Monday, November 12, 2007

MELELEHKAN PLASTIK MODEL PUSKIM

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 13 November 2007
Foto: Sobirin 2005, Alat Pengolah Plastik Kresek PUSKIM


Oleh: SOBIRIN
Kantong plastik kresek wadah makanan, belanjaan pasar, belanjaan warung, dan lain-lain sudah tidak lagi dipakai di negara-negara maju ramah lingkungan. Di tempat kita kantong plastik ini malah semakin membudaya dan menimbulkan dampak negatif yang sangat merugikan lingkungan.



Wadah belanjaan di negara-negara maju seperti di Amerika Serikat dan Eropa menggunakan kantong kertas yang mudah didaur-ulang.

Kita kerepotan dengan banyaknya kantong plastik kresek bekas yang dibuang sembarangan. Di alam bebas sulit sekali hancur atau lapuk. Mengotori pemandangan dan selalu menyumbat saluran-saluran drainase. Apalagi ada sisa sambel, sayur santan yang menempel di plastik tersebut. Membusuk, bau, mengundang lalat, menimbulkan penyakit.

Saya berkunjung di Kantor Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (disingkat PUSKIM), alamatnya di Jl. Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten BANDUNG 40393, PO BOX 812 BANDUNG 40008 , JAWA BARAT, INDONESIA Telepon 022-7798393, Fax. 022-7798392. Kantor ini dibawah naungan Badan Litbang Pekerjaan Umum, Departemen Pekerjaan Umum di Jakarta. Salah satu laboratoriumnya menciptakan alat untuk mengolah kantong plastik kresek bekas ini menjadi pelet-pelet plastik.

Sebenarnya alatnya cukup sederhana, dan bisa dibuat sendiri di bengkel (lihat foto inzet, kira-kira bentuknya begitu). Secara garis besar komponen-komponennya terdiri dari tabung besi diameter kira-kira 10 cm dan panjang 30 cm. Tabung ini di lubangi untuk corong tempat masuknya plastik kresek yang akan dilelehkan. Di ujung tabung yang satu ditutup, tetapi pada tutup ini ada lubang-lubang kecil tempat keluarnya plastik leleh. Di ujung tabung yang satunya lagi adalah tempat masuknya besi yang diberi sirip ulir. Bila besi sirip ulir ini berputar, sirip ulir akan mendorong plastik leleh keluar melalui lubang-lubang kecil.

Plastik leleh yang keluar melalui lubang ini bentuknya seperti cacing dengan suhu tinggi. Lalu dipotong-potong dengan pisau, dan potongan-potongan plastik panas ini akan jatuh ke dalam wadah yang diisi air untuk mendinginkannya, dan jadilah pelet-pelet plastik berwarna hitam (karena plastik kreseknya berwarna hitam).

Plastik bisa leleh tentunya kalau dipanaskan. Terlebih dahulu tabung besi dan besi sirip ulir tersebut diatas dipanaskan dengan alat pemanas. Di laboratorium PUSKIM ini pemanasnya menggunakan pemanas listrik. Sebenarnya bisa juga dengan pemanas lain, misalnya kompor, asal temperatur tabung bisa mencapai 150 derajat hingga 200 derajat Celcius.

Untuk apa pelet-pelet tadi? Bisa untuk bahan bangunan semacam bata bila diaduk dengan semen, menggantikan kerikil. Jauh lebih bermanfaat dibanding bila hanya dibuang begitu saja menjadi sampah yang bermasalah.

Sebenarnya kalau kita semua kampanye untuk tidak menggunakan kantong plastik kresek ini, dan meniru negara-negara lain yang ramah lingkungan menggunakan kantong kertas yang mudah didaur-ulang, maka akan sangat bisa mengurangi masalah sampah dan dampak negatifnya di tempat kita.

1 comment:

Marcello said...

mas, maap neh kalau komentar saya salah, saya dengar plastik keresek tuh tidak digunakan lagi oleh Eropa dan pengguna mainan karena mengandung racun dioksin pada EDC& proses VCM


saya pikir praktek ini bisa berbahaya pada kesehatan pada liver pengguna terutama pembaca blog yang rata-rata masih awam untuk mencoba mempraktekkan plastik spt ini,..


mohon dikoreksi apabila perkataan saya keliru