Ada seorang ahli lingkungan dari Kantor PUSAIR ini yaitu ibu Ratna Hidayat. Beliau diminta oleh boss kantor PUSAIR untuk mendesain komponen-komponen “green office” antara lain membuat komposter untuk mengolah sampah-sampah daun kering pohon-pohon yang ada di kantor. Maka bu Ratna Hidayat ini datanglah ke rumah saya untuk melihat konsep komposter yang ada di rumah saya. Selanjutnya beliau membangun komposter di kantor PUSAIR. Komposter yang dibangun “mirip-mirip” konsepnya dengan yang ada di rumah saya, hanya nampak lebih mewah, maklum ada uang anggarannya. Siapa mau menyusul, kantornya berkonsep “green office”? Semoga implementasi “green office” ini bisa sukses dan berkelanjutan, sebab yang paling penting adalah siapa yang disuruh sebagai penganggung jawab pengelolanya.
Thursday, May 31, 2012
KANTOR YANG INGIN MENJADI “GREEN OFFICE”
Ada seorang ahli lingkungan dari Kantor PUSAIR ini yaitu ibu Ratna Hidayat. Beliau diminta oleh boss kantor PUSAIR untuk mendesain komponen-komponen “green office” antara lain membuat komposter untuk mengolah sampah-sampah daun kering pohon-pohon yang ada di kantor. Maka bu Ratna Hidayat ini datanglah ke rumah saya untuk melihat konsep komposter yang ada di rumah saya. Selanjutnya beliau membangun komposter di kantor PUSAIR. Komposter yang dibangun “mirip-mirip” konsepnya dengan yang ada di rumah saya, hanya nampak lebih mewah, maklum ada uang anggarannya. Siapa mau menyusul, kantornya berkonsep “green office”? Semoga implementasi “green office” ini bisa sukses dan berkelanjutan, sebab yang paling penting adalah siapa yang disuruh sebagai penganggung jawab pengelolanya.
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
6:55 AM
18
comments
Labels: Mari Ber-Zero Waste
Monday, April 30, 2012
ACIL BIMBO KE RUMAH SAYA DISKUSI KOMPOS
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
5:48 PM
2
comments
Labels: Para Tamu Yang Berkunjung
Friday, March 30, 2012
KOMPOSTER SUMUR RESAPAN
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 31 Maret 2012
Foto: Sobirin, 2012, Komposter Sumur Resapan
Oleh: Sobirin
Membuat kompos itu mudah sekali, gali lubang, masukkan sampah organik, tuangkan MoL, lalu timbun lagi, dalam tempo 1 (satu) bulan sudah bisa dipanen. Saya mencoba memanfaatkan lubang sumur resapan untuk membuat kompos. Bahan kompos spesial dari sampah daun-daun kering di pekarangan rumah.
Lubang sumur resapan ini berukuran panjang 60 cm, lebar 60 cm, kedalaman 1 m. Awalnya memang khusus berfungsi sebagai sumur resapan. Bagian atas diperkuat dengan bata 1 (satu) baris yang disemen, agar tidak longsor. Bagian dalam dibiarkan tanah telanjang, tidak disemen, agar air hujan meresap ke dalam tanah. Tutupnya menggunakan “ram” besi beton yang dilas, jadi tetap berlubang-lubang sehingga air hujan bisa masuk, juga untuk keamanan agar kita tidak “kejeblos” masuk lubang.
Kemudian saya mencoba mengisinya dengan sampah daun-daun kering, terus saya isi, sampai padat, kemudian saya beri MoL buatan sendiri. Sampah dalam lubang menyusut, kemudian diisi lagi, diberi Mol, menyusut, diisi lagi, dan seterusnya. Tidak usah diaduk-aduk. Ternyata dalam 1 (satu) tahun, lubang baru penuh, isinya padat dengan sampah daun kering.
Ketika digali, bagian bawah dan tengah telah berubah menjadi kompos yang bagus, sedang lapisan di atasnya masih berupa daun-daun kering yang belum menjadi kompos. Siapa ingin mencoba? Sumur resapan berfungsi ganda, sebagai sumur resapan, juga sebagai komposter semi an-aerob.
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
4:35 PM
13
comments
Labels: Tip Mudah Membuat Kompos
Wednesday, February 29, 2012
KUNJUNGAN KOMPOS MALAM HARI
Oleh: Sobirin
Pusat Litbang Sumber Daya Air (PUSAIR), di Jl Juanda 193 Bandung ingin mewujudkan diri sebagai “eco-office”. Maka rencananya, kantor ini akan mengolah sampah organik kantor menjadi kompos, dan lain-lain. Untuk itu, tim PUSAIR datang ke Jl. Alfa 92, untuk pembelajaran “composting”
Tim PUSAIR dipimpin oleh ibu Ir. Ratna Hidayat, seorang ahli lingkungan bidang air. Sehubungan beliau banyak kesibukan, maka waktu kunjungan ke Jl. Alfa 92 juga disesuaikan dengan waktu beliau. Ternyata waktu luang beliau malam hari, sehingga melihat-lihat komposter dan tanya ini-itu tentang kompos pakai senter. Waktu itu hujan gerimis, jadi pakai payung segala.
Seluruh penjelasan dan gambar-gambar desain komposter, cara membuat MOL, dan cara membuat kompos telah diberikan kepada ibu Ir. Ratna Hidayat. Semoga PUSAIR segera merealisasikan diri sebagai kantor penghasil kompos. Kantor siapa lagi mau menjadi “eco-office”?
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
3:43 AM
4
comments
Labels: Para Tamu Yang Berkunjung
Sunday, January 29, 2012
JAGUNG DAN PADI DI HALAMAN RUMAH MULAI BERBUAH
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 29 Januari 2012Foto: Sobirin, 2012, Jagung dan Padi di Halaman Rumah
Oleh: Sobirin
Tanaman jagung dan padi yang saya semai dan tanam 2 (dua) bulan yang lalu di halaman rumah sudah mulai berbuah dan berbulir. Jagung saya tanam langsung di tanah, sedangkan padi di dalam pot. Musim hujan rupanya membantu pertumbuhan tanaman jagung dan padi “rumahan” menjadi subur.
Bertani tidak harus di sawah atau di tegalan, apalagi saya tidak mempunyai sawah atau tegalan. Bertani bisa juga di kota, di lahan sempit halaman rumah. Bila rumah tidak ada halamannya, misalnya di rumah susun atau apartemen bertingkat, jangan kuatir, pakai saja pot yang digantungkan di jendela. Hati-hati tali gantungan harus kuat, menjaga supaya tidak jatuh dan membahayakan tetangga yang tinggal di lantai bawah.
Pemeliharaan tidak sulit, luangkan waktu barang 15-30 menit sudah cukup untuk mengurus tanaman-tanaman kita. Kalau tanamannya banyak, tentunya memerlukan waktu yang lebih lama.
Tanah di sekitar tanaman selalu dibalik-balik perlahan, supaya tidak mengenai akar. Menyiram dengan MoL encer setiap 2-3 hari sekali. Yang disiram adalah tanahnya, bukan tanamannya, sebab tanaman bisa mati karena MoL, apalagi MoL pekat.
Tiga bulan kita sudah bisa panen, silahkan siapa yang berminat, mari bersama mencoba. Sekarang ini, bertani di kota (urban farming) sudah banyak diminati orang banyak, mari jangan sampai ketinggalan.
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
9:41 AM
2
comments
Labels: Pertanian Rumah Tangga
Friday, December 30, 2011
BANYAK CARA MEMBUAT MOL
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 31 Desember 2011
Foto: Sobirin, 2011, MOL Buatan Sendiri
Oleh: Sobirin
Cara membuat MOL (Mikro Organisme Lokal) bermacam-macam, dan terus dikembangkan oleh para penghobi kompos dan tanaman. Nama “Lokal” dimaksudkan sebagai “tanda” buatan sendiri. Berikut saya kutipkan konsep yang dilakukan oleh pak Mudo Hargiyono dan Tim PKM Sekolah Hayati.
Bahan utama MOL terdiri 3 komponen:
1. Karbohdrat: Air cucian beras, nasi bekas, singkong, kentang, dan sejenisnya
2. Glukosa: air gula, air kelapa, dan sejenisnya
3. Sumber bakteri: buah-buahan, air kencing, kotoran hewan, dan sejenisnya
Contoh MOL dan aplikasinya:
1. MOL buah-buahan untuk membantu malai padi agar berisi
2. MOL daun cebreng untuk penyubur daun tanaman
3. MOL bonggol pisang untuk pengurai saat pembuatan kompos
4. MOL sayuran untuk merangsang tumbuhnya malai padi
5. MOL rebung bambu untuk merangsang pertumbuhan tanaman
6. MOL limbah dapur untuk memperbaiki struktur fisik, biologi, dan kimia tanah
7. MOL protein untuk nutrisi tambahan pada tanaman
8. MOL nimba dan sarawung untuk mencegah penyakit tanaman.
Silahkan mencobanya, dan lebih bagus lagi bila ada yang berminat mengujinya di laboratorium. Mohon bagi-bagi pengalamannya.
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
4:42 PM
10
comments
Labels: Tip Mudah Membuat MOL
Sunday, November 27, 2011
KEBUN-KEBUNAN KECIL URBAN FARMING
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 28 November 2011 Foto: Sobirin, 2011, Padi Pot
Oleh: Sobirin
Musim hujan tiba, berarti musim baik untuk bertani, juga bertani di halaman rumah. Saya menanam banyak tanaman dalam pot, dan juga ada yang langsung ditanah, di antaranya tanaman padi, cabe, jagung, dan lain-lain. Pada tanaman padi pot, saya tambahkan infus MoL cair, ingin tahu hasilnya seperti apa.
Di samping padi dalam pot, saya menanam tanaman langsung di tanah. Saya coba membuat “kebun-kebunan” kecil, ukuran 2 meter x 1,5 meter, dipagari dengan bambu, agar kelihatan rapih. Selain kelihatan rapih, juga untuk menjaga agar tanaman tidak dimakan oleh kelinci-kelinci saya yang kadang-kadang dilepas keluar kandang.

Cara membuat “kebun-kebunan” ini perlu menggali terlebih dahulu tanah tersebut, dicangkul sampai kedalaman 0,5 meter. Tanah dan kerikil yang ada diganti dengan tanah kebun dicampur kompos dengan ukuran campuran 1:1.
Dibiarkan dulu dalam waktu 1 minggu, agar kepadatannya menjadi alami. Bila tanahnya “ambles”, ditambahkan lagi di atasnya dengan tanah dan kompos lagi, agar rata, diaduk sehingga tercapai kepadatan seperti alami, dan dibuat “lembab” dengan disiram air secukupnya.
Kemudian setelah satu minggu, benih-benih tanaman di taburkan, ada cabai, terong, jagung, bunga matahari. Beberapa bibit padi dari penyemaian dipindahkan dan ditanam di “kebun-kebunan” ini. Sekarang “kebun-kebunan” ini baru 3 mingguan, kita lihat hasilnya nanti, semoga kegiatan “urban farming” ini sukses.
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
3:34 PM
5
comments
Labels: Pertanian Rumah Tangga
Tuesday, October 4, 2011
CABAI LIAR TUMBUH DI DINDING SELOKAN
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 05 Oktober 2011
Foto: Sobirin, 2011, Cabai Liar di Selokan
Oleh: Sobirin
Suatu saat saya pergi ke Semarang, tinggal di mess kantor Pengairan. Di belakang mess terdapat selokan untuk mengalirkan air cucian yang terus ke luar ke selokan yang lebih besar. Rupanya dinding selokan mess ini berlubang, sebesar genggaman tangan, dan ditumbuhi tanaman cabai liar yang subur menghijau.
Tidak tahu asal usul benih cabe sampai bisa masuk lubang dinding selokan. Rupanya benih tumbuh dengan baik. Air cucian rumah tangga mess yang mengalir melalui selokan merembas mengenai akar tanaman cabai liar dan secara tidak sengaja nutrisinya cocok untuk pertumbuhan cabai ini. Mungkin sekali banyak mikro organisme lokal (MoL) yang hidup di tempat ini.
Tanaman cabe liar di dinding selokan ini sangat subur, daunnya menghijau sehat, beberapa cabai telah berwarna merah siap dipanen.

Bagus juga dipikirkan, selokan-selokan di sekitar rumah yang airnya mengalir konstan, supaya dindingnya sedikit dilubangi dipakai untuk tanaman semacam cabai ini. Tentunya jangan sampai merusak selokan dan tidak mengganggu aliran airnya.
Sekedar pemikiran, karena melihat cabai liar yang ada di mess Semarang sungguh menawan hati.
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
8:00 PM
4
comments
Labels: Pertanian Rumah Tangga
PANEN SELADA BOKOR ORGANIK DALAM POT
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 05 Oktober 2011Foto: Sobirin, 2011, Panen Selada Bokor
Oleh: Sobirin
Selada bokor yang ditanam dalam pot sudah bisa dipanen ketika tanaman berumur 2 bulan. Media tanam yang saya gunakan berupa tanah pekarangan dicampur kompos buatan sendiri, perbandingan 1:1. Awalnya benih selada bokor disemai dulu di tempat penyemaian, setelah setinggi 5 cm dipindahkan dalam pot.
Pot di letakkan di tempat yang aga rindang, dengan pencahayaan matahari tidak terlalu menyengat. Penyiraman dilakukan setiap sore hari, dicampur dengan MoL encer sekali.
Pemeliharaan cukup mudah. Tanah setiap saat diaduk pelan-pelan (didangir), hati-hati jangan sampai mengenai akar tanaman. Bila tumbuh rumput atau tanaman liar di pot, langsung saja dicabut. Tanah yang telah tercampur kompos sangat baik untuk pertumbuhan selada bokor.
Selada bokor organik tumbuh segar, hijau muda, baik untuk bahan membuat gado-gado.
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
7:47 PM
2
comments
Labels: Pertanian Rumah Tangga
Saturday, September 10, 2011
RAHASIA LENGKAP MEMBUAT KOMPOS
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 11 September 2011 Foto: Sobirin, 2011, Tayangan Proses Ber-3R
Oleh: Sobirin
Saya sering memberikan ceramah tentang pengolahan sampah rumah tangga menjadi kompos. Tayangan “power-point” cukup membantu menjelaskan cara-cara sederhana memproses sampah menjadi kompos, juga sampah anorganik menjadi barang-barang yang kembali berguna. Berikut ini gambar-gambarnya: klik.
Bagaimanapun juga, kalau hanya mendengar atau membaca, tanpa mempraktekannya langsung, maka tidak ada gunanya. Ketika panen kompos, ketika panen tanaman organik di halaman sendiri, maka ada semacam kebahagiaan, karena selain rumah menjadi bersih, semua sampah diproses, hasilnya pun bisa dinikmati. Silahkan klik.
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
1:05 PM
2
comments
Labels: Tip Mudah Membuat Kompos
Thursday, September 1, 2011
TAMAN SISA-SISA TANAMAN
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 2 September 2011
Foto: Sobirin, 2011, Taman Sisa-Sisa Tanaman
Oleh: Sobirin
Banyak sisa-sisa tanaman yang terkadang tidak kita perhatikan. Terserak di sudut-sudut rumah. Di buang sayang, kasihan. Tidak dirapihkan, kurang enak dilihat. Sewaktu libur lebaran, ada waktu untuk beberes. Tanaman dibenahi, disusun rapih di tempat yang sejuk, maka jadilah taman yang enak dilihat.
Sebenarnya tanaman apa pun, asal pemeliharaannya seksama dan penempatannya rapih, sesuai selera estetika kita, maka akan menjadi pemandangan yang indah menarik. Tentu saja perlu waktu luang untuk memelihara tanaman-tanaman ini, sebab terlena sehari saja, lupa tidak disiram, maka tanaman bisa layu mengering.
Mengingat tanaman-tanaman ini umumnya tanaman “lunak”, cara menyiramnya pun tidak boleh disemprot langsung, harus seperti siraman air hujan yang lembut. Media tanahnya juga harus di aduk dengan hati-hati tiap waktu tertentu, tambahkan kompos bila kurangm dan siramkan MOL encer pada media tersebut. MOL tidak boleh mengenai batang tanaman langsung.
Kalau ada pembantu, tidak menjadi masalah, sebab ada yang mememelihara tanaman-tanaman ini, kita tinggal mengawasi saja, Tetapi kalau tidak ada pembantu, bagaimana? Harus dijadwal, kita sendiri yang harus turun tangan, kurang dari 1 jam sehari atau dua hari sekali untuk memelihara tanaman-tanaman ini.
Keindahan memang menyenangkan, tetapi perlu upaya untuk mendapatkanya.
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
9:01 PM
0
comments
Labels: Pertanian Rumah Tangga
Sunday, August 21, 2011
INFUS AIR+MOL UNTUK TANAMAN DI MUSIM KEMARAU
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 21 Agustus 2011
Foto: Sobirin, 2011, Infus Air+MOL = Irigasi Tetes
Oleh: Sobirin
Musim kemarau, udara panas, air berkurang, tanaman mengering. Menyiram tanaman menjadi masalah besar, ketika air untuk menyiram juga harus dihemat, berbagi dengan kebutuhan lain, juga banyak waktu terbuang. Maka perlu pemikiran, agar tanaman tidak mati. Bagaimana caranya? Dengan cara di-infus!
Idenya sederhana saja, seperti terknologi saudara-saudara kita didaerah kering yang sedikit sekali curah hujannya. Mereka mempunyai teknologi dengan cara meneteskan air yang jumlahnya sedikit. Teknologi ini disebut “irigasi tetes” atau “drip irrigation”. Tetes demi tetes air membasahi media tanah, dan suburlah tanamannya, walaupun di musim kemarau panjang sekalipun.
Saya mencoba membuat sistem irigasi tetes ini dengan cara sederhana. Air dimasukkan dalam botol air kemasan bekas, ditaruh agak lebih tinggi dari posisi tanaman, lalu air dialirkan melalui selang plastik kecil, maka meneteslah air tersebut membasahi tanaman yang saya tanam di pot. Tetesan air diatur sedemikian rupa dengan memencet slang dengan alat jepitan pemencet.
Untuk kemudahan membuatnya, saya menggunakan selang infus yang biasa dipakai di rumah sakit. Selang infus lengkap dengan jarumnya dapat dibeli di toko alat kedokteran, harganya hanya Rp 9.000 per set. Bila sulit memperolehnya, bisa membuat sendiri secara sederhana, yang penting air bisa menetes membasahi tanaman.
Agar tanaman lebih subur, air dalam botol dicampur dengan MOL (mikro organisme lokal) buatan sendiri. Siapa takut musim kemarau, tanaman tetap subur dengan diinfus. Silahkan mencoba.
Read More..
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
6:24 AM
9
comments
Labels: Pertanian Rumah Tangga
Saturday, July 30, 2011
JAMBU AIR BERBUAH BANYAK DI MUSIM KEMARAU
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 31 Juli 2011 Foto: Sobirin, 2011, Jambu Air Berbuah Banyak
Oleh: Sobirin
Jambu air di halaman belakang rumah umurnya sudah sekitar 25 tahun, masih terus aktif berbuah. Kalau berbuah, buahnya banyak sekali. Perawatan sederhana saja, disiram MOL (mikro organisme lokal – buatan sendiri) secara teratur. Kali ini berbuah lebat di musim kemarau, lumayan untuk buah penyegar.
Kira-kira 25 tahun lalu, seiring dengan pembangunan rumah saya, saya membeli bibit pohon ini di Lembang, Jawa Barat. Tiap tahun pasti berbuah, dan selalu lebat. Pernah cabang pohon patah, gara-gara keberatan buah dan daun.
Buah sebagian diminta tetangga, silahkan siapa yang mau, boleh ambil. Banyak yang menanyakan bagaimana cara perawatannya sehingga buahnya bisa begitu banyak. Perawatan biasa saja, asal disiram MoL encer di tanah sekelilingnya, bukan di batangnya, dan tidak perlu tiap hari
Suatu ketika datang pedagang buah bermaksud “menebas” (membeli dengan memborong buah yang ada di pohon) buah jambu yang bergelantungan. Saya tanya berapa berani memborong, dan pedagang buah ini menjawab Rp 60.000 untuk 4 karung. Lalu saya katakan silahkan ambil gratis tetapi hanya 1 karung, dan tolong disapu bersih pelataran yang penuh jambu jatuhan.
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
9:33 PM
0
comments
Labels: Pertanian Rumah Tangga
Friday, July 29, 2011
KLUB KEBUN UNPAR (KK-UNPAR) BERTAMU
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 30 Juli 2011
Foto: Sobirin, 2011, Klub Kebun UNPAR
Oleh: Sobirin
Mahasiswa sebagai generasi muda bangsa yang memiliki semangat lingkungan seperti KK-UNPAR ini perlu mendapat dukungan, agar karyanya dapat ditularkan kepada warga kampung di sekitar kampus. Mengapa estetika perlu untuk kebun kampus? Estetika berarti keindahan. Kombinasi suasana kampus yang sibuk diharapkan dapat dinetralisir dengan suasana kebun sayur dalam pot yang didesain penuh keindahan. Saya menyarankan pot-nya menggunakan pot dari tanah, karena kalau menggunakan polibeg bentuknya kurang estetis.
Konsep pengairannya perlu difikirkan dengan cara irigasi tetes (drip irrigation) buatan sendiri, yaitu dengan botol plastik bekas air kemasan yang diisi air, dipasang terbalik, dengan penyangga bambu. Slang karet dengan pengatur tetes “infus rumah sakit” akan mengatur air menetes ke media tanaman. Tetes air perlu diperhitungkan supaya secukupnya, dan bisa ditinggal oleh mahasiswa saat kuliah atau libur.

Ada “output” dari kegiatan KK-UNPAR ini sebagai nilai tambah, yaitu mahasiswa memiliki kegiatan hobby positif yang pro lingkungan. Kemudian ada “outcome”, yaitu para mahasiswa yang tergabung dalam KK-UNPAR akan saling berkolaborasi dan bersinergi. Selanjutnya ada “benefit”, yaitu lingkungan kampus ada pemandangan yang lain dari pada yang lain, apalagi bila tanaman telah berbuah. Akhirnya ada “impact”, yaitu diharapkan bisa ditularkan kepada pihak lain, terutama warga kampung sekitar. Semoga sukses!
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
10:13 PM
1 comments
Labels: Para Tamu Yang Berkunjung
Thursday, July 28, 2011
CABAI POT MUDAH DITANAM
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 29 Juli 2011 Foto: Sobirin, 2011, Cabai Pot Alangkah Pedasnya
Oleh: Sobirin
Menanam cabai di dalam pot mudah-mudah sulit. Perlu perawatan yang seksama. Benih disemai dulu di tempat persemaian. Kemudian setelah tumbuh, paling tidak setinggi 5 cm, lalu dipindah dalam pot. Media tanamnya berupa tanah di campur kompos buatan sendiri, perbandingan tanah:kompos = 1:1.
Saya memilih pot dari tanah, ukuran sebaiknya diameter paling tidak 25 cm, tinggi 25 cm, yaitu untuk memberikan keleluasaan pertumbuhan akar.
Media tanah dipilih tanah “hidup”, yaitu tanah segar yang digali dari kebun, atau selokan yang tidak mengandung detergen. Kemudian dicampur dengan kompos, buatan sendiri. Perbandingan tanah dan kompos, kira-kira 1:1. Tanah dan kompos ini diaduk rata, dihaluskan, agar butir-butir yang “mrengkel” atau “membatu” menjadi lembut tercampur rata.
Pilih bibit yang bagus dari hasil semaian. Satu pot berisi satu bibit. Taruh ditempat yang teduh dengan penyinaran matahari cukup, tetapi tidak menyengat. Jaga kelembaban tanah agar tidak kering dan tidak terlalu basah, yaitu disiram dengan MOL (mikro organisme lokal) buatan sendiri.
Dalam 2 – 3 bulan, kita akan melihat hasilnya, lumayan.
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
6:46 PM
0
comments
Labels: Pertanian Rumah Tangga
Thursday, June 23, 2011
KELINCI MENIKMATI KEBEBASAN
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 24 Juni 2011 Foto: Sobirin, 2011, Kelinci Sedang Menikmati Kebebasan
Oleh: Sobirin
Kelinci yang saya pelihara, awalnya hanya sepasang, jantan dan betina, sekarang sudah menjadi puluhan banyaknya. Kandang yang tadinya berukuran kecil, sekarang ukurannya lebih besar, berbentuk memanjang. Sekali-sekali kelinci-kelinci ini dikeluarkan dari kandang. Menikmati kebebasan.
Memelihara kelinci, dikatakan mudah, memang mudah; tetapi dikatakan susah, juga ada susahnya. Perlu perhatian, antara lain:
pertama, membersihkan kandang dari kotoran
kedua, menampung air kencing kelinci
ketiga, mencari rumput atau sayuran mentah sisa dapur.
Tetapi banyak keuntungannya:
pertama, kelinci menjadi semakin banyak dalam tempo tidak lama
kedua, kotoran dan air kencing kelinci untuk percepatan pembuatan kompos
ketiga, kelinci bisa dijual atau dibagikan kepada saudara.
Sekali-sekali kelinci-kelinci ini dilepas dari kandangnya, rupanya senang sekali, berlompatan kian kemari, sambil makan rumput segar. Tetapi harus hati-hati, kalau semua dilepas, tidak teramati, bisa kabur ke luar rumah.
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
6:32 PM
1 comments
Labels: Peternakan Rumah Tangga
Saturday, May 7, 2011
INVESTASI HIJAU TIGA PULUH MENIT
Media Indonesia dan Bataviase.co.id, http://bataviase.co.id/node/458057 Foto: Komposter Aerob, Sobirin 2010
Kini Sobirin punya tujuh komposter di rumahnya. Di halaman depan terdapat empat lubang komposter anaerob dan satu komposter aerob. Sisanya, dua komposter anaerob ada di halaman belakang. Mulut lubang anaerob sengaja dibeton, agar tidak longsor, namun didalamnya tetap tanah telanjang.
INVESTASI HIJAU TIGA PULUH MENIT
14 Nov 2010, Lingkungan - Media Indonesia
Mereduksi sampah rumah tangga tak membutuhkan waktu sepanjang durasi film di bioskop per hari. Hasilnya, kompos dan bahan kerajinan daur ulang. Sica Harum
Rumah berhalaman luas di kawasan Cigadung, Bandung, Jawa Barat, itu tampak senyap-segar. Beberapa pohon besar memayungi tanah yang berumput itu. Sejumlah pot tanaman diletakkan berjejer, dekat ke beranda. Salah satunya memuat tomat cherry kuning. Di belakang rumah, pot tanaman bertambah banyak. Mulai cabai sampai sosin. Pernah juga, ditanam padi di dalam pot. Hasilnya bagus.
"Semua ini ya pakai kompos sendiri. Komposisi dengan tanah, setengah-setengah," kata Sobirin Supardiyono, pemilik rumah. Ia mengaku bukan pecinta tanaman. "Ada tanaman itu, ya sebetulnya karena memanfaatkan kompos saja," katanya. Pria berusia 66 tahun itu mulai mengolah sampah rumah tangga sejak Bandung dilanda tsunami sampah pada 2005. "Waktu itu Bandung sampai disebut kota terkotor. Nah, saya pikir kenapa enggak coba mengolah sampah rumah tangga," ujarnya.
Rata-rata keluarga menghasilkan sampah rumah tangga mulai dari 0,5 -2 kilogram per hari. Sebanyak 65% sampah tersebut merupakansampah basah, mulai dari daun kering sampai sisa makanan. Lantaran itu, Sobirin fokus mengolah sampah organik. "Karena enggak tau ilmunya, setahun pertama saya gagal," ujar mantan Kepala Pusat Litbang Sumber Daya Air Bandung ini.
Kini Sobirin punya tujuh tempat pembuat kompos di rumahnya. Di halaman depan terdapat empat lubang pembuat kompos metode anaerob dan satu komposter metode aerob yang terbuat dari batu bata. Sisanya, dua komposter anaerob ada di halaman belakang. Mulut lubang itu sengaja dibeton, agar tidak longsor. Namun bagian dalam lubang tetap berdindingkan tanah telanjang.
Sobirin melangkah mendekati salah satu lubang lalu meminta asistennya - ia panggil Ndut - membuka tutup lubang yang terbuat dari beton tipis, berbentuk bujur sangkar dengan panjang sisi 60 cm. Terlihat tumpukan sampah daun, hampir mendekati mulut lubang berkedalaman 1 meter itu. "Nah, ada cecunguknya (kecoa). Bagus, bagus," ujar Sobirin, lalu memerintahkan Ndut untuk mengambil cairan MOL (mikro-organisme lokal). [catatan: cucunguk dan binatang kecil lainnya akan pergi/menghilang/mati oleh proses panas termofilik pengomposan].
Resep manjur
MOL buatan Sobirin disimpan di dalam tong plastik berkapasitas 25 liter, juga diletakkan di halaman depan. Ia membuat MOL sendiri dari campuran 2 kilogram tapai singkong, 1 kilogram gula, dan 5 gelas air kelapa muda yang dilarutkan dalam 25 liter air. "Bisa juga tanpa air kelapa. Tapi lebih bagus menggunakan air kelapa, atau bisa diganti dengan air nira." Cairan itu dibiarkan empat hari. Tutup tong plastik dilubangi kecil-kecil untuk jalur udara. Lalu di atasnya ditutupi lagi agar rapi [dan agar tidak kemasukan air hujan, asal udara tetap mengalir].
Ketika tong itu dibuka, tercium bau khas alkohol. Ndut tangkas mengambil penyendok besar, menciduk MOL dan menumpahkan ke dalam lubang perlahan. "MOL ini berfungsi menguraikan bahan kompos. Tinggal dicampur saja saat kita mengaduk bahan kompos tiga hari sekali. Hasil-nya, satu bulan saja kompos sudah bisa dipanen.
Tanpa MOL, sampah organik tetap bisa jadi kompos, tapi lama," jelas pria yang kini aktif di Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) ini. Sobirin mendapat ilmu MOL dari seorang petani di Tasikmalaya, Jawa Barat. Menurutnya, MOL bisa juga dibuat dari sampah sisa makanan. "Campurannya ya jijiklah. Sekarang saya pakai peuyeum (tapai singkong) saja. Saya juga ada urine kelinci, tapi ya baunya menyengat sekali," ujarnya sembari mendekat ke komposter aerob.
Komposter aerob milik Sobirin dibangun dari batu bata yang disemen. Sengaja, celah udara dibuat di dinding komposter setinggi satu meter. Pada bagian bawah, dibuat semacam gua untuk memanen kompos. Di atas, Sobirin menggunakan asbes sebagai penutup. Saat asbes disingkap Ndut, tak tercium bau busuk, sama halnya dengan komposter anaerob.
Sobirin meminta Ndut menambahkan bahan kompos. "Kalau yang aerob seperti ini, bahan kompos harus dicacah lebih dulu. Makanya saya sebetulnya enggak terlalu suka dengan metode ini (aerob). Kalau yang itu kan langsung dimasukkan saja," kata Sobirin yang asli Magelang, Jawa Tengah, ini seraya menengok ke komposter anaerob.
Tak lama mencacah, Ndut lantas memasukkan irisan daun-daun kering berwarna cokelat, juga daun hijau. Perbandingannya, kira-kira 1:1. Daun yang telah cokelat memiliki unsur karbon dan daun hijau mengandung banyak nitrogen, bagus untuk kompos. Dia juga menambahkan MOL, lalu mengaduk bahan kompos yang baru agar bercampur sempurna dengan tumpukan lama. Seekor cacing terlihat di lapisan bawah, menggeliat [artinya kompos sudah jadi, memungkinkan cacing tanah hidup]. Ndut mengambil saringan, mengayak kompos agar tersisa yang halus saja untuk media tanam.
Zero waste
Berhasil dengan kompos, Sobirin seperti keranjingan menihilkan buangan limbah rumah tangga. Sampah plastik ia cuci bersih sebelum diserahkan kepada pemulung. Adapun sampah kertas, dihancurkan menjadi bubur dan disimpan di dalam tong plastik. Kelak, bisa dicampur dengan lem putih dan dikeringkan menjadi bahan dasar kerajinan tangan. Sifatnya seperti “clay” (tanah lempung).
Ia bilang, cuma butuh 30 menit sehari untuk memilah sampah. Hasilnya, sampah yang benar-benar menjadi urusan dinas kebersihan kota hanyalah sampah elektronika, misalnya batu baterai bekas. "Waktu yang dibutuhkan enggak lama, milih sampah juga enggak susah. Tapi yang penting, ada satu anggota keluarga yang diserahi tanggung jawab," saran Sobirin.
Bukan cuma sampah yang digarap Sobirin. Begitu juga dengan air hujan. Di halaman belakang rumah Sobirin, toren (water storage) berkapasitas 1.000 liter (1 m3) siap memanen air hujan dari talang, diletakkan tak jauh dari kandang kelinci dan dua lubang komposter anaerob. "Sebetulnya sederhana saja kan, enggak ada yang aneh," kata ahli geologi lingkungan ini.
Pengalaman mengelola sampah sendiri dituliskan Sobirin di blognya, www.clearwaste.blogspot.com yang kini jarang diperbarui lagi. "Sekarang lebih aktif di facebook," ujar kakek lima cucu, yang juga menulis di www.sobirin-xyz.blosgpot.com dan ini. Berkat internet, semakin banyak orang yang terinspirasi. (M-l)miweekend® mediaindonesia.com
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
10:32 PM
4
comments
Labels: Mari Ber - "Zero Waste"
Saturday, April 30, 2011
MODIFIKASI PENJERNIH AIR LIMBAH CUCIAN
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 30 April 2011 Foto: Sobirin, 2011, Modifikasi Kolam Penjernih Limbah
Oleh: Sobirin
“Kolam penjernih air limbah” yang selama ini saya pakai, dapat dibaca dalam blog ini. Saya merasa kolam tipe tersebut kurang berhasil. Saya mencoba memodifikasinya. Saya membongkar kolam-kolam penyaring bagian atas, diganti dengan kotak plastik bersusun yang diberi lubang-lubang di bawahnya.
Selama ini memang saya melihat kegagalan dari tipe yang lama. Air limbah cucian yang keluar masih banyak mengandung lemak minyak dan busa deterjen. Tanaman air kurang subur, ikan-ikanpun tidak kuat hidup.
Selama ini saya tidak menggunakan saringan ijuk atau pasir, dan juga tidak menambahkan tawas atau kaporit.
Lalu saya membongkar kolam-kolam penyaring yang ada di bagian atas sistem kolam ini. Kemudian menggantinya dengan kotak boks plastik susun. Kotak ini bisa dibeli di toko kelontong alat-alat rumah tangga, dengan harga Rp 30.000,0. Ukuran 30 cm x 20 cm x 10 cm, 3 susun, seperti kotak laci kecil.

Bagian bawah tiap kotak diberi lubang-lubang kecil. Kemudian tiap kotak diisi dengan busa dan pasir. Semoga ada perubahan.
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
8:11 PM
9
comments
Labels: Kolam Penjernih Air Limbah
Sunday, March 27, 2011
KANDANG KELINCI MENEMPEL TEMBOK
Foto: Sobirin, 2011, Kandang Kelinci Menempel Tembok
Oleh: Sobirin
Kelinci yang saya pelihara bertambah banyak. Kandang yang lama mulai penuh. Harus membuat kandang baru, tetapi kalau terus membuat kandang baru maka halaman rumah jadi penuh kandang kelinci. Akhirnya diakali dengan membuat kandang yang memanjang yang menempel di dinding tembok.
Kandang ini bentuknya memanjang, ukurannya 40 cm x 40 cm x 400 cm, terbagi menjadi 7 kandang. Benar-benar menempel, dipaku kuat, tanpa penyangga ke tanah. Jadi di bawah kandang kosong, dan diberi plastik untuk tampungan kencing kelinci yang mengalir ke ember.
Tinggi kandang dari atas tanah sekitar 75 cm, supaya mudah dalam membersihkan dan merawatnya. Masing-masing kandang diberi pintu dengan engsel untuk membuka dan menutup bila memberi rumput makanan kelinci.
Air kencing dan kotoran kelinci sangat berguna sebagai bahan MOL atau pupuk cair.
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
5:36 PM
0
comments
Labels: Peternakan Rumah Tangga
Wednesday, February 2, 2011
PERTANIAN RUMAH TANGGA DIBIKIN RADA BERSENI
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 3 Pebruari 2011 Foto: Sobirin, 2011, Slada Bokor Dalam Pot
Oleh: Sobirin
Setelah berhasil membuat kompos dari sampah rumah tangga yang diproses dengan MOL buatan sendiri, lalu komposnya buat apa? Dijual? Ah tidak! Untuk pertanian rumah tangga saja. Bercocok tanaman bumbu dapur saja. Supaya agak berseni ditanamnya dalam pot tanah, ditaruh di atas tumpukan bata.
Potnya terbuat dari tanah, dibeli dari tukang pot, katanya buatan Plered Purwakarta. Lalu medianya adalah kompos dan tanah yang dicampur merata, perbandingan kompos:tanah = 1:1.
Jenis tanaman dipilih slada bokor, biar 1 bulan atau 2 bulan sudah bisa dipanen. Benih slada bokor ukurannya kecil-kecil, lebih kecil dari butir-butir wijen. Disemai dulu di tempat persemaian.
Setelah bertunas dan ukurannya sekitar 5 cm, dipindahkan dalam pot. Ada 5 pot besar dan 5 pot kecil berisi slada bokor tumbuh dengan subur, karena disiram dengan air MOL yang encer sekali. Disiramnya tidak di tanamannya, tetapi di media tanah dan kompos.
Memang kelihatannya nyeni juga, bagaikan “agricultural-art”.
Posted by
sobirinsobirin@gmail.com
at
11:26 PM
1 comments



