Tuesday, May 6, 2008

MENUNGGU PADI EMBER BERBULIR PENUH KESABARAN

Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 6 Mei 2008
Foto: Sobirin 2008, Menunggu Padi Ember Berbulir

Oleh: Sobirin

Menunggu penuh harap memang sebuah pekerjaan yang membuat perasaan ini berdebar-debar. Kapan padi ember saya ini akan berbuah atau berbulir juga merupakan penantian yang emosional. Hampir tiga setengah bulan sudah saya merawat padi ember ini.



Benihnya memang jenis padi kampung, warna batangnya ungu kehitaman. Tumbuh kekar dengan banyak anak, walau sewaktu menanam hanya dari satu benih saja. Kata orang ini padi yang sering ditanam petani jaman dulu, malah mungkin jenis padi berwarna merah.


Padi yang biasa ditanam petani jaman dulu memang padi yang ukuran tumbuhnya lebih tinggi dari padi unggul jaman sekarang. Kalau padi unggul dalam umur 3 bulan sudah berbulir siap panen, sedangkan padi yang saya tanam dalam ember ini umur 5 bulanan baru berbulir. Cukup lama.


Kalau dilihat dari batangnya yang mulai membengkak, sepertinya sudah ada tanda-tanda akan berbulir. Setiap hari saya siram dengan MOL, tanah saya korek-korek, rumput liar saya cabuti. Semoga saja dalam waktu dekat bulir-bulir padinya akan muncul.


Sambil menunggu berbulirnya padi ember tadi, saya juga menanam padi ember benih unggul sintanur, sekarang ada yang berumur 1 bulan, ada pula yang masih 2 minggu. Semuanya saya tanam dalam pot besar seukuran ember besar, dengan tanah dicampur kompos buatan sendiri, disiram dengan MOL buatan sendiri.


Memang pertumbuhan padi unggul lebih cepat dari padi kampung. Penantian selama 3 bulan memang cukup lama, apalagi dengan harap-harap cemas. Menjadi petani organik ternyata memang harus sabar dan tekun.


Tetapi dari semua tersebut di atas, yang terpenting adalah kembali bagaimana sampah rumah kita untuk diproses, didaur ulang, tidak dibuang ke luar rumah. Rumah kita menjadi ‘zerowaste’.