfaat untuk para mahasiswa, bujangan, keluarga kecil, karena bisa ditempatkan di dalam kamar, apartemen, atau di dalam rumah biasa.


Menurut Ibu Djamaludin, konsep membuat kompos dengan keranjang ini diperkenalkan oleh Mr. Takakura pada saat pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga di Pusdakota Surabaya. Rupanya ini pengalaman praktek Mr. Takakura sendiri di Jepang. Jadi keranjang ini dikenal sebagai Keranjang Takakura.


Keranjang plastik semacam di gambar foto, mudah didapat di toko atau pasar yang menjual barang-barang kelontong rumah tangga. Ukurannya hanya sekitar 50 liter, biasanya digunakan untuk keranjang wadah pakaian kotor sebelum dicuci.


Caranya begini:


Pertama, cari keranjang berukuran 50 liter berlubang-lubang kecil (supaya bangsanya tikus tidak bisa masuk). Jangan lupa kalau membeli keranjang plastik ini berikut tutupnya.


Kedua, cari doos bekas wadah air minum kemasan, atau bekas wadah super mi, asal bisa masuk ke dalam keranjang. Doos ini untuk wadah langsung dari bahan-bahan yang akan dikomposkan.


Ketiga, isikan ke dalam doos ini kompos yang sudah jadi. Kalau sebelumnya anda tidak membuat kompos sendiri, anda minta saja ke teman anda yang punya persediaan kompos yang siap pakai. Tebarkan kompos ke dalam doos selapis saja setebal kurang lebih 5 cm. Lapisan kompos yang sudah jadi ini berfungsi sebagai starter proses pengomposan, karena di dalam kompos yang sudah jadi tersebut mengandung banyak sekali mikroba-mikroba pengurai. Setelah itu masukkan doos tersebut ke dalam keranjang plastik.


Keempat, bahan-bahan yang hendak dikomposkan sudah bisa dimasukkan ke dalam keranjang. Bahan-bahan yang sebaiknya dikomposkan antara lain:
Sisa makanan dari meja makan: nasi, sayur, kulit buah-buahan. Sisa sayuran mentah dapur: akar sayuran, batang sayuran yang tidak terpakai. Sebelum dimasukkan ke dalam keranjang, harus dipotong-potong kecil-kecil sampai ukuran 2 cm x 2 cm.

Kelima, setiap hari bahkan setiap habis makan, lakukanlah proses memasukkan bahan-bahan yang akan dikomposkan seperti tahap sebelumnya. Demikian seterusnya. Aduk-aduklah setiap selesai memasukkan bahan-bahan yang akan dikomposkan. Bilamana perlu tambahkan lagi selapis kompos yang sudah jadi.


Anehnya, doos dalam keranjang ini lama tidak penuhnya, sebab bahan-bahan dalam doos tadi mengempis. Terkadang kompos ini beraroma jeruk, bila kita banyak memasukkan kulit jeruk. Bila kompos sudah berwarna coklat kehitaman dan suhu sama dengan suhu kamar, maka kompos sudah dapat dimanfaatkan.


Catatan: khusus untuk komposter Keranjang Takakura ini, upayakan agar bekas sayuran bersantan, daging dan bahan lain yang mengandung protein tidak dimasukkan ke dalam doos. Mengingat starter-nya telah menggunakan kompos yang sudah jadi, maka MOL (mikroba loka) tidak digunakan.

Read More..

Wednesday, July 18, 2007

HARI LINGKUNGAN DI KOTA BANDUNG

Apa yang telah anda lakukan untuk Kota Bandung kita ini?
Diperingati pada 18 Juli 2007 di Taman Tegallega

Foto: Sobirin 2006, Hutan Kota Bandung, Taman Cilaki

Oleh: SOBIRIN

Warga kota mengkritik persampahan Kota Bandung, tetapi 90% warga masih tidak peduli dengan pengelolaan sampah rumah tangganya (kalau di rumah saya sudah “zero waste”, sampah rumah tidak dibuang ke luar rumah).



SAMBUTAN DARI AKTIVIS LINGKUNGAN


Ass. Wr. Wb.

Sampurasun,

Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada setiap tanggal 5 Juni telah ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak tahun 1972. Kemudian tiap tahun di tiap negara di dunia ini memperingati Hari Lingkungan ini dengan tujuan menanamkan kesadaran bahwa kehidupan akan berkelanjutan, bila lingkungan hidup ini kita lestarikan. Kota Bandung memperingati Hari Lingkungan Hidup sedunia ini tidak pas pada tanggal 5 Juni yang lalu. Tidak apa-apa, karena pada hakekatnya setiap hari kita harus sadari sebagai pelaksanaan hari lingkungan.

Kalau kita membaca dan mendengar berita di media massa, selalu saja warga Kota Bandung ini mengeluhkan dan mengkritik banyak hal tentang ketidak-nyamanan Kota Bandung, misalnya:
Kota Bandung semakin panas dan berdebu,
Kota Bandung kekurangan pohon,
Kota Bandung lautan sampah,
Kota Bandung sungainya sekarat, dan lain-lainnya.

Hampir seluruh warga mengkritik perihal lingkungan Kota Bandung yang kita cintai ini. Tetapi kalau kemudian kita balik bertanya kepada diri kita masing-masing: Apa yang telah kita lakukan untuk Kota Bandung tercinta ini? Apa yang telah anda lakukan untuk Kota Bandung tercinta ini?

Ambil contoh tentang sampah Kota Bandung. Warga kota mengkritik persampahan Kota Bandung, tetapi 90% warga kota masih tidak peduli dengan pengelolaan sampah rumah tangganya (kalau di rumah saya sudah “zero waste”, sampah rumah tidak dibuang ke luar rumah). Warga kota mengeluhkan Kota Bandung kekurangan pohon, tetapi faktanya Ruang Terbuka Hijau Privat Kota Bandung (yaitu Ruang Terbuka Hijau di halaman atau pekarangan milik warga) masih sangat minim (kalau di halaman rumah saya, ada 10 pohon lebih).

Peringatan Hari Lingkungan Hidup tahun 2007 ini Indonesia memilih tema ”Iklim Berubah, Waspadalah terhadap Bencana Lingkungan”.
Apakah benar iklim herubah? Hasil penelitian para ahli iklim memang mengatakan iklim sedang berubah. Perubahan iklim telah menyebabkan berbagai persoalan lingkungan seperti perubahan pola curah hujan yang telah mengakibatkan banjir dan longsor ataupun musim kemarau berkepanjangan, serta munculnya berbagai macam penyakit menular.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Kita harus melakukan upaya adaptasi terhadap perubahan iklim ini. Kalau mengurangi ancaman bencana dengan mitigasi, kalau mengurangi dampak perubahan iklim dengan adaptasi. Apa upaya adaptasi ini? Salah satunya adalah membangun kembali iklim mikro Kota Bandung dengan memperbanyak penanaman pohon sebagai pelindung kota. Iklim mikro adalah iklim yang terdapat disekitar dan dibawah rerimbunan pohon itu sendiri, semakin banyak pohon akan semakin handal iklim mikro kota, dan diyakini dapat menjadi benteng terhadap dampak perubahan iklim. Seperti kita lihat sekarang, Tegallega menjadi kawasan dengan iklim mikro yang baik, sehingga banyak pengunjung menikmati suasana kesegaran kota.

Adaptasi terhadap perubahan iklim ini telah tersirat dalam UU No. 26 Th. 2007 tentang Penataan Ruang. Secara khusus UU ini mengamanatkan perlunya penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau di perkotaan, yang proporsi luasannya ditetapkan paling sedikit 30% dari luas wilayah kota, yang diisi oleh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Seluas 20% harus dibangun oleh Pemerintah Kota disebut sebagai Ruang Terbuka Hijau Publik, sisanya 10% harus dibangun oleh warga di halaman atau pekarangan milik warga disebut sebagai Ruang Terbuka Hijau Privat.

Walaupun masih ada kendala di sana-sini, Kota Bandung telah berupaya menjalankan politik pro lingkungan melalui berbagai program antara lain menjaring aspirasi masyarakat terhadap lingkungan (jasmara lingkungan), menjalankan konsep pendidikan lingkungan di sekolah melalui muatan lokal lingkungan hidup. Yang masih harus terus ditekankan kepada warga Kota Bandung adalah supaya setiap warga Kota Bandung: mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, harus mau berbudaya lingkungan. Menurut saya, budaya lingkungan dan adaptasi terhadap perubahan iklim harus menjadi budaya seluruh warga Kota Bandung untuk mewujudkan visi Kota Bandung menjadi Kota Jasa yang Bermartabat.

Perlu kita ingat bersama bahwa Kota Bandung pernah memiliki julukan-julukan yang indah, misalnya:
A Paradise in Exile ( abad 18),
Bandung Excelsior (1856),
The Sleeping Beauty (1884),
De Bloem van Bersteden (abad 19),
Parisj van Java (1920),
Intellectuelle Centrum van Indie (1921),
Staatkundig Centrum van Indie (1923),
Europe in de Tropen (1930),
Bandung Kota Kembang (1950-an),
Bandung Ibu Kota Asia-Afrika (1955)

Sekali lagi: untuk mewujudkan visi Kota Bandung menjadi Kota Jasa yang Bermartabat, kita balik bertanya kepada diri kita masing-masing: Apa yang telah kita lakukan untuk Kota Bandung tercinta ini? Apa yang telah anda lakukan untuk Kota Bandung tercinta ini? Mari kita prak, prung, der, melestarikan lingkungan hidup Kota Bandung tercinta ini.

Hidup Kota Bandung!
Sekian dan terimakasih,
Ws.Wr. Wb

Read More..

Sunday, July 8, 2007

GAGAL MEMBUAT KOMPOS?

Bandung, Jl. Alfa 92, Cigadung II, 8 Juli 2007
Foto: Sobirin, 2006, Ketika saya gagal membuat Kompos
Oleh: Sobirin

Gagal membuat kompos, lalu putus asa? Jangan! Mari kita coba terus, tanya kiri, tanya kanan, baca referensi. Tetapi paling baik adalah terus dipraktekkan, belajar dari kegagalan.


Saya ingat sewaktu Pa Ipong (putera mendiang Jenderal Witono) memberi tahu saya mengenai kata-kata petuah yang diperolehnya dari Abah Iwan Abdurachman (budayawan, penyanyi, pencinta lingkungan). Abah Iwan juga mendapat petuah ini dari gurunya, dalam bahasa Sunda begini: nyaho can tangtu ngarti, ngarti can tangtu bisa, bisa can tangtu tuman, tuman can tangtu ngajadi. Artinya kurang lebih: tahu belum tentu mengerti, mengerti belum tentu bisa, bisa belum tentu menjadi kebiasaan, sudah biasa belum tentu berhasil. Kata-kata petuah tadi memang sangat dalam artinya, jadi ketika awal-awalnya saya gagal dalam hal membuat kompos, saya ingat kata-kata petuah tadi, bahwa ketika itu saya belum memahami masalah perkomposan.

Setelah dua kali berkunjung ke tempat pengomposan Bapak dan Ibu Djamaludin di Komplek Bumi Karang Indah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan (Taman Karinda), maka saya tahu mengapa saya gagal dalam membuat kompos. Saya diberitahu Bapak dan Ibu Djamaludin dan diberi catatan-catatan supaya tidak gagal lagi dalam membuat kompos, antara lain begini:

Masalah 1:
Bila dalam proses pengomposan, berbau amonia

Penyebab:
Terlalu banyak bahan-bahan daun-daun hijau (terlalu banyak nitrogen)

Solusi:
Tambah bahan daun-duan kering berwarna coklat, dan diaduk-aduk


Masalah 2:
Berbau tengik seperti telur busuk, atau berbau asam

Penyebab:
Terlalu lembab, atau kurang udara, sehingga yang terjadi adalah pembusukan bukan proses penguraian

Solusi:
Diaduk sampai bau hilang, tambahkan bahan-bahan berwarna coklat (daun kering, serbuk gergaji, dedak) hingga kelembaban hilang


Masalah 3:
Mengempal, dan berbau telur busuk

Penyebab:
Kurang udara, terlalu lembab, atau terlalu basah

Solusi:
Tambahkan bahan coklat, dan diaduk hingga baunya hilang


Masalah 4:
Kering

Penyebab:
Kurang air

Solusi:
Diberi air, dibasahi, sambil dibolak-balik, diaduk-aduk


Masalah 5:
Terlalu basah

Penyebab:
Terlalu banyak air, bahan kompos terlalu basah, kehujanan, tidak cukup udara

Solusi:
Tambahkan bahan coklat, dibolak-balik, diaduk-aduk.


Masalah 6:
Panas tidak merata, atau bahkan dalam proses pengomposan tidak timbul panas

Penyebab: Wadah tempat pengomposan terlalu kecil, atau tumpukan bahan kompos terlalu sedikit, bahan dipotong kecil-kecil ukuran 3 cm-an.
Solusi:
Ukuran wadah atau tumpukan bahan kompos minimum 50 cm x 50 cm x 50 cm, idealnya 1 m x 1 m x 1 m. Ukuran lebih kecil juga bisa, misalnya memakai karung, asal bahan dipastikan dipotong kecil-kecil 3 cm-an.


Masalah 7:
Tidak ada perubahan yang terjadi, tidak ada panas yang timbul

Penyebab:
Kurang bahan hijau, kurang udara, kurang lembab, bahan tidak dicacag (dipotong kecil-kecil ukuran 3 cm-an)

Solusi:
Pastikan bahan hijau cukup banyak, bahan dipotong kecil-kecil ukuran 3 cm-an, selalu diaduk-aduk, basahi dengan air dan MOL


Masalah 8:
Banyak lalat, serangga, dan belatung

Penyebab:
Ada sampah daging, ikan, susu, santan, sayuran busuk, terlalu banyak sampah dapur yang tidak diseleksi, dan tidak ditutup dengan baik.

Solusi:
Dicampur atau ditutupi dengan selapis tanah, serbuk gergaji, dedak, atau ditutupi dengan selapis kompos yang sudah jadi (kompos matang)


Masalah 9: Dikais-kais tikus, kucing, anjing
Penyebab:
Ada sisa daging, ikan, atau makanan busuk

Solusi:
Bila ada sisa daging atau ikan dalam proses pengomposan agar diambil, disingkirkan, agar kemudian diaduk-aduk kembali, dibuat wadah sedemikian rupa agar binatang tidak bisa masuk, lubang-lubang harus tetap ada untuk sirkulasi udara, tetapi cukup ukuran kecil2 saja.


Demikian saran-saran Bapak dan Ibu Djamaludin, yang kemudian saya praktekkan, dan akhirnya walaupun cara membuat mikroorganisme-nya beda, tetapi hasilnya sukses.

Read More..

Friday, June 29, 2007

KOMPOS TAMAN KARINDA

Bandung, Jl.Alfa 92, Cigandung, 29 Juni 2007

Foto: Sobirin, 2006, Ibu Djamaludin sedang memproses Kompos
Oleh: Sobirin
Dua kali saya mengunjungi Taman Karinda kepunyaan keluarga Bapak dan Ibu Djamaludin yang juga berhobby membuat kompos sendiri. Bapak Djamaludin ini adalah mantan Menteri Kehutanan era Presiden Soeharto.

Sedangkan Ibu Djamaludin mempunyai nama asli Sri Murniati. Keluarga ini memang keluarga kompos.

Di rumahnya mereka membuat kompos dengan keranjang yang namanya keranjang Takakura (lain kali saya akan khusus bercerita tentang keranjang kompos Takakura ini), sedangkan di pekarangan di luar rumah, mereka membuat kompos dengan model komposter bak (ada yang dari bata ditumpuk, ada yang dari anyaman bambu, juga dari kayu).

Pekarangan tempat membuat kompos ini kira-kira berjarak 200 meter dari rumah mereka. Tanah ini milik pengembang di komplek perumahan mereka. Awalnya pengembang keberatan karena dikhawatirkan akan membuat bau dan mengundang lalat. Tetapi ternyata setelah tata cara membuat komposnya tidak menimbulkan bau, apalagi setelah dibuat taman dengan nama Taman Karinda yang dipenuh tanaman-tanaman menarik, termasuk bunga kana kebanggaan Bapak Djamaludin, maka pengembang menjadi tidak keberatan.

Bahan kompos diambil dari daun-daun yang berserakan di jalan komplek yang dikumpulkan oleh ibu-ibu penyapu jalan. Setiap kilogram daun-daun kering ini dihargai Rp. 80,-. Kemudian daun-daun kering, ditambah dengan daun-daun hijau dicacag dengan bedog, dan dimasukkan dalam komposter dan ditambahkan mikrobakteri.

Menurut Bapak dan Ibu Djamaludin, mikrobakteri ini dibuat oleh temannya dari Kota Malang. Saya tidak tahu bahan-bahan untuk membuat mikrobakteri ini, tetapi saya mencoba membauinya dan baunya agak menyengat asam. Memang mikrobakteri buatan ini banyak varian-nya. Semuanya bisa dicoba sendiri, seperti cara saya membuat MOL sendiri (silahkan baca tulisan saya yang lalu). Bahan kompos yang telah dicacag dan diberi mikroba serta sudah masuk dalam bak komposter, kemudian ditutup dengan bahan seperti karung agar penguapannya tidak banyak. Tiap hari diaduk-aduk dan ditambah mikroba secukupnya, sampai akhirnya tidak sampai 1 bulan kompos bisa dimanfaatkan.

Di tempat pengomposan Bapak dan Ibu Djamaludin ini memang dilengkapi semacam saung (gubuk) agar komposter tidak kehujanan. Bahkan di dekatnya dibuatkan saung yang terbuka kira2 berukuran 4 x 5 meter persegi, untuk duduk-duduk dan diskusi para pengunjung yang ingin belajar memuat kompos. Mau tahu alamat Bapak dan Ibu Djamaludin? Ini dia: Bumi Karang Indah, Lebak Bulus, Jakarta, Telpon Rumah: 021-75909167, HP: 0815 8014375.

Read More..

Saturday, June 16, 2007

KOMPOS SOLIHIN GP DAN MOL IKAN ASIN

Bandung, Jl. Alfa 92 Cigadung, 16 Juni 2007
Foto: Sobirin, 2007, Kompos Solihin GP
Oleh: Sobirin
Bapak Solihin GP, siapa yang tidak mengenalnya? Tokoh nasional yang akrab dipanggil sebagai Mang Ihin, adalah salah seorang pejoang 45 yang memberikan andil dalam memerdekakan Indonesia dari tangan penjajah.

Dalam usia beliau yang sekarang menginjak 81 tahun, beliau telah malang-melintang berjuang menaklukkan pemberontakan antara lain Kartosuwiryo, Kahar Muzakar, dan lain-lainnya. Pengalaman di medan joang sangat banyak, dari Sabang hingga Merauke, bahkan dua kali memimpin misi perdamaian di Congo, Afrika. Pernah menjadi Gubernur Akabri, pernah menjadi Gubernur Jawa Barat, pernah menjadi Sesdalobang.

Di usia yang sangat senja ini, manakala teman-teman seangkatan beliau sudah ingin beristirahat bersama keluarga, beliau masih aktif, dan menamakan dirinya sebagai “Pejoang Lingkungan”.
Beliau sekarang giat di Lembaga Swadaya Masyarakat yang bernama “Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda” atau disingkat DPKLTS. Suku kata Sunda bukan membatasi wilayah Sunda saja, tetapi melingkupi wilayah yang lebih luas lagi, karena hakekat Sunda di sini adalah kearifannya. “Think Local Act Global” begitu kira-kira.

Sebagai pejoang lingkungan, telah banyak yang beliau lakukan, mulai dari penyadaran kepada perambah hutan sehingga mereka mau meninggalkan hutan yang dirambah, penghijauan lahan kritis, pelatihan menanam padi metode "System of Rice Intensification" (SRI), dan bahkan beliau mempraktekkan sendiri bagaimana cara membuat kompos.


Kompos yang dibuat oleh beliau pada hakekatnya sama dengan kompos yang saya buat, dengan bahan-bahan organik, dicampur dengan kotoran kambing. Diaduk menjadi satu ditempat yang sangat sederhana di pekarangan rumahnya Jl. Cisitu Indah VI/1 Bandung, yaitu hanya dibatasi dengan pagar pendek dari bambu, dengan ukuran 2 m x 3 m. Untuk menghindari terik matahari dan air hujan, tempat pengomposan ini dibuatkan gubuk sederhana. Mengapa tempat pengomposannya sederhana sekali? Beliau berkata: "Agar para petani mudah dan tidak ragu-ragu mencontohnya!".

Pekerjanya ada dua orang, yang seorang mencacag atau memotong bahan organik, dan yang seorang lagi sebagai tukang mengaduk-aduk.
Yang berbeda dengan saya adalah mikro organisme lokal (MOL)-nya. Beliau membuat MOL dengan metoda ibu Ires, yaitu seorang pekerja pertanian di Sukabumi.

Resep MOL-nya agak unik, yaitu terdiri dari bahan-bahan: ikan asin 2 ons, terasi 2 ons, dedak 1 kg, semuanya digodok dengan air kelapa 2 liter dan diaduk sampai hancur.
Pindahkan campuran hasil godogan tadi kedalam ember (jolang) dan tambahkan gula pasir 2 ons, kotoran hewan 1 kg, dan air 20 liter. Diaduk-aduk, kemudian dibiarkan selama 9 hari, tetapi setiap 3 hari diaduk-aduk lagi. Bila telah sembilan 9 hari, campuran bahan ini disaring, airnya adalah MOL, sedang ampasnya bisa dicampurkan saja sebagai tambahan bahan kompos yang telah dicacag. MOL telah bisa dipakai dengan syarat diencerkan lagi dengan perbandingan 1 bagian MOL dicampur 10 bagian air.

Semprotkan ke bahan kompos yang telah dicacag. Setiap 3 hari diaduk-aduk, maka dalam tempo kurang dari satu bulan, kompos telah bisa dimanfaatkan. Itulah kompos model Mang Ihin.
Perjoangan melestarikan lingkungan dan sebagai pembina lingkungan didengar pula oleh Pemerintah Pusat, dan akhirnya beliau mendapat Kalpataru yang diberikan langsung Presiden SBY. Wiludjeng Mang Ihin!

Read More..

Saturday, June 9, 2007

SOLIHIN GP MENINJAU KOMPOSTER SAYA

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 9 Juni 2007
Foto: Sobirin, 2006, Solihin GP, Sajiboen, Mubiar di rumah saya.


Oleh: Sobirin

Saya mem-promosi-kan komposter sederhana dari pasangan bata berlubang yang murah meriah ini kepada Bapak Solihin GP dan teman-teman lain di Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS).

Rupanya mereka tertarik juga ingin melihat komposter yang saya ceritakan. Maka rombongan kecil pak Solihin GP datang ke rumah saya, antara lain pak Sajiboen dan pak Mubiar.

Saya perlihatkan bentuk komposter bata yang dipasang dengan semen dan disisakan spasi sehingga berlubang-lubang untuk jalan udara, karena komposter ini model AEROB. Ukuran komposter ini kira-kira 1 m x 1 m x 1 m, dan memerlukan bata kurang lebih 100 buah dengan harga @ Rp 300,-, total biaya termasuk semen dan ongkos tidak lebih dari Rp 100.000,-

Struktur komposter ini berdiri langsung ditanah, bagian bawah tidak disemen, jadi dasar komposter dibiarkan langsung ke tanah. Bahan-bahan kompos masuk dari atas, kalau panen melalui lubang dibagian bawah komposter (untuk jelasnya lihat foto edisi 13 Mei 2007, dengan judul “Menanggulangi Sampah”).

“Bagus”, kata sesepuh Jawa Barat yang akrab dipanggil dengan nama Mang Ihin dan pada tanggal 6 Juni 2007 yang lalu menerima anugerah Kalpataru dari Presiden RI kategori Pembina Lingkungan. “Tapi lebih bagus lagi komposter saya”, lanjut Mang Ihin. Memang beliau juga membuat kompos sendiri di pekarangan rumahnya. Kapan-kapan komposter model Mang Ihin saya ceritakan kepada anda semua.

Read More..

KOMPOS DI KEBON KOSONG

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 9 Juni 2007
Foto: Sobirin, 2006, Membuat Kompos di Kebon Kosong

Oleh: Sobirin

Di belakang rumah saya ada tanah kosong milik orang lain. Kadang oleh Mang Endut, asisten saya, ditanami singkong dan lain-lain tanaman semusim.

Banyak sekali rumput-rumputan dan semak-semak yang tumbuh di tanah kosong ini. Dipikir-pikir, baik juga kalau dicoba membuat kompos ditanah kosong ini, bahan kompos banyak tersedia, starter kompos (MOL) buatan sendiri juga ada.

Wadah untuk pengomposan dibuat dari bambu yang didesain seperti kotak pagar sederhana (lihat foto). Ukuran 100 cm x 60 cm x 60 cm.

Bahan kompos tinggal mengambil dari daun-daunan yang banyak terdapat di tanah kosong ini. Bahan daun hijau (mengandung nitrogen) dan bahan daun kering coklat (mengandung karbon) dengan jumlah masing-masing sama antara yang hijau dan coklat, dicacag dengan ukuran kecil-kecil, bagusnya maksimum 3 cm-an. Masukkan dalam wadah kotak pagar bambu tersebut. Campurkan dengan MOL yang telah diencerkan, asal basah. Lalu tutup dengan karung goni.

Tiap 3 hari sekali diaduk-aduk, tambahkan MOL. Minggu pertama temperature naik, sampai 60 derajat lebih, minggu kedua mulai menurun dan warna telah berubah coklat kehitaman, minggu ketiga mulai mendingin, dan minggu keempat sudah bisa dipanen.

Kompos yang sudah jadi dicampurkan ke tanah yang akan diolah dan akan ditanami tanaman-tanaman semusim, bisa tomat, cabe atau yang lain.

Pembuatan kompos yang baru bisa dimulai lagi dengan cara-cara seperti disebutkan di atas (kotak pagar bambu yang lama masih bisa dipakai).
Sangat mudah, dan memang alam di sekitar kita telah menyediakan apa yang kita inginkan untuk kebaikan. Tanah subur, lingkunganpun menjadi rapih.

Read More..