Monday, February 25, 2008

KOMPOSTER ANAEROB DI RUMAH NUGROHO ADHI

http://alonrider.wordpress.com, 25 Februari 2008
Foto: Nugroho Adhi 2008, Komposter Anaerob Rumah Nugroho Adhi

Teman saya Nugroho Adhi menyampaikan pengalamannya dalam berkompos anaerob. Untuk tukar pengalaman silahkan baca KOMPOSTER ANAEROB, Oleh: NUGROHO ADHI berikut ini, atau bisa langsung di http://alonrider.wordpress.com



KOMPOSTER ANAEROB
Oleh NUGROHO ADHI

sopogondrong@yahoo.com


Keselamatan diri sendiri tentu akan lebih afdol bila menyertakan keselamatan lingkungan di sekitarnya. Lebih dari setahun lalu, saya berusaha keras membiasakan diri (dan keluarga) memisahkan sampah organik dan organik.

Kebetulan pada akhir 2006 saya bertemu dengan staff Unilever yang menangani persoalan lingkungan, di kantornya, Gatot Subroto, Jakarta Selatan.


Dari situ saya mendapat ilmu pengkomposan melalui komposter aerob dan an-aerob. Komposter aerob ala Unilever Peduli (UPI) saya kurang tertarik, karena proses pembuatannya agak rumit, dan cenderung mahal. Belum lagi biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan dasarnya lumayan mahal, gak cocok untuk orang kampung seperti saya ini...hehehe..


Saya pilih model komposter anaerob, karena gak terlalu rumit, dan ringan di ongkos. Lagi pula komposter jenis ini PEMAKAN SEGALA sampah organik. Dari nasi basi, roti, bekas sayur, kulit telur (diremuk dulu), sisa ikan, dan lain-lain. Pokoknya sampah organik yang mengandung protein, dan bakal menimbulkan bau busuk dalam proses penguraiannya.


Sebenarnya bisa saja langsung digali di tanah (seperti cara Pak Sobirin yang baru belakangan saya nemu situsnya di http//:clearwaste.blogspot.com. Karena halaman saya kecil, saya pilih pakai tong plastik yang mudah dipindah bila diperlukan. Tong juga praktis, karena ada tutupnya.


Untuk komposter Aerob (sampah organik segar), saya pakai model karung ala Pak Sobirin. Karena murah meriah. Apalagi MOL-nya bikinan sendiri, dari bahan dasar tapai singkong (peuyeum, gula pasir/gula merah, dan air).

Ini cara membuat tong komposter Anaerob :

Pertama: Pipa PVC diameter 1,5 inchi, ukuran 1 meter, dibagi 4 @ 25 cm. Pipa ini fungsinya sebagai "pernafasan" melalui tanah, karena proses kompsonya tak perlu udara (an-aerob). Pipa dibolongin pakai bor atau solder. Lalu salah satu ujungnya ditutup dop. Pipa dibungkus kawat nyamuk (plastik) dan di lem.

Kedua: Tong plastik ukuran sedang (sesuai keinginan). Harganya (di tempat saya, Cibinong) sekitar Rp 30 ribu. badan tong dan pantat (dasar) dilobangi pakai bor ukuran 10. Lebih banyak semakin bagus.


Ketiga: Setelah dirakit, tong ditimbun ditanah. Sebelumnya masukan dulu kerikil secukupnya, diikuti pasir, dan ijuk.


Keempat: Timbun sampai penuh, hanya bagian tutupnya yang nampak. Ratakan dan tanami rumput di sekitarnya. Komposter siap digunakan.


Di rumah saya ada 3 komposter semacam ini, 2 tong ukuran sama, dan 1 tong lebih besar. Dua tong itu sudah penuh dalam waktu setahun, dan sekarang sedang dalam proses kompos. Kenapa penuh? Karena dulu semua sampah organik saya masukan ke tong-tong itu. Lagi pula saya malas mencacahnya kecil-kecil.

Setelah dapat ilmu baru dari Pak Sobirin, kini sampah organiknya saya pilah-pilah lagi. Yang segar saya masukin komposter karung dan MOL, yang sisa makanan saya masukin komposter an-aerob.


Kembali ke komposter anaerob

Tong kecil pertama, pernah saya panen akhir 2007 lalu. Dari awal kira-kira butuh waktu 10 bulanan untuk bisa dipanen. Setelah dipanen, dijemur dulu, agar tidak terlalu basah. Panenan pertama itu belum saya pakai sendiri, tapi saya berikan tetangga yang mau memupuk tanamannya.


Sebelum lupa, bila berniat menggunakan komposter jenis ini, Anda harus siap lahir batin.

Pertama,
ada ratusan belatung di dalamnya selama proses pembusukan. Ukurannya cukup membuat Anda geli. Tapi karena saya sudah berniat dan terbiasa, hal itu bukan hal yang menjijikan lagi. Bahkan ada warga kampung sekitar kompleks yang memintanya untuk dijadikan umpan memancing. Dia bisa cari belatung di tumpukan sampah. Ini belatung saya lebih "bersih", hihihihi....


Kedua, bau? Tentu saja, karena prosesnya khan mirip dengan septic tank rumah kita. Coba kalau septic tank dibuka bagaimana baunya? jangan khawatir baunya masih "normal" kok, tidak sebusuk septic tank. Ya agak-agak mirip comberan gitulah.

Lagi pula membukanya hanya sebentar, ketika Anda memasukkan sampah organik basi ke dalamnya. Habis itu tutup lagi. Beres.
Untuk jenis sampah organik basi, seperti yang saya sebutkan di awal tulisan, komposter jenis ini sangat berguna.

Saya suka jenis ini karena POWERFULL mengolah sampah organik basi yang sangat mengganggu lingkungan sekitar kita bila dibiarkan ngendon di tempat sampah konvensional.
Bagaimana? Tertarik?

NUGROHO ADHI
sopogondrong@yahoo.com
Blog : http://alonrider.wordpress.com

4 comments:

Alessandra said...

Pak Sob,

Saya ingin membuat komposter anaerob di rumah, hanya saja di rumah sudah tidak ada lagi halaman. Saya baca jawaban bapak u/ ibu christine & saya tertarik. Tp saya masih ada beberapa pertanyaan :
1. Bagaimana cara membuat MOL & apakah MOL hanya digunakan pd komposter aerob saja? (saya baca di blognya bpk Adhi bahan2nya tapai singkong, gula merah/gula pasir & air, itu semua dicampur begitu saja ya pak ? )

2. Apa saja yg harus dimasukan ke dalam tong & bagaimana urutannya ? (karena saya tidak ada halaman, tentunya saya tidak bisa menanam tongnya di tanah/membuat komposter tanah spt punya bapak. Apakah tanah,pasir,kerikil atau bagaimana ?)

3. Setelah memasukan sampah organik apakah kita perlu memasukan tanah kembali diatasnya ?

Ditunggu jawabannya ya pak...terima kasih banyak :D

-Vida-

LingkunganHidup said...

waaaah asyik juga ya kelola sampah rumah. malah dapet kompos buat tanaman.

Wildan Maulana said...

Panen 10 bulan ... ? lama sekali ... :(

MUSLIKHIN KUSMA said...

Saya juga mengelola sampah dengan sistem tong, tapi tidak bau dan tidak ada belatungnya sama sekali sudah lebih dari 15 tahun, hewannya hanya cacing mrah kurus-kurus.

Tekniknya adalah setiap kita membuang sampah organik dalam tong tersebut, maka kita tutup dengan kompos yang sudah jadi begitu juga, lapisan paling bawah juga dilapisi kompos baru ditumpuki sampah, dan kemudian diberi kompos yang sudah jadi lagi. Tidak lami pasti sudah jadi kompos semua, dalam rumah tangga, 6 orang paling tidak dibutuhkan 5 galon cat 25 kg.

selamat mencoba,

Cak Mus