skip to main |
skip to sidebar
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 30 April 2011
Foto: Sobirin, 2011, Modifikasi Kolam Penjernih LimbahOleh: Sobirin “Kolam penjernih air limbah” yang selama ini saya pakai, dapat dibaca dalam blog ini. Saya merasa kolam tipe tersebut kurang berhasil. Saya mencoba memodifikasinya. Saya membongkar kolam-kolam penyaring bagian atas, diganti dengan kotak plastik bersusun yang diberi lubang-lubang di bawahnya.
Selama ini memang saya melihat kegagalan dari tipe yang lama. Air limbah cucian yang keluar masih banyak mengandung lemak minyak dan busa deterjen. Tanaman air kurang subur, ikan-ikanpun tidak kuat hidup.
Selama ini saya tidak menggunakan saringan ijuk atau pasir, dan juga tidak menambahkan tawas atau kaporit.
Lalu saya membongkar kolam-kolam penyaring yang ada di bagian atas sistem kolam ini. Kemudian menggantinya dengan kotak boks plastik susun. Kotak ini bisa dibeli di toko kelontong alat-alat rumah tangga, dengan harga Rp 30.000,0. Ukuran 30 cm x 20 cm x 10 cm, 3 susun, seperti kotak laci kecil.

Bagian bawah tiap kotak diberi lubang-lubang kecil. Kemudian tiap kotak diisi dengan busa dan pasir. Semoga ada perubahan.
Read More..
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 28 Maret 2011
Foto: Sobirin, 2011, Kandang Kelinci Menempel Tembok
Oleh: Sobirin
Kelinci yang saya pelihara bertambah banyak. Kandang yang lama mulai penuh. Harus membuat kandang baru, tetapi kalau terus membuat kandang baru maka halaman rumah jadi penuh kandang kelinci. Akhirnya diakali dengan membuat kandang yang memanjang yang menempel di dinding tembok.
Kandang ini bentuknya memanjang, ukurannya 40 cm x 40 cm x 400 cm, terbagi menjadi 7 kandang. Benar-benar menempel, dipaku kuat, tanpa penyangga ke tanah. Jadi di bawah kandang kosong, dan diberi plastik untuk tampungan kencing kelinci yang mengalir ke ember.
Tinggi kandang dari atas tanah sekitar 75 cm, supaya mudah dalam membersihkan dan merawatnya. Masing-masing kandang diberi pintu dengan engsel untuk membuka dan menutup bila memberi rumput makanan kelinci.
Air kencing dan kotoran kelinci sangat berguna sebagai bahan MOL atau pupuk cair.
Read More..
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 3 Pebruari 2011
Foto: Sobirin, 2011, Slada Bokor Dalam Pot
Oleh: Sobirin
Setelah berhasil membuat kompos dari sampah rumah tangga yang diproses dengan MOL buatan sendiri, lalu komposnya buat apa? Dijual? Ah tidak! Untuk pertanian rumah tangga saja. Bercocok tanaman bumbu dapur saja. Supaya agak berseni ditanamnya dalam pot tanah, ditaruh di atas tumpukan bata.
Potnya terbuat dari tanah, dibeli dari tukang pot, katanya buatan Plered Purwakarta. Lalu medianya adalah kompos dan tanah yang dicampur merata, perbandingan kompos:tanah = 1:1.
Jenis tanaman dipilih slada bokor, biar 1 bulan atau 2 bulan sudah bisa dipanen. Benih slada bokor ukurannya kecil-kecil, lebih kecil dari butir-butir wijen. Disemai dulu di tempat persemaian.
Setelah bertunas dan ukurannya sekitar 5 cm, dipindahkan dalam pot. Ada 5 pot besar dan 5 pot kecil berisi slada bokor tumbuh dengan subur, karena disiram dengan air MOL yang encer sekali. Disiramnya tidak di tanamannya, tetapi di media tanah dan kompos.
Memang kelihatannya nyeni juga, bagaikan “agricultural-art”.
Read More..
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 28 Januari 2011Foto: Sobirin, 2011, Kelinci Beranak-PinakOleh: SobirinHampir satu tahun blog “clearwaste” tidak diperbarui, salah satu alasannya “sibuk” di “facebook”. Selama satu tahun kelinci yang dulu masih kecil-kecil, sekarang sudah beranak-pinak, jumlahnya menjadi banyak sekali. Kalau dihitung, lebih dari 20 ekor. Warnanya ada yang coklat, belang putih hitam.
Kandangnya terpaksa dibuatkan lagi. Agak repot sedikit, karena harus mencari rumput untuk makanannya. Kelinci-kelinci ini makannya rakus. Setiap diberi rumput, terus saja di makan. Jadi memberi makannya pagi dan sore. Yang menguntungkan adalah air kencing dan kotorannya, bisa dicampurkan dalam proses pembuatan kompos. Komposnya pun menjadi lebih berkualitas. Banyak yang menyarankan, supaya daging kelinci ini dikonsumsi, menambah protein hewani. Terus terang saya tidak tega.
Read More..
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 29 April 2010 Foto: Sobirin, 2010, MOL Kencing Kelinci
Oleh: Sobirin
Mikro Organisme Lokal (MOL) sebagai agen percepatan dalam pembuatan kompos dapat dibuat dengan bermacam cara mudah, murah, tapi bermanfaat. Dalam tulisan-tulisan sebelumnya telah disampaikan ada MOL nasi, MOL tapai, dan lain-lainnya lagi. Kali ini ada MOL hitam dari kencing kelinci.
MOL hitam ini adalah MOL seperti biasanya, misalnya MOL tapai, dengan bahan-bahan tapai atau peuyeum (bisa tapai ketan atau tapai ubi) kira-kira 1 Kg, ditambah gula pasir (atau gula merah) kira-kira setengah Kg, air kelapa kira-kira 4 gelas, dicampurkan dalam tong plastik yang diisi air kira-kira 40 Liter. Maka yang terjadi adalah MOL tapai biasanya.
Kebetulan saya mempunyai kelinci yang dipelihara dalam kandang, dan dasar kandang bagian luar diberi lembaran plastik, sehingga air kecing kelinci ini tertampung. Lalu air kencing kelinci ini saya tambahkan ke dalam MOL tapai, jadilah MOL kencing kelinci yang warnanya hitam.
Ternyata MOL kencing kelinci ini relatif lebih cepat dalam membantu proses pengomposan. Proses kompos yang biasanya berlangsung selama 1 bulan, ternyata hanya berlangsung selama 3 minggu.
MOL kencing kelinci ini juga saya coba untuk menyiram tanaman, tetapi harus diencerkan terlebih dahulu, yaitu 1 kaleng MOL diencerkan dengan 15 kaleng air, hasilnya juga cukup efektif menyuburkan tanaman.
Read More..

Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 28 Februari 2010
Foto: Sobirin, 2010, Kelinci Dalam Kandang
Oleh: Sobirin
Sudah lama saya mempunyai keinginan memelihara kelinci. Menurut teman-teman yang telah berpengalaman memelihara kelinci, air kencing dan kotoran kelinci ini sangat baik untuk menyuburkan tanaman. Di akhir Februari 2010, saya mencoba memelihara kelinci sebanyak empat ekor dalam kandang.
Pertama saya menyiapkan kandangnya dulu. Kerangka kandang dibuat dari bilah papan kayu, ukuran panjang 100 cm, lebar 60 cm, tinggi 60 cm. Dindingnya dibuat dari kawat kasa ayam, dibagian atasnya ditutup plastik gelombang yang berfungsi sebagai atap supaya tidak kehujanan. Kandang ini ditopang dengan batang bambu empat buah, sehingga kandang tidak langsung ke tanah.

Bagian dasar kandang dibuat dari papan-papan bambu yang dipasang renggang, agar air kencing dan kotoran bisa langsung jatuh ke bawah. Di bagian bawah kandang dipasang plastik untuk menampung air kencing dan kotoran kelinci.
Setelah kandang selesai, saya membeli kelinci muda jenis gibas sebanyak empat ekor di daerah Lembang, Bandung Utara. Di sana banyak orang menjual kelinci, berderet di pinggir jalan. Empat ekor kelinci yang saya beli berjenis kelamin jantan 2 ekor dan betina 2 ekor. Kemudian saya kandangkan dan diberi makan. Makanannya mudah sekali, yaitu rumput, wortel, kangkung, engkol.
Sebagai gambaran, biaya membuat kandang sekitar Rp 200.000,- dan harga empat ekor kelinci Rp 90.000,- Semoga kelinci-kelinci saya ini bertambah besar, dan air kencing serta kotorannya dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman pertanian rumah tangga.
Read More..
Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 16 Januari 2010
Foto: Sobirin, 2010, Tanaman Kol Siap Panen
Oleh: Sobirin
Tanaman semusim, antara lain sosin dan kol, yang saya tanam dalam karung di bulan Oktober 2009, sudah saya panen di awal Januari 2010. Hasilnya memuaskan, karena dirawat seksama, media kompos dan tanah seimbang, MOL cukup, apalagi sedang musim hujan, jadi situasinya lebih menunjang.
Sebagian tanaman sosin, saya biarkan sampai berbunga dan berbuah, diambil bijinya untuk benih. Sedangkan kol saya panen, lumayan untuk sayur sop dan lalab. Memang beli di pasar juga bisa, kapan saja, tetapi panen sayur dari tanaman pertanian rumah tangga lain rasanya. Ada kepuasan yang tidak dapat dinilai dengan uang.
Perawatan tanaman semusim ini tidak sulit. Setelah media kita siapkan dalam karung, yaitu campuran seimbang antara tanah dan kompos, maka benih kita tebarkan. Ketika berkecambah, kita pilih yang sehat untuk terus dipelihara. MOL encer disiramkan di media. Tanaman akan terus bertumbuh. Rumput-rumput liar yang ikut tumbuh, segera dicabut. Tanah dikorek-korek perlahan agar udara masuk, hati-hati jangan sampai mengenai akar tanaman.
Demikian seterusnya perawatan dilakukan secara seksama, sampai akhirnya tanaman siap panen, kurang lebih 2,5 bulan hingga 3 bulan. Situasi musim hujan juga sangat mendukung, karena tidak perlu menyiram dengan air, cukup MOL saja.
Sayang sekali, karung beras yang dipakai sebagai wadah media, terlihat mulai melapuk pada umur 2 bulan, ketika itu tanaman belum siap panen. Sebaiknya wadah menggunakan polibeg plastik, atau kaleng bekas, ember bekas saja.
Read More..