Tuesday, November 13, 2007

MELELEHKAN PLASTIK MODEL PABRIK

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 14 November 2007
Foto: Sobirin 2005, Pabrik Pelet Plastik Daur Ulang Padalarang

Oleh: SOBIRIN
Kalau punya uang berlebih, dan bermaksud menginvestasikannya di dunia plastik daur ulang, sepertinya mudah menangguk keuntungan. Harga peralatan mesinnya saja sangat mahal untuk ukuran saya, sekitar Rp. 200 juta-an rupiah, tergantung dari kapasitasnya. Berapa keuntungan?


Lembar-lembar plastik bekas yang telah diseleksi dibeli dengan harga bervariasi mulai dari Rp 1.000,- per kilogram. Setelah menjadi pelet harganya jauh meningkat, ada yang Rp, 5.000,- per kilogram, bahkan kalau warna dan kualitasnya sesuai pasar bisa mencapai Rp, 10.000,-.

Karena penasaran ingin melihat seperti apa mesin pelet ini an bagaimana prosesnya, maka beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke pabrik ini, yaitu PT. XIN BAO MACHINERY INDONESIA (PT.XBMI), beralamat di Jl. Industri Cimareme II No. 7 Padalarang, Bandung, Jawa Barat, telpon 62-22-6868418, 62-22-6867883, fax 62-22-6866516. Waktu itu saya diterima oleh Bapak Deni selaku General Manager, HP 08122359188.

Rupanya pabrik ini, selain memproduksi pelet plastik daur ulang, juga memproduksi karung-karung plastik yang di-merk-I (dinamai) sesuai pesanan. Bahan baku karung plastik ini menggunakan polypropylene trilene. Selain itu rupanya pabrik ini (PT.XBMI) juga menjual peralatan mesin pelet daur ulang yang harganya ratusan juta seperti telah disebutkan di atas. Mesin pelet plastik daur ulang ini dinamai recycling granulator.

Mesin ini memanaskan tabung peleleh dengan suhu mencapai 200 sampai 300 derajat Celcius. Kapasitas produksi butir-butir pelet plastik bisa mencapai 3 ton selama operasi 8 jam sehari. Harga bahan dan harga jual seperti telah disebutkan di atas. Mesin ini bisa dioperasikan oleh 2 orang pekerja. Butir-butir pelet plastiknya seukuran butir-butir beras. Pelet yang berwarna putih jauh lebih mahal dibanding warna-warna lain. Hingga kini, menurut penjelasan staf PT.XBMI, pasar pelet plastik masih bagus, malah sangat menjanjikan. Berapa biaya produksi, berapa harga jual, berapa keuntungan, berapa lama modal kembali, dengan mudah bisa dihitung, dan pasti untung! Itu kalau punya modal, lahan, ketrampilan, dan pasar.

Tetapi prinsip dasar dari mesin recycling granulator ini sebenarnya sederhana saja. Lembar plastik bekas masuk, dipanasi, leleh, ditekan keluar, masuk air pendingin, dipotong kecil-kecil menjadi butiran, ditampung, dimasukkan dalam karung, lalu dijual kepada pasar yang telah menunggu.

Memang peralatan mesin ini khusus untuk skala besar atau skala pabrik, sedangkan untuk skala rumah tangga maka plus-minus peralatan dan perhitungannya akan lain. Sebaiknya bapak dan ibu bisa menciptakan mesin pelet skala kecil dan jauh lebih sederhana yang bisa dimanfaatkan untuk skala rumah tangga.

Read More..

Monday, November 12, 2007

MELELEHKAN PLASTIK MODEL PUSKIM

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 13 November 2007
Foto: Sobirin 2005, Alat Pengolah Plastik Kresek PUSKIM


Oleh: SOBIRIN
Kantong plastik kresek wadah makanan, belanjaan pasar, belanjaan warung, dan lain-lain sudah tidak lagi dipakai di negara-negara maju ramah lingkungan. Di tempat kita kantong plastik ini malah semakin membudaya dan menimbulkan dampak negatif yang sangat merugikan lingkungan.



Wadah belanjaan di negara-negara maju seperti di Amerika Serikat dan Eropa menggunakan kantong kertas yang mudah didaur-ulang.

Kita kerepotan dengan banyaknya kantong plastik kresek bekas yang dibuang sembarangan. Di alam bebas sulit sekali hancur atau lapuk. Mengotori pemandangan dan selalu menyumbat saluran-saluran drainase. Apalagi ada sisa sambel, sayur santan yang menempel di plastik tersebut. Membusuk, bau, mengundang lalat, menimbulkan penyakit.

Saya berkunjung di Kantor Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (disingkat PUSKIM), alamatnya di Jl. Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten BANDUNG 40393, PO BOX 812 BANDUNG 40008 , JAWA BARAT, INDONESIA Telepon 022-7798393, Fax. 022-7798392. Kantor ini dibawah naungan Badan Litbang Pekerjaan Umum, Departemen Pekerjaan Umum di Jakarta. Salah satu laboratoriumnya menciptakan alat untuk mengolah kantong plastik kresek bekas ini menjadi pelet-pelet plastik.

Sebenarnya alatnya cukup sederhana, dan bisa dibuat sendiri di bengkel (lihat foto inzet, kira-kira bentuknya begitu). Secara garis besar komponen-komponennya terdiri dari tabung besi diameter kira-kira 10 cm dan panjang 30 cm. Tabung ini di lubangi untuk corong tempat masuknya plastik kresek yang akan dilelehkan. Di ujung tabung yang satu ditutup, tetapi pada tutup ini ada lubang-lubang kecil tempat keluarnya plastik leleh. Di ujung tabung yang satunya lagi adalah tempat masuknya besi yang diberi sirip ulir. Bila besi sirip ulir ini berputar, sirip ulir akan mendorong plastik leleh keluar melalui lubang-lubang kecil.

Plastik leleh yang keluar melalui lubang ini bentuknya seperti cacing dengan suhu tinggi. Lalu dipotong-potong dengan pisau, dan potongan-potongan plastik panas ini akan jatuh ke dalam wadah yang diisi air untuk mendinginkannya, dan jadilah pelet-pelet plastik berwarna hitam (karena plastik kreseknya berwarna hitam).

Plastik bisa leleh tentunya kalau dipanaskan. Terlebih dahulu tabung besi dan besi sirip ulir tersebut diatas dipanaskan dengan alat pemanas. Di laboratorium PUSKIM ini pemanasnya menggunakan pemanas listrik. Sebenarnya bisa juga dengan pemanas lain, misalnya kompor, asal temperatur tabung bisa mencapai 150 derajat hingga 200 derajat Celcius.

Untuk apa pelet-pelet tadi? Bisa untuk bahan bangunan semacam bata bila diaduk dengan semen, menggantikan kerikil. Jauh lebih bermanfaat dibanding bila hanya dibuang begitu saja menjadi sampah yang bermasalah.

Sebenarnya kalau kita semua kampanye untuk tidak menggunakan kantong plastik kresek ini, dan meniru negara-negara lain yang ramah lingkungan menggunakan kantong kertas yang mudah didaur-ulang, maka akan sangat bisa mengurangi masalah sampah dan dampak negatifnya di tempat kita.

Read More..

Sunday, November 11, 2007

MELELEHKAN PLASTIK MODEL SENDIRI

MEMBUAT "BROS" PLASTIK BEKAS
Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 11 November 2007
Foto: Sobirin 2007, Nyala Lilin Melelehkan Plastik

Oleh: SOBIRIN

Pak Anjarseno menanyakan kepada saya melalui blog ini tentang proses pelelehan plastik bekas. Untuk skala rumah tangga dengan peralatan seadanya memang bisa saja. Begini caranya.



Cara yang saya pakai di rumah adalah sangat sederhana, yaitu sekedar melelehkan plastik saja dengan bentuk akhir tertentu. Tidak dibakar, hanya dipanaskan. Untuk cetakan-nya saya pergunakan sendok makan bekas yang tidak dipakai lagi.

Pertama: Plastik bekas sikat gigi, sisir, dan sejenisnya dipotong menjadi ukuran kecil-kecil. Kalau susah ditumbuk saja. Pilih warna plastik yang bermacam-macam, warna-warni. Boleh saja satu warna, terserah kemauan kita. Merah saja, putih saja. Atau campuran dua atau tiga warna.


Kedua: Taruh potongan-potongan kecil plastik dalam sendok. Sebelumnya sendok diisi sedikit minyak goreng (sedikit saja, atau dioles secukupnya).

Ketiga: Jangan lupa menyiapkan air dingin dalam wadah kobokan atau tempat cuci tangan, yaitu untuk mendinginkan plastik yang telah meleleh.


Keempat: Nyalakan lilin, lalu taruh sendok yang telah berisi potongan-potongan plastik di atas nyala lilin. Atur jarak api dengan sendok agar cukup panas, tetapi tidak sampai api menjilat plastik dan terbakar. Kalau terbakar, artinya sama saja kita membakar plastik dan akan berasap hitam mengandung racun dioksin.


Kelima: Plastik mulai meleleh. Kalau diukur, kira-kira suhunya sekitar 200 derajat Celcius. Bila telah meleleh semua, segera sendok dimasukkan ke dalam air dingin yang telah disiapkan. Plastik yang meleleh akan segera membeku dan lepas dari sendok. Kalau belum lepas, tekan dengan ibu jari supaya lepas. Jadilah bentukan sesuai cembungan sendok, berwarna sesuai pilihan kita.


Saya coba dengan kantong kresek plastik yang dipotong-potong kecil dengan gunting. Bisa juga dilelehkan dan dibentuk seperti tersebut di atas. Warnanya tergantung plastiknya. Tetapi hasilnya berwarna hitam keabu-abuan.


Sewaktu saya kecil dulu di kampung, saya juga pernah membuat hal ini. Waktu itu membuat “bros” atau “pin”. Pada tahap yang kelima, sewaktu plastik telah meleleh semua, lalu diatasnya diletakkan peniti (jarum peniti). Setelah dimasukkan ke dalam air dan lepas, jadilah “bros” atau “pin” sekedar mainan sewaktu jaman saya kecil dulu.


Silahkan dikembangkan dengan bentuk-bentuk cetakan yang lain, barangkali ada manfaatnya untuk berkreasi.

Read More..

Thursday, November 1, 2007

KEBUN LOBAK 1 METER PERSEGI

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 01 November 2007
Foto: Sobirin 2007, Kebun Mini Lobak Putih

Oleh: SOBIRIN
Tentunya ada yang senang lobak, dan tentunya banyak pula yang tidak senang lobak. Kebetulan saya mendapat benih lobak putih dari sobat saya pak Sajiboen, yang punya hobby utak-utik kompos.


Saya mempunyai bak bunga ukuran 1 x 1 meter persegi. Pertama bak bunga ini saya isi tanah dan kompos, dengan perbandingan tanah : kompos kira-kira 1 : 2. Diaduk-aduk sampai rata. Ditambah MOL yang telah diencerkan. Jenis MOL yang saya pakai adalah MOL “nasi basi” (lihat artikel blog 8 September 2007: Starter Kompos Mikro Organik Gratisan).

Sementara itu benih lobak disemai ditempat persemaian. Lobak ini dikenal dengan nama lobak putih (Chinese Radish Long), ukuran benihnya berdiameter kurang lebih 3 milimeter sampai 5 milimeter, berwarna coklat muda. Saya memanfatkan sebagian bak bunga tadi untuk tempat persemaian. Tanah tempat persemaian ini lalu diberi tutup pelindung daun-daunan supaya benih tumbuh dengan sempurna.

Kecambah mulai tumbuh pada hari ke 7, dan pada saat berumur 15 sampai 20 hari tanaman-tanaman lobak muda ini ditanam satu-satu dengan jarak 20 centimeter-an. Jadi dalam bak bunga seukuran 1 meter persegi ditanami lobak muda sebanyak 20 tanaman.


Tanaman disiram setiap hari, dan diberi MOL encer setiap 3 hari sekali. Rumput dan tanaman liar segera dicabut bila kelihatan tumbuh di antara lobak-lobak ini.

Tampak foto ketika lobak ini berumur 1 bulan, lobak-lobak ini tumbuh subur. Lobak bisa dipanen setelah 50 hari sejak ditanam. Saat tulisan ini dibuat, belum panen. Nanti kalau panen, hasilnya difoto dan disajikan dalam blog ini. Untuk apa lobak? Bisa dilalab (kalau suka), bisa untuk bahan soto Bandung.

Read More..

Wednesday, October 10, 2007

BERKUNJUNG KE PABRIK PUPUK ORGANIK

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 11 Oktober 2007
Foto: Sobirin 2007, Proses Pengomposan di Pabrik Agro Duta

Oleh: SOBIRIN
Ternyata di Kota Bandung ada beberapa tempat pembuatan kompos skala pabrik, salah satunya adalah Pabrik Pupuk Organik atau Pabrik Kompos Agro Duta di Jl. Paralon I No. 12 Bandung 40212. Tiga kali saya sempat berkunjung ke tempat ini.



Pabrik ini terletak di antara pabrik-pabrik lain di daerah Holis, yaitu daerah yang terkenal karena ada pabrik bakso dan restoran bakso Holis. Luas lahan pabrik kurang lebih 6.000 m2, terdiri dari ruang kantor, hanggar perajangan bahan kompos, hanggar penghampar bahan kompos, hanggar mikro organisme, dan halaman parkir truck.

Bahan kompos diambil dari sampah pasar Caringin, yaitu pasar tradisionil skala besar di Kota Bandung. Setiap hari sampah pasar diangkut dari pasar Caringin ke pabrik ini menggunakan truck kecil (truck engkel), mondar-mandir sebanyak 8 rit per hari. Komposisi sampah pasar Caringin kurang lebih 80 persen bahan organik dan 20 persen bahan non organik.

Sampah dirajang (dicacag) dengan mesin perajang kapasitas 5 ton/hari. Sampah yang telah dirajang ini dihamparkan di hanggar penghampar dan disemprot dengam mikro organisme buatan pabrik ini juga. Dibolak-balik setiap hari, dan kurang lebih 1 bulan proses pengomposan ini selesai. Kemudian diayak untuk mendapatkan butir-butir kompos siap pakai.

Dalam proses pengomposan di hanggar ini, kadang terbentuk air lindi yang mengalir di lantai hanggar, yang kemudian dikumpulkan untuk kemudian diproses menjadi mikro organisme. Perihal air lindi ini, justru banyak keluar dari tempat penumpukan sampah yang diturunkan dari truck di hanggar perajangan. Sampah yang belum dirajang banyak mengeluarkan air lindi, yang ditampung dan dialirkan ke tempat khusus pemrosesan air lindi menjadi pupuk organik cair.

Jadi pabrik ini memproduksi dua macam pupuk organik. Produk pertama adalah pupuk organik padat (kompos) dan yang kedua adalah pupuk organik cair. Pupuk orbanik padat (kompos) setelah diayak ini, sebanyak 5 ton/hari, tidak diberi label atau merk, dan langsung dimasukkan ke dalam karung-karung dibawa ke tempat pertanian organik milik pabrik ini di daerah Lembang, Bandung Utara.

Mengenai pupuk cair, karena prosesnya melalui beberapa tahap, adalah merupakan produk andalan, dan diberi label atau merk STON-F. Nama ini adalah singkatan dari Sehat Tanah – Orang Nyaman – Friendly. Dalam leaflet iklannya disebutkan bahwa STONE-F ini merupakan bioactivator yang dapat menyuburkan tanah dan tanaman, dan selain itu dapat pula dimanfaatkan untuk pakan udang dan ikan ditambak-tambak tepi pantai. Selain menawarkan produk-produk kompos, pabrik ini juga melayani penjualan pearalatan perajang sampah dan lain-lainnya.

Bisa membayangkan andaikan di setiap kota memiliki pabrik kompos, di setiap pasar juga ada pabrik kompos, di setiap rumah tangga ada proses reduce, reuse, recycle dan pembuatan kompos skala rumah tangga? Tentunya kota akan bersih dari sampah!

Ingin menghubungi pabrik ini? Silahkan hubungi pak Teguh, pak Yeremia Tokan, atau pak Aries Yanimartono di alamat pabrik:
Agro Duta, Jl. Paralon I No. 92 Bandung 40212
Telp: (022) 6033813, 6033814
HP: 08122346785, 081320642366, 0818200901
Fax: (022) 6027998
e-mail: dwarna@bdg.centrin.net.id.

Read More..

Saturday, October 6, 2007

KRIPIK BAYAM RENYAH RASA TERIGU

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 6 Oktober 2007
Foto: Sobirin 2007, Bayam Tumbuh Subur Disiram MOL Nasi


Oleh: Sobirin

Saya meminta benih-benih tanaman dari pak Sajiboen, teman saya inohong dari Cirebon. Saya diberi beberapa bungkus, salah satunya berukuran butir-butir lembut berwarna hitam. Benih tanaman apakah itu? Saya tidak tahu!


Saya akan coba menanam benih-benih berukuran lembut tersebut. Kebetulan saya masih mempunyai pot besar dari drum yang dipotong separoh. Saya isi dengan tanah dicampur kompos buatan sendiri. Ukurannya 1 bagian tanah dicampur 2 bagian kompos. Diaduk rata dalam pot besar tadi, kemudian saya siram dengan mikro organisme lokal (MOL) buatan sendiri.

MOL ini telah saya siapkan jauh hari sebelumnya. MOL ini khusus saya buat dari nasi sisa yang tidak termakan. Nasi dikepel-kepel (dibuat bulat dengan tangan seperti onde-onde). Onde-onde nasi ini saya simpan didalam doos yang berisi kompos jadi. Beberapa hari kemudian, onde-onde nasi ini berjamur, ada yang berwarna kuning, biru, jingga kemerahan.

Onde-onde nasi yang berjamur ini saya masukkan dalam jeriken plastik, kemudian saya isi air gula, dan dibiarkan sampai beberapa hari. Jeriken jangan ditutup, supaya ada udara ikut berproses. Setelah beberapa hari, cairan dalam jeriken tersebut berbau khas seperti bau tape (tapai, peuyeum). Cairan inilah yang saya anggap telah mengandung mikro organisme (lokal).

Kita kembali ke tong setengah drum yang telah berisi tanah dicampur kompos. Lalu butir2 benih lembut berwarna hitam dari pak Sajiboen saya tebarkan dipermukaan pot. Tiap hari disiram air, dan 2 hari sekali di siram MOL nasi yang telah diencerkan. Kira-kira satu minggu kemudian tumbuh kecambah kecil-kecil, dan setelah besar ternyata tanaman ini adalah tanaman bayam.

Tanaman bayam semakin subur dengan penyiraman air dan sesekali disiram MOL nasi. Daun bayam tumbuh berukuran besar dan semakin subur pada umur 3 minggu. Ini jelas karena kompos dan MOL yang tepat.

Saya bertanya kepada mang Endut pembantu saya, apakah bayam ini bisa dimakan. Bisa pak, bisa dikulub (digodog sebentar) terus dibumbu pecel. Tetapi kemudian istri saya menginginkan daun bayam tadi digoreng dengan tepung terigu. Jadilah “kripik bayam”. Ukuran kripik ini selebar telapak tangan orang dewasa, pokoknya lebar benar. Renyah, tapi lebih terasa terigunya dari pada daun bayamnya. Lain kali akan saya coba untuk dikulub saja, dibuat pecel daun bayem.

Read More..

Tuesday, October 2, 2007

PLASTIK BEKAS, DIAPAKAN?

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 3 Oktober 2007
Foto: Sobirin 2007, Butir-Butir Pelet Plastik

Oleh: Sobirin

Plastik bekas sampah rumah tangga diapakan? Tergantung jenis-jenisnya. Ada plastik kantong keresek, gelas plastik air minum kemasan, botol plastik minuman ringan, bekas bungkus sabun deterjen, sikat gigi bekas, sisir bekas, dan lain-lain.




Semuanya dikumpulkan, dicuci bersih, dan dijemur. Diseleksi masing-masing dikumpulkan sesuai jenisnya. Mengapa harus dicuci bersih dan dijemur. Sebab kalau tidak dicuci, masih ada sisa makanan atau bumbu-bumbu makanan, bisa membusuk bau dan mengundang lalat, menjadi penyakit!


Botol plastik, gelas plastik, dan sejenisnya dikumpulkan dan setelah banyak bisa dijual atau disumbangkan kepada tukang pemulung barang rongsokan. Kantong-kantong kresek yang masih bagus bisa dipakai ulang.

Kantong-kantong plastik bekas deterjen biasanya berwarna-warni. Banyak yang memanfaatkan sebagai bahan untuk pekerjaan tangan atau kerajinan, dijahit dengan sentuhan seni sesuai warna-warni bahannya menjadi barang-barang berguna, seperti kantong, tas, tempat sampah, payung, sandal dan lain-lainnya. Banyak kelompok masyarakat yang telah mencoba terjun di dunia kegiatan kerajinan ini, dan mampu menghasilkan uang.

Coba saja kalau kita mengikuti seminar-seminar, sering diberi tas seminar yang konvensional. Mengapa tidak dibuatkan saja tas-tas seminar dari bahan-bahan plastik bekas ini? Asal desainnya menarik dengan komposisi warna sesuai pasti banyak yang tertarik, sekaligus untuk melaksanakan konsep 3R (reduce, reuse, recycle).

Lalu sisa-sisa plastik yang tidak laku dijual, diapakan? Dibuang? Jangan! Dibakar? Apa lagi, jangan! Bisa-bisa kita kena racun dioksin! Baiknya kita upayakan sebagai barang yang bermanfaat. Kalau dipabrik-pabrik plastik, bahan-bahan plastik bekas seperti kantong keresek bisa diproses menjadi butir-butir pelet plastik, untuk selanjutnya bisa dijual ke pabrik plastik.

Kalau diproses di rumah tangga bisa? Nah ini yang agak sulit, karena butuh kreativitas alat yang agak perlu uang. Prinsipnya plastik-plastik semacam kantong keresek yang jelek-jelek ini bisa “dilelehkan” menjadi butir-butir “gravel” (seukuran kerikil) dengan “pemanasan” sampai temperatur 150-200 derajat. Saya mencobanya dengan peralatan sangat sederhana, dan hasilnya seperti dapat dilihat di gambar potret. Untuk apa? Belum tahu untuk apa, bisa untuk “kerikil bahan-bahan bangunan” yang nantinya diaduk dengan semen, bisa juga untuk kreasi kerajinan atau seni yang lain. Yang terpenting, konsep “zero waste” dapat direalisasikan, sampah rumah jangan dibuang keluar rumah.

Read More..