Tuesday, February 17, 2009

TANAMAN KURUS KURANG UNSUR HARA

Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 18 Februari 2009
Foto: ditjenbun.deptan.go.id, Tanaman Kurus Kurang Unsur Hara

Oleh: Sobirin
Tanaman yang kita pelihara kurus, mudah terkena penyakit? Mungkin tanaman kurang unsur hara. Unsur hara ini mungkin telah hilang dari tanah sebagai media tanam. Tanaman juga membutuhkan vitamin dan mineral seperti layaknya manusia untuk bisa tumbuh dengan baik.





Tanah yang sehat merupakan syarat sebagai media tanam untuk kegiatan tanam-menanam baik di dalam pot maupun di pekarangan halaman rumah kita. Tanah harus mengandung semua unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk bisa tumbuh dengan baik.

Tanah yang sehat mengandung humus atau kompos yang merupakan hasil pelapukan dari bahan organik. Kompos merupakan makanan bagi mikro biota dalam tanah dan mengubahnya menjadi unsur hara yang kemudian menjadi makanan bagi tanaman kita. Kompos mampu memperbaiki struktur tanah, menyerap dan menyimpan air dalam tanah. Tanah yang sehat adalah tanah yang hidup mengandung banyak hara dan mampu menghidupi tanaman kita.

Kompos yang kita buat sendiri mungkin juga kurang sempurna atau kurang mengandung makanan bagi mikrobiota, karena bahan-bahan kompos yang kita pakai misalnya hanya daun kering saja. Bahan-bahan untuk kompos perlu kita lengkapi, misalnya selain daun kering, daun hijau, juga kotoran hewan.

Selain itu mikro organisme lokal (MOL) yang kita pakai sebagai starter juga kita buat dengan baik. Tidak cukup hanya dengan tapai ditambah gula saja, tetapi perlu ditambah air kelapa dan lain sebagainya (lihat “Tip Mudah Membuat MOL").

Tanda-tanda tanaman yang kekurangan unsur hara atau nutrisi dapat dilihat dengan jelas, antara lain:

  • Kekurangan nitrogen: daun dan pucuk tanaman menguning, ukuran bunga dan buahnya kecil dan matang lebih cepat.
  • Kekurangan potasium: daun lebih kecil, berwarna lebih gelap, pinggiran daun kuning, pertumbuhan lambat.
  • Kekurangan kalium: daun, tunas, dan buah berkembang tidak baik.
  • Kekurangan fosfor: ukuran buah kecil dan warna tidak cerah, pinggiran daun mengering.
  • Kekurangan magnesium: daun berbercak kuning, daun lebih cepat gugur.
  • Kekurangan sulfur: daun berwarna memudar.
Pertumbuhan tanaman perlu terus kita amati. Pengomposan tanah dan pemberian mikro organisme (MOL) secara periodik semoga dapat menghasilkan tanaman pertanian di sekitar rumah menjadi lebih subur.

Referensi:
Yayasan IDEP. 2006. Buku Panduan untuk Permakultur Menuju Hidup Lestari. IDEP Foundation - www.idepfoundation.org. ISBN: 979-15305-0-5

(dan sumber lain).

4 comments:

schimonth said...

Apa kabar pak sob
Maaf baru sekarang bisa coment lagi pak.., sepertinya untuk mengikuti saran bapak saya agak kesulitan karena kondisi perumahan disini tidak memiliki halam belakang atau samping,yang ada hanya halaman depan yang sempit. Tapi saya ada sedikit pengalaman dalam bercocok tanam cabe menggunakan sampah dari rumah.
Limbah sayur kangkung saya iris kecil-kecil lalu ditanam dalam polibag tempat menanam cabe. Hasilnya cabenya cukup subur (maaf saya tidak ada fotonya, mungkin nyusul) kalau limbahnya digiling halus atau diblander gimana kira2 ya pak? (mohon petunjuk)
Sebenarnya saya juga pengen punya blog seperti bapak ini tapi saya masih awam dalam ngeblog, saya ingin ngeposnya dalam blog sendiri pak, kayaknya asik. Boleh Minta petunjuk pak?

lia said...

Salam kenal pak sobirin
saya sudah coba tanam padi dalam pot diameter 15 cm, 1 bulan 18 cm, keluar 3 helai daun kecil. mungkin kurang gizi ya pak?
Apakah ember yang dipakai harus dilubangi, seberapa besar?? karena mol yang saya siramkan banyak yang keluar. Mohon infonya. matur nuwun.

admin said...

potasium kan merupakan nama lain dari kalium, gimana sih.

Raja Benih Sayuran said...

informasi yang bagus...
salam kenal dari Jual Benih Sayuran