Saturday, February 23, 2008

KEMAJUAN PADI POT UMUR 1 BULAN

Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 23 Februari 2008
Foto: Sobirin, 2008, Padi Dalam Pot Umur 1 Bulan

Oleh: Sobirin

Artikel “Tanam Padi Dalam Pot” edisi blog ini 7 Februari 2008 menguraikan tentang tahapan menanam padi sebutir dalam pot. Sekarang tanaman padi tersebut berumur 1 (satu) bulan. Tumbuh subur dengan siraman MOL peuyeum.



Padi yang saya tanam ternyata dari benih padi “biasa”, padi “kampung” yang umur panennya setelah 4 (empat) bulan. Tadinya saya ingin menanam padi benih unggul semacam Sintanur yang bisa dipanen umur 3 (tiga) bulan, ternyata salah ambil benih.

Tidak apa-apa, dengan benih padi “biasa” pun dengan perawatan model padi organik SRI (System of Rice Intensification), tanaman padi tumbuh subur.

Sebagai media berupa tanah campur kompos buatan sendiri, disiram dengan MOL encer. Mol yang saya pakai adalah MOL peuyeum atau MOL tapai.


Kemajuan sebagai berikut:
Tanggal 26 Januari 2008, dari persemaian, tinggi 3 cm, daun 2 (dua) helai.
Tanggal 8 Februari 2008, umur 2 minggu, tinggi 15 cm, daun 4 (empat) helai.
Tanggal 23 Februari 2008, umur 1 bulan, tinggi 48 cm, daun 8 (delapan) helai.


Pada umur 1 bulan ini, tinggi dari permukaan tanah hingga ujung daun mencapai 48 cm, nampak pula calon tunas anakan akan muncul, saya hitung ada 2 atau 3 tunas anakan akan muncul.


Padi dalam pot ember bekas ini saya rawat dengan seksama, tanah dibolak-balik secara perlahan, jangan sampai mengenai akar. Kemudian tiap 3 hari, tanah disiram MOL yang encer sekali. Kalau ada rumput liar, dicabut saja.


Menurut pendapat ahli padi organik SRI, dikatakan padi bukan tanaman air, tetapi suka akan air. Menanam padi yang benar dikatakan sawahnya tidak perlu direndam air. Cukup becek-becek saja.

Silahkan mencoba menanam padi dalam pot, siapa tahu hasilnya mengejutkan, melebihi hasil panenan orang lain.

2 comments:

omyosa said...

MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA DATANG PANEN
Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia. NPK yang terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita.
Produk ini dikenalkan oleh pemerintah saat itu sejak tahun 1969 karena berdasarkan penelitin bahwa tanah kita yang sangat subur ini ternyata kekurangan unsur hara makro (NPK). Setelah +/- 5 tahun dikenalkan dan terlihat peningkatan hasilnya, maka barulah para petani mengikuti cara tanam yang dianjurkan pemerintah tersebut. Produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1985-an pada saat Indonesia swasembada pangan. Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia.
Mereka para petani juga lupa, bahwa penggunaan pupuk dan pengendali hama kimia yang tidak terkendali, sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
System of Rice Intensification (SRI) yang sedang digencarkan oleh SBY adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas hasil juga lebih baik, belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam budidayanya.
Petani kita karena sudah terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.
Atau mungkin solusi yang lebih praktis ini dapat diterima oleh para petani kita; yaitu “BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK NASA”. Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki oleh pola SRI, tetapi cara pengolahan lahan/tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.
Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI, SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
omyosa,
papa_260001527@yahoo.co.id

arfianto said...

maaf, setidaknya kita tidak jikalau benar-benar memberdayakan petani mandiri, tanpa embel2 produk sepe4rti NASA