Thursday, February 7, 2008

TANAM PADI DALAM POT

Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 08 Februari 2008
Foto: Sobirin, 2008, Padi Dalam Pot Umur 2 Minggu

Oleh: Sobirin
Menanam padi dalam pot atau ember bekas telah dicoba oleh banyak orang. Kebanyakan penasaran, bisakah? Tahun 2006 saya melakukannya dengan kompos dan MOL. Hasilnya bagus sekali. Karena banyak yang menanyakan, saya sedang mencoba lagi.




Lihat artikel dalam blog ini ”Rumah Tanpa Sampah”, 16 Mei 2007, ulasan wartawan Kompas Yenti Aprianti tentang rumah saya yang zero waste dan ketika coba-coba tanam padi dalam pot. Hasil padi dalam pot sangat menggembirakan.

Banyak yang menanyakan dan ingin melihat sendiri tanaman padi dalam pot yang saya lakukan. Tanaman lama telah dipanen, maka saya menanam lagi yang baru. Dulu saya menggunakan ”MOL dapur”, sekarang saya mencoba dengan ”MOL peuyeum”. Foto di atas adalah tanaman padi pot saya yang baru, umur 2 minggu, lihat tanggal-tanggalnya.


Padi dalam pot? Padi SRI? System of Rice Intensification model pot? Bagaimana cara yang saya lakukan? Barangkali ada pembaca yang ingin mencobanya. Konsepnya adalah: tanah ditambah kompos ditambah MOL adala
h “bioreaktor”, yaitu tanah yang mandiri memberikan “nutrisi” kepada tanaman. Sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida kimia.

Begini cara
yang saya lakukan:

Pertama, pilih benih padi yang bagus, jenisnya terserah, bisa Sintanur atau apa saja. Cara memilih benih yang bagus secara praktis yaitu dengan memasukan benih kedalam gelas berisi air garam (garamnya secukupnya saja). Benih yang mengapung adalah benih yang kurang baik, sedangkan benih yang tenggelam adalah benih yang baik.


Kedua, rendam dulu benih-benih tersebut dalam air tawar barang 1 (satu) hari, untuk melunakkan kulit biji benih.


Ketiga, cari wadah, bisa besek bambu atau pipiti. Masukan tanah campur kompos (buatan sendiri) ke dalam besek tadi. Tanahnya 1 bagian, komposnya 2 bagian, aduk sampai rata, basahi dengan MOL yang telah diencerkan. MOL-nya 1 bagian, airnya 15 bagian.


Keempat, tebarkan benih-benih yang telah direndam tersebut ke permukaan tanah kompos dalam besek. Biarkan benih-benih ini tumbuh. Hari kedua dan ketiga nampak akar kecambah mulai muncul, warnanya putih. Hari keenam dan ketujuh mulai tumbuh menjadi bibit padi dengan daun 2 lembar kecil-kecil.


Kelima, siapkan ember bekas atau pot ukuran besar. Isikan penuh kedalam pot ini campuran tanah dan kompos, siram dengan MOL seperti langkah ketiga. Cukup becek-becek kering, atau macak-macak. Jangan basah dengan air menggenang.

Keenam, pada hari kedelapan, pilih salah satu bibit terbaik (satu saja!), ambil hati-hati dengan pinset supaya akar-akarnya tidak potong, lalu pindahkan ke pot yang telah kita siapkan. Cara menanam bibit dalam pot ini tidak ditanam “dalam-dalam” ke dalam tanahnya, tetapi cukup ditaruh dipermukaannya saja dengan hati-hati. Sisa bibit yang lain dalam besek bisa ditanam dalam pot-pot lain.


Ketujuh, tiap hari dirawat. Bila ada rumput liar harus dicabut. Tiap 3 hari siram dengan MOL yang telah diencerkan, jangan terlalu becek. Tanah diaduk pelan-pelan agar udara bisa masuk. Hati-hati bila mengaduk tanah, jaga jangan sampai alat aduk mengenai akar padi muda ini.


Kedelapan, dan seterusnya, lakukan perawatan dengan cara yang sama. Bila cara perawatan benar, maka bibit padi yang asalnya hanya satu, telah beranak pinak menjadi sekitar 100 (seratus) batang padi yang masing-masing penuh dengan bulir padi. Dalam waktu 3-4 bulan bulir-bulir padi bisa dipanen (tergantung dari jenis padinya).


Berapa hasilnya? Ketika saya panen padi dalam pot pada tahun 2006 yang lalu, saya coba timbang. Hasilnya dalam 1 pot mencapai 1 ons (tradisional), atau 0,1 kg, atau 100 gram padi kering panen atau gabah kering panen (GKP).


Berapa kalau diekstrapolasi sampai seluas 1 hektar? Jarak tanam padi model SRI ini umumnya 30 cm. Jadi dalam 1 meter persegi kurang lebih sebanyak 10 batang padi yang ditanam satu-satu, bukan serumpun-serumpun. Luas 1 hektar sawah sama dengan 10.000 meter persegi, jadi jumlah padinya sama dengan 100.000 batang. Total panen padi sama dengan 100 gram dikalikan 100.000 batang padi, sama dengan 10.000.000 gram atau 10.000 kg atau 10 ton gabah kering panen (GKP), atau sekitar 7,5 ton gabah kering giling (GKG), atau 5 ton beras organik yang sehat karena tanpa pupuk kimia.

Itu sekedar coba-coba, apalagi bila serius dan oleh ahlinya, dipastikan panennya akan lebih dari 10 ton GKP per hektar. Selamat mencoba dengan kompos dan MOL buatan sendiri.

15 comments:

gumilang said...

ass.
yth pak sobirin
salam kenal, saya gugum dari bogor.. sangat tertarik atas artikel-artikel bapak terutama pengolahan sampah menjadi kompos dan mol serta artikel bapak mengenai padi dalam pot, dan saya ingin belajar lebih jauh hal-hal diatas. bila bapak berkenan saya ingin bermain dan belajar kerumah/tempat bapak. besar harapan saya bapak membalas posting saya dan memberi tahu alamat bapak..
sekian surat dari saya, mohon maaf bila kata-kata saya ada yang tidak berkenan dihati bapak. terimakasih. wasalam.

Papi James said...

Assalamu'alaikum
yang saya hormati
Bpk.Sobirin
Nama saya Nurzaman.Tinggal di Jakarta.Saya pernah mendengar tentang menanam padi organik dan saya sangat tertarik apalagi Setelah melihat Artikel Bapak yaitu cara menanam padi di dalam pot.Namun yang jadi kendala bagi saya orang awam adalah Dimana bisa membeli bibit padi nya? mohon balasan terima kasih.

Just For Music said...

mbak/mas hehehe... blognya pasangi iklan biar dapat duit aku liat di search engine blog saudara lumayan teratas , ni link program bisnis yang menyediakan iklan dan kita dapat bayaran
www.kumpulblogger.com

inovaldi said...

ada nutrisi lain yang diberikan untuk padi di pot

Wahyu Handoko said...

Saya senang mendapatkan artikel ini, saya baru saja mendengar SRI di pameran Indonesia Japan 2008. Dan saya tertarik, semoga ilmu2 spt ini dapat tersebar ke para petani di Indonesia. Kita bisa maju dan mendapatkan makanan yang sehat alami.

joko_jawa said...

wah terimakasih atas info bertanam tampa sawahnya. saya jadi tertarik untuk mencobanya. makasih ngihhh.

Aulia said...

ass.
yth, bapak sobirin
nama saya Aulia, saya guru di SMKN 21 jakarta, saya sangat tertarik dan sudah mencoba, tapi banyak sekali kendalanya
1. padi yang saya tanam ada yang sudah tumbuh ada yang belum.
2. saya sudah membuat mol dari tape yang saya mau tanyakan mol tersebut bentuknya seperti apa kalau sudah jadi?
terimakasih atas saran bapak, semoga pertanyaan saya dapat bapak balas

anton said...

Kemarin saya lihat padi dalam pot saya sudah hilang dicabut orang. Maklum saja ditanam diluar pekarangan. Padi tersebut tumbuh sendiri tanpa perawatan, nahnya diberikan air sekitar 3 kali sehari. Selanjutnya kering alias tidak terendam air seperti di sawah.

Beruntung beberapa bulir sudah saya ambil unutk dibibitkan kembali.

Dengan pengalaman ini saya yakin kalau satu keluarga kecil dengan luas pekarangan/atap (ruko) sekitar 200 m2 dapat menikmati beras organik tanpa perlu membelinya.

DEAL'S said...

asskum...pak sobirin sya mahasiswa pertnian unpad tgkat akhir, sya tertarik meneliti ttg padi SRI dlm pot sperti yg bpak lakukan..
aplg lhan swah skrg ni bnyk yg beralih fungsi..
kl boleh sya mau tau lbh lanjut sya dtang k tmpat bpak..

gtwidodo said...

Salam kenal Pak Sobirin

Terima kasih artikel tanam padi dalam potnya yang sangat menarik mdh2an bisa menginspirasikan untuk banyak orang agar ikut menanam padi dalam pot. Saya menunggu artikelnya yang lain lagi terima kasih dan selamat berkarya semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat dan hidayahnya pada Pak Sobirin sekeluarga amin.

omyosa said...

MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA DATANG PANEN
Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia.
NPK yang antara lain terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita.
Produk ini dikenalkan oleh pemerintah saat itu sejak tahun 1969 karena berdasarkan penelitin bahwa tanah kita yang sangat subur ini ternyata kekurangan unsur hara makro (NPK).
Setelah +/- 5 tahun dikenalkan dan terlihat peningkatan hasilnya, maka barulah para petani mengikuti cara tanam yang dianjurkan pemerintah tersebut.
Produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1985-1990-an pada saat Indonesia mencapai swasembada beras.
Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia.
Mereka para petani juga lupa, bahwa penggunaan pupuk dan pengendali hama kimia yang tidak terkendali, sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
Data statistik menunjukkan bahwa sejak swasembada beras 1985-1990-an hingga sekarang, ternyata produktifitas sawah-sawah kita mengalami penurunan produksi yang sangat significan, sejalan dengan menurunnya kualitas tanah sawah2 kita.
Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
System of Rice Intensification (SRI) yang telah dicanangkan oleh SBY sejak tahun 2005 adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas hasil juga lebih baik.
Tetapi sampai kini masih juga belum mendapat respon positif dari para petani kita.
Petani kita beranggapan bahwa walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam proses budidayanya.
Selain itu petani kita karena sudah terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dan serba instan dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, dan umumnya sangat berat menerima metoda SRI ini.
Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.
Atau mungkin solusi yang lebih praktis ini dapat diterima oleh para petani kita, yaitu:
BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK LENGKAP “AVRON” + EFFECTIVE MICROORGANISME 16 + ( EM16+ )
Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki pada pola SRI, tetapi cara pengolahan lahan/tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.
Karena AVRON merupakan pupuk organik lengkap yang memenuhi kebutuhan unsur hara makro dan mikro tanah yang penggunaannya sangat mudah,
Sedangkan EM16+ merupakan cairan bakteri fermentasi generasi terakhir dari effective microorganism yang sudah sangat dikenal sebagai alat composer terbaik yang mampu mempercepat proses pengomposan dan mampu menyuburkan tanaman dan meremajakan tanah.
Dan yang paling penting adalah relative lebih murah.
Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI!!!!
SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
Terimakasih,
omyosa@gmail.com
081310104072

nunu said...

MOL itu apa yah?

nunu said...

sekalian cara pembuatan MOL?

wardah said...

menarik sekali pak.
yang menjadi pertanyaan saya adalah bagai mana perawatan ketika panen dan pasca panen, mengingat memakai media polybag apakah tanah da kompos dalam media harus dibuang atau bisa digunakan kembali
mohon uraiannya

legy y said...

Terima kasih,