Saturday, April 5, 2008

SINTANUR POT 7 HARI DAN "PAYUNG" PLASTIK

Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 6 April 2008
Foto: Sobirin 2008, Sintanur Umur 7 Hari Tinggi 4 Cm, di"payungi" plastik
Oleh: Sobirin
Menanam padi dalam pot atau ember gampang-gampang susah. Apalagi konsep awal saya hanya ingin rumah saya tidak membuang sampah ke luar rumah. Rumah ingin “zerowaste”. Sampah organik dikompos, sampah anorganik didaur ulang. Sekarang ingin bertani di rumah, coba-coba, iseng-iseng berhadiah.


Banyak jenis tanaman saya coba: kangkung darat, lobak, tomat, cabai, dan bermacam lainnya. Setahun lebih yang lalu saya mencoba menanam padi dalam polybag, hasilnya…jadi bahan berita, tamu berdatangan, wartawan bertanya ini dan itu-nya.

Saat ini sebenarnya sedang menanam padi dalam ember. Ternyata jenis padinya adalah padi kampung, yang 5 bulanan baru padinya berbuah.
Tidak apa-apa, saya sedang menunggu hasilnya sampai panaen nanti.

Ketika saya mendapat benih padi unggul varietas Sintanur dari bapak Solihin GP (mantan Sesdalopbang dan mantan Gubernur Jawa Barat), saya bertekad kembali menanam padi ini dalam pot besar. Benih dari bapak Solihin GP saya bagi-bagikan juga kepada teman. Segenggam untuk Christine di Semarang yang juga ingin menjadi petani padi ember, dan sisa terbanyak diambil pak Sajiboen (sesepuh Cirebon) untuk ditanam di sawahnya.


Dengan benih Sintanur ini, saya coba menanamnya dengan cara semai langsung, yaitu saya letakkan langsung dipot, setelah semalam sebelumnya saya rendam air tawar.


Ternyata banyak kelemahan dengan cara semai langsung ini. Waktu hujan deras, benih terpental oleh butir-butir hujan. Untunglah masih bisa diamankan. Kemudian untuk menjaga kalau hujan deras dan juga agar tidak terkena sinar matahari langsung, maka di atasnya ditutup dengan sepotong plastik yang disangga dengan lidi, ibarat di"payungi" pakai plastik. Namanya juga coba-coba, moga-moga berhasil. Teman saya Christine malah mengalami kejadian yang tidak mengenakan, ketika padi yang disemai tumbuh bagus (bukan cara semai langsung), paginya dimakan tikus, pas ketika akan dipindah ke pot…..Kasihan...., tetapi saya mengatakan kepadanya agar tidak putus asa, coba ulangi tanam lagi! Saya membayangkan petani sawah, betapa kecewanya ketika sawahnya kebanjiran atau diserang tikus.


Saya menanam padi pot Sintanur ini sebanyak 5 pot. Potnya besar, diameter 40 cm, tinggi 30 cm. Mengapa pot-nya harus besar? Tadinya saya juga bertanya-tanya, mengapa potnya harus besar. Ternyata untuk ruang perakarannya.

Menurut ahli padi organik (pak Alik Sutaryat dari Lakbok, Ciamis), padi adalah bukan tanaman air, tetapi suka air. Maka tanaman padi saya tidak digenangi air, tetapi disiram terus dengan MOL sangat encer.

Perakaran padi ini memang sangat hebat. Ketika saya mencoba memindahkan benih padi yang terpental oleh butiran hujan, waktu itu baru berumur 4 hari, daun mulai muncul 2 cm, tetapi panjang akar sudah 8 cm......dalam sekali. Sekarang tanggal 6 April 2008 padi pot saya sebanyak 5 pot berumur 7 hari, rata-rata tinggi daun 4 cm, semoga tumbuh sehat. Semoga benar-benar iseng-iseng berhadiah. Rumah "zerowaste", dan nantinya panen padi.....

2 comments:

Zololkis said...

See Please Here

omyosa said...

MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA DATANG PANEN
Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan
produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia. NPK
yang terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali
hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita.
Produk ini dikenalkan sejak tahun 1969 oleh pemerintah saat itu,
karena berdasarkan penelitin tanah kita yang sangat subur ini ternyata
kekurangan unsur hara makro (NPK). Setelah +/- 5 tahun dikenalkan dan
terlihat peningkatan hasilnya, maka barulah para petani mengikuti cara
tanam yang dianjurkan tersebut. Hasil pertanian mencapai puncaknya
pada tahun 1985-an. Saat itu Indonesia swasembada pangan.
Petani kita selanjutnya secara fanatis dan turun temurun beranggapan
bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan
KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang
pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau, sementara
yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro
NPK dan pengendali hama kimia saja.
Mereka para petani juga lupa, bahwa penggunaan pupuk dan pengendali
hama kimia yang tidak bijaksana dan tidak terkendali, sangat merusak
lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur,
semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa
tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem
pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
System of Rice Intensification (SRI) pada tanaman padi yang
digencarkan oleh SBY adalah cara bertani yang ramah lingkungan,
menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya,
kuantitas dan kualitas hasil juga lebih baik, belum mendapat respon
positif dari para petani kita. Mungkin ini walaupun hasilnya sangat
menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam teknis
budidayanya.
Petani kita sudah terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang
praktis dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga sangat
berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah
melihat petani tetangganya berhasil menerapkan pola tersebut.
Atau mungkin solusi yang lebih praktis ini dapat diterima oleh para
petani kita; yaitu "BERTANI SISTEM GABUNGAN POLA SRI DIPADUKAN DENGAN
PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK NASA". Cara gabungan ini hasilnya tetap
ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki oleh pola SRI,
tetapi cara pengolahan lahan/tanah lebih praktis, dan hasilnya bisa
meningkat 60% -- 200% dibanding pola tanam sekarang.
Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI.
SIAPA YANG AKAN MEMULAI?
KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI?
KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
GUNAKAN PUPUK DAN PENGENDALI HAMA ORGANIK NASA UNTUK TANAM PADI DAN
BERBAGAI KOMODITI. HASILNYA TETAP ORGANIK.
KUALITAS DAN KUANTITAS SERTA PENGHASILAN PETANI MENINGKAT, RAKYAT
MENJADI SEHAT, NEGARA MENJADI KUAT.
Omyosa - Jakarta, 08159927152
Rudy - Kalibata, 021 91719495
Dedi - Karawang, 085691526137
Avian - Pamanukan, Subang, 08122156162
Apud - Limbangan dan Bandrek, Garut, 085216895621
Hudri - Malangbong, Garut, 081320109152
omyosa@gmail.com